Saat Tepat untuk Menyapih
Image by : Dokumentasi Ayahbunda
Menentukan kapan anak perlu disapih, terkadang bukan keputusan mudah. Walau memang sudah masanya, terkadang justru
bunda belum siap untuk menyapih. Berikut yang perlu kita perhatikan
1. Ibu ingin menyapih, anak belum siap. Alasan ibu ingin menyapih, karena tidak menikmati kegiatan menyusui, kelelahan atau sibuk bekerja.
Saran ahli:
- Jika anak masih di rentang usia menyusui, pikirkan kembali apakah ia perlu disapih? Bila alasannya tidak mendesak, tunda dulu niat menyapih.
- Bila kurang menikmati kegiatan menyusui, atasi pencetus masalahnya. Semisal, bila puting ibu sakit, atasi dengan cara menyusui yang benar.
Bila menyusui terasa membosankan, ubah jadi menyenangkan sambil mendengarkan musik
2. Anak ingin disapih, ibu belum siap. Anak tidak tertarik lagi minum ASI dari payudara dan ingin minum dari cangkir. Padahal ibu masih ingin menyusui dan ASI banyak.
Saran ahli:
- Tunda penyapihan dengan menciptakan suasana menyusui yang tenang, jauh dari rangsangan yang bisa membuyarkan konsentrasi anak
- Jika anak sudah bisa diajak komunikasi, beri pengertian manfaat ASI dengan bahasa yang sederhana
- Bila anak ingin tetap disapih, berpikir positif dan jangan sedih atau kecewa karena bisa mengganggu kerja hormon prolaktin dan oksitosin sehingga bisa menghambat produksi ASI.
- Karena inisiatif datang dari anak, biasanya proses menyapih menjadi lebih mudah. Tetap berikan ASI, namun melalui cangkir
3. Ibu dan anak sama-sama tidak siap. Anjuran menyapih dari pihak luar, bukan kehendak ibu ataupun anak. Misalnya, lingkungan menganggap anak sudah besar sehingga perlu disapih.
Saran ahli:
- Pemberian ASI dianjurkan hingga anak usia 2 tahun. Tapi jika ibu dan anak masih nyaman, boleh terus dilanjutkan. Kekurangannya, anak bisa menjadi manja, kurang mandiri, tergantung pada ibu dan jadi bahan ejekan.
- Pada kasus ibuhamil lagi, keputusan menyapih atau tidak tergantung pada kesehatan kandungan
4. Penyapihan sementara. Bisa dialami
bunda yang mendapat tugas sehingga harus meninggalkan anak. Atau
bunda harus minum obat sehingga ASI "tercemar" dan tidak boleh diminumkan bayi
Saran ahli:
- Bila bepergian lama, lakukan penyapihan sementara, setelah itu relaktasi. Selama bunda pergi anak minum ASI dari cangkir. Begitu bunda kembali, anak menyusu lagi dari payudara.
- Jika menjalani pengobatan, ASI tetap diperah namun dibuang hanya untuk menjaga produksinya. Setelah pengobatan selesai, lakukan relaktasi.