Penyebab Anak Hiperaktivitas

Penyebab Anak Hiperaktivitas Ayahbunda.co.id
Image by : Dokumentasi Ayahbunda
Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli di berbagai pelosok dunia untuk menyingkap penyebab pasti gangguan Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas (GPPH). Apa penyebabnya?

Bahkan, para ahli telah menggunakan peralatan paling mutakhir untuk melakukan pencitraan otak. Misalnya, Positron Emission Tomography (PET), Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT), serta Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Akhirnya, barulah diketahui memang ada yang salah pada otak anak ADHD. Kelainan pada otak ini bisa terjadi di bagian depan otak, namun bisa pula terjadi pada senyawa kimia penghantar rangsang atau neurotransmitter. Khususnya, dari jenis dopamin dan norepinefrin,  jelas dr. Dwijo. Otak anak penderita ADHD, khususnya otak kanan, memiliki ukuran yang lebih kecil, tambah dr. Dwijo.

Minum obat atau tidak?
Sebenarnya, penanganan penderita ADHD bisa dilakukan dengan beberapa cara. Hanya saja, karena biang keladi dari gangguan ini adalah otak, mau tidak mau penanganannya ya dimulai dari otak.

Menurut, dr. Dwijo, yang juga Koordinator Pelatihan Psikiatri di RS Graha Medika, Jakarta, ;Khusus penderita ADHD yang masih berusia di bawah lima tahun, biasanya ia diterapi perilaku dulu. Bentuk terapinya bisa berbeda-beda, karena sifatnya benar-benar case by case. Terapi ini bisa juga dilakukan oleh orang tua. Tentunya, setelah orang tua mendapat bimbingan dari psikiater anak. Bila terapi ini tidak membuahkan hasil, barulah obat diberikan.

Penderita autis dengan spektrum ADHD, anak harus menjalani dua macam terapi. Pertama, ABA (Applied Behavioral Analysis), yaitu terapi yang meminta dia mengikuti semua aturan yang diberikan. Dalam setiap aturan, ada punishment dan reward. Kedua, SI (Sensory Integration), yakni terapi untuk merangsang impuls sensorinya, sehingga dia dapat mengkoordinasikan gerakan otot tubuh sesuai perintah dari otak.

Obat, biasanya, diberikan belakangan karena hingga kini terapi obat masih banyak menimbulkan kontroversi di kalangan ahli. Apakah pemberian obat tidak akan menyebabkan ketergantungan nantinya? Memang dosis obat tergantung pada seberapa salah otak si penderita ADHD. Dan, tidak tertutup kemungkinan, ia akan terus minum obat sampai dewasa. Meski begitu, biasanya dokter sudah memperhitungkan secara akurat dosis obat yang sesuai bagi pasiennya.


Komentar

200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti kami telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
 
Kirim ke Teman
Nama
Email

Pesan
200 karakter tersedia
* Jika Anda telah login, maka email akan terkirim dengan nama Anda

>  5 Tanda Autistik   88454   
>  Dana Pribadi Ibu Bekerja   29686   
>  Mengasuh Anak Autis   21344   
>  Kriteria Pengasuh yang Baik   17759