Memilih Posisi Melahirkan

 

Melahirkan dengan nyaman ternyata  tergantung pada posisi. Temukan Yang Pas!

Anda bisa mencoba posisi-posisi melahirkan berikut ini untuk membuat Anda nyaman, namun konsultasikan dengan dokter atau bidan yang akan membantu persalinan Anda, terutama bila kehamilan berisiko.  Berlatihlah terlebih dahulu berbagai posisi ini sebelum tiba hari ‘H’.

Posisi berdiri atau setengah jongkok.
Caranya: Untuk mempercepat proses pembukaan, disarankan berjalan-jalan sebelum masuk ruang bersalin. Ini juga merangsang janin turun ke rongga panggul. Jika sudah merasa waktunya tiba, masuklah ke ruang bersalin. Berpeganglah pada tiang, dinding, kursi atau bertumpu pada tangan suami. Lebarkan kaki sedikit untuk memberi jalan bayi . Dalam prakteknya Anda bisa setengah jongkok sambil mengejan. Dokter atau bidan harus sudah siap dengan posisi berlutut atau berjongkok untuk menangkap bayi.
Keuntungan: Posisi ini bisa mengurangi rasa tidak nyaman melahirkan. Proses lebih mudah karena dibantu oleh gravitasi yang memungkinkan tulang panggul terbuka dan bayi turun melewati jalan lahir. Ibu juga jadi bisa lebih konstrasi dan tenaga yang dikeluarkan jadi terarah sepenuhnya ke bawah.
Kekurangan: Dokter atau bidan agak kesulitan bila harus memantau perkembangan pembukaan jalan lahir dan melakukan episiotomi–pengguntingan mulut rahim untuk memperlebar jalan lahir.

Posisi jongkok
Caranya: Saat mulut rahim terbuka dan masuk fase pembukaan, ibu bersiap dalam posisi jongkok. Dengan begitu bagian pinggul secara otomatis dimiringkan. Kekuatan berat dari bayi akan menekan ke bawah. Dalam posisi jongkok, ibu harus didukung posisi tubuhnya dari belakang, mulai dari bagian pundak. Bidan berlutut di lantai untuk menangkap tubuh bayi yang lahir. 
Keuntungan: Saat mengejan, ibu seringkali tidak tahu kemana tenaganya harus disalurkan. Pada posisi tegak lurus, tekanan dari bayi memberi arah ke bawah secara otomatis sehingga mempercepat proses kelahiran. Memudahkan ibu bernafas dan konsentrasi. Peran ayah sangat dibutuhkan tidak hanya sekadar memberi semangat namun membantu sebagai sandaran tubuh ibu dari belakang.
Kekurangan: Posisi ini membebani bagian lutut dan punggung. Untuk mengurangi beban pada lutut dan punggung, Anda bisa bersandar pada suami.  Bagi dokter dan bidan, posisi  ini menyulitkan mereka memeriksa vagina dan jalan lahir.
 
Posisi empat kaki
Caranya: Ibu  berlutut dan tangan menyentuh lantai secara tegak lurus untuk menopang tubuh. Sehingga berat tubuh terbagi dua sama rata antara kaki dan tangan. Posisi ini tidak harus dilakukan di atas lantai, tapi dapat juga dilakukan di atas tempat tidur.
Keuntungan: Ibu punya banyak peluang untuk menggerakkan pinggulnya dibandingkan dengan posisi duduk atau berbaring. Sehingga pinggul bebas melakukan gerakan berputar atau miring. Dengan begitu bayi terbantu mencari jalan lahir. Posisi empat kaki ini baik, untuk janin berukuran besar. Ibu bisa terhindar dari sakit bagian punggung dan bisa mengurangi risiko episiotomi.
Kekurangan: Detak jantung bayi tidak dapat diukur dengan baik. Ibu membutuhkan kekuatan yang lebih di tangan untuk menyangga tubuhnya. Jika tidak ia akan jatuh terkungrap.

Posisi berbaring
Caranya: Posisi ini paling sering digunakan untuk melahirkan. Alternatif lainnya dengan posisi miring ke kiri dan kaki kanan diangkat dan diganjal sehingga bisa menunjang bayi keluar. Jika memilih anestesi seperti epidural (ILA-Intrathecal Labor Analgesia), begitu mulai mati rasa dari pinggang ke bawah, Anda dapat berguling ke sebelah kiri dan meletakkan banyak bantal di antara dua kaki. Minta suami  mengangkat kaki kanan bila perlu.  
Keuntungan: Posisi ini memudahkan dokter atau bidan memeriksa kondisi bukaan jalan lahir. Mereka tidak perlu jongkok atau bungkukkan badan. Semua perangkat untuk membantu dan memantau persalinan dapat dengan mudah dipasangkan.
Kekurangan: Tekanansaat mengejan tidak sepenuhnya ke bawah. Otot-otot pinggul juga perlu diangkat sehingga malah mempersempit mulut rahim. Seringkali ibu  merasa sudah akan melahirkan, tapi ternyata belum. Mulut rahim menekan pembuluh darah cava yang memasok oksigen pada darah ibu dan bayi  sehingga bisa berisiko  perdarahan.

Posisi duduk di dalam air
Caranya: Duduk sedikit miring sambil bersandar di kolam oval berukuran besar dengan air setinggi dada bersuhu 37°C. Bayi dilahirkan dalam air. Refleks berenang bayi akan membuka saluran nafasnya. Meski begitu, bayi berisiko tertelan air sehingga dibutuhkan bantuan bidan atau dokter untuk mengangkat bayi langsung dari air. Metode ini harus memperhatikan riwayat kesehatan ibu hamil .   
Keuntungan: Ibu bisa merasa lebih santai dan bernafas dengan bebas sehingga bayi bisa mendapatkan cukup oksigen. Nyeri kontraksi berkurang dan proses persalinan lebih  efektif dan lancar.
Kekurangan: Bila terjadi komplikasi, cara ini kemungkinan minim reaksi, sehingga pertolongan bisa terlambat. Darah, urin, air ketuban dan feses  bisa masuk ke dalam air.  Melahirkan di dalam air tidak disarankan untuk ibu penderita jantung, tekanan darah tinggi, diabetes dan gangguan penglihatan. (me)

 



Artikel Rekomendasi