Atasi Balita Penakut

 

Ketakutannya terhadap beberapa hal mencerminkan kematangan kognitif si 3 tahun. Dalam salah satu bab Baby & Child Care – 8 edition, yang ditulis ahli perkembangan anak, dr. Benjamin Spock, terdapat dua faktor penting yang memengaruhi pembentukan rasa takut pada balita, yaitu tingkat kematangan emosi dan kemampuan kognitif untuk memprediksi. Semakin matang emosi dan semakin baik kemampuan prediksi, maka semakin kecil rasa takut anak. Pada saat yang bersamaan, kemampuan anak berimajinasi juga berkembang sangat baik pada usia ini. Akibatnya, tanpa bisa dicegah anak dapat menghubungkan hal-hal nyata yang dilihatnya dengan imajinasi yang muncul dari benaknya. Berikut beberapa ketakutan si 3 tahun beserta cara mengatasinya:

- Takut Air
Bila ditelusuri, munculnya rasa takut air pada balita sebagian besar bermula dari kejadian tak menyenangkan yang berhubungan dengan air. Misalnya, saat dimandikan di bak mandi, anak terlepas dari tangan Anda dan sempat terbenam di dasar bak mandi, meski airnya dangkal.

 Atasi dengan Identifikasi dulu penyebab si 3 tahun takut air. Lalu modifikasi pengalaman tak menyenangkan anak terhadap air dengan teknik asosiasi. Caranya, ketika anak akan mandi, gunakan air yang tidak terlalu dingin atau pun panas. Basahi tubuh anak sedikit demi sedikit. Ketika berenang, ajak anak duduk di pinggir kolam terlebih dulu, kemudian minta ia memasukkan kakinya ke dalam kolam sebelum kemudian dituntun masuk ke dalam kolam kecil. Jika anak masih menolak, jangan paksa segera “bersahabat” dengan air. Ceritakanlah pengalaman mengasyikkan Anda sewaktu kecil yang melibatkan air.

- Takut Ketinggian
Balita Anda yang dahulu pemberani, kini berubah menjadi takut dengan ketinggian. Wajar, karena seiring bertambahnya usia, balita akan memiliki perkembangan emosi yang signifikan, ia mulai mengenal rasa takut. Logika berpikir dan pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat si 3 tahun juga semakin berkembang. Ia mulai memahami konsep ‘sesuatu bisa jatuh dari ketinggian atau dari atas ke bawah’. Atau ia mengalami pengalaman buruk yang berkiatan dengan ketinggian, misalnya pernah jatuh di tangga.

Atasi dengan Jangan paksa anak untuk naik lebih tinggi, sebaliknya biarkan ia memutuskan sendiri di ketinggian seperti apa  ia merasa nyaman. Ajak ia berulang-ulang mencapai ketinggian yang diputuskannya itu. Setelah ia terbiasa, maka ia akan mencoba lebih tinggi lagi. Ajak bermain pura-pura sebagai penerjun payung atau pilot pesawat terbang. Hal ini bermanfaat untuk mengalihkan kecemasannya pada hal-hal seru yang dapat ditemuinya saat berada di ketinggian.

- Takut Gelap
Sebagian besar balita takut berada di dalam kegelapan karena baginya banyak hal tak terduga bisa terjadi. Saat berada di dalam gelap, si 3 tahun pun tiba-tiba membayangkan sesosok monster yang siap menyergapnya. Balita Anda belum dapat membedakan antara realita dan fantasi. Atau bisa jadi si kecil trauma akibat pernah mengalami mati listrik ketika tengah sendirian di kamar atau ruang bermainnya.

Atasi dengan Sikapi rasa takutnya dengan empati dan gali sumber ketakutannya. Kalau akibat ia tak sengaja menonton film horror, jelaskan bahwa yang dilihatnya bukan sesuatu yang nyata dan tidak akan ada monster yang akan menyerangnya. Katakan pada anak, meski kurang nyaman, dalam gelap ada banyak aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan. Ciptakan rasa aman, misalnya dengan membekalinya senter kecil, sewaktu-waktu terjadi mati listrik.

- Takut Suara
Suara yang mengejutkan dan tidak terduga seperti petir atau bunyi mesin yang keras seperti penghisap debu atau blender, menakutkan bagi balita. Namun meski ia takut, seringkali dia juga penasaran, ingin tahu sebenarnya benda yang ditakutinya itu apa, sih?

Atasi dengan Biarkan ia melihat dan mengobservasi dari dekat benda yang suaranya "menakutkan" itu, tapi pastikan mesinnya dalam keadaan mati, tidak teraliri listrik dan dalam pengawasan Anda. Ajak balita untuk mencoba menyentuhnya. Beritahu anak jika Anda ingin menyalakan alat-alat tersebut. Begitu juga saat Anda melihat kilat, katakan kepada anak bahwa sebentar lagi akan ada suara petir yang keras. Anak biasanya lebih bisa mengatasi ketakutannya jika dia bisa belajar memprediksi kapan hal yang menakutkan itu akan terjadi.

- Takut Hewan
Hampir semua anak pernah didera rasa takut pada hewan seperti ular, ayam, bebek, kecoa, termasuk hewan peliharaan keluarga seperti anjing dan kucing yang tergolong jinak. Penyebab munculnya rasa takut si kecil terhadap binatang pun beragam, di antaranya akibat ia pernah diserang atau dikejar oleh hewan tersebut. Atau ia merasa kaget dan geli saat menyentuh bulu atau kulit hewan-hewan tersebut.

Atasi dengan Tidak memaksa anak mendekati hewan apalagi sampai menyentuhnya. Biarkan ia melihat dan menyentuh hewan atas kemauannya sendiri. Ajak  ia menonton film tentang hewan, terutama yang menampilkan interaksi dengan manusia. Ajarkan pula anak untuk berinteraksi bersama hewan peliharaan dengan cara yang aman, yaitu dengan tidak memukul, menarik ekor atau mengganggu hewan yang sedang makan atau tidur.



 



Artikel Rekomendasi