Bayi Berhenti Bernapas

 

Aksi bayi berhenti bernapas memang membuat kita ngeri. Namun, jangan langsung panik. Bayi baru lahir memang suka jeda sebentar dari bernapas, dan kemudian bernapas lagi secara normal. Namanya, periodic breathing atau napas periodik.

Hanya sampai 2 bulan. Tak perlu khawatir melihat bayi Anda tiba-tiba berhenti bernapas, jika:
•    Jeda bernapasnya kurang atau maksilam sampai 10 detik.
•    Tidak ada perubahan irama jantung (detak jantung tidak menjadi lambat).
•    Tidak ada penurunan konsentrasi oksigen yang ditandai dengan bibir dan lidah bayi tampak kebiruan.

Proses fisiologis. Napas periodik ini adalah bagian dari proses fisiologis bayi baru lahir. Karena, reseptor yang mendeteksi kadar karbondioksida dan oksigen serta pusat pengontrol pernapasan di otak bayi belum berkembang sceara optimal. Kondisi ini bisanya terjadi sampai bayi berusia 2 bulan. Tak ada hal khusus yang perlu Anda lakukan untuk menangani napas periodik ini. Yang penting, ingat 3 hal di atas. Jika tidak ada gejala-gejala itu, ya tenang-tenang saja.

Waspada apnea. Jangan bersikap tenang-tenag lagi kalau balita menunjukkan gejal apnea atau berhenti bernapas dengan gejala:
•    Berhenti bernapas lebih dari 20 detik.
•    Detak jantung melambat dan bayi selalu mengantuk.
•    Wajahnya kebiruan karena kekuranan oksigen.

Penting diingat, kasus apnea biasanya terjadi pada bayi prematur (namun bukan berarti setiap bayi premature pasti apnea), terutama jika dipicu oleh faktir-faktor berikut:
•    Anemia (kurang darah)
•    Ada kelainan di otak akibat infekso, pendarahan, dna lain-lain.
•    Ada kelainan jantung.

Jika bayi Anda mengalami apnea, segera bawa ke dokter. Biasanya, bayi akan dirawat di NICU (Neo Intensive Care Unit) untuk diberikan oksigen kadar 21% serta pemberian obat-obatan.
 

 



Artikel Rekomendasi