Cerita Ayah - Michael Tjandra dan Era Digital

 

Michael Tjandra, Reporter/Pembaca Berita TV, ayah dari Matthew James Tjandra (6 bulan)

Era digital tengah kita jalani saat ini. Siap atau tidak, semua berpacu denganperkembangan teknologi yang ada. Pilihannya, belajar dan beradaptasi atau gaptek dan ketinggalan zaman.

Ini mungkin yang mendasari anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan fleksibel dan penuh keragaman. Bagi saya, yang notabene orangtua baru, (karena putra saya baru berusia 6 bulan) saya pun harus menyesuaikan diri dengan perubahan agar saya tetap bisa sejalan saat berkomunikasi dengan anak saya. Namun, sefleksibel apapun saya, tetap ada nilai-nilai kehidupan yang masih ingin saya pertahankan dan turunkan ke buah hati saya.

Misalnya, meskipun mereka tumbuh besar di dunia yang serba instan, namun untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dan mencari solusi, saya ingin anak saya memiliki daya juang. Karena melalui proses pembelajaran dia tertantang berpikir kreatif. Saya percaya PROSES akan membawa dan membentuk buah hati kita kepada HASIL MAKSIMAL dalam kehidupan mereka di kemudian hari.

Lalu, bagaimana jika berbicara mengenai teknologi? Satu hal yang cukup gengges buat saya adalah saat melihat anak terlalu fokus bermain games. Bagi sebagian orangtua mungkin menyenangkan, karena anak duduk manis. Tapi bayangkan jika aktivitas itu dilakukan ada aturan yang jelas, bisa jadi ini akan menimbulkan dunia tersendiri bagi si anak, dan berdampak pada pola makannya, waktu istirahat, hingga tumbuh kembangnya, duh, seramnya. Maka bagi saya dan istri, sekadar jalan pagi berdua wajib dilakukan untuk menjadi contoh baginya kelak dan ia juga menjadikan kegiatan sesederhana ini menjadi penting.

Saya berharap, jika pola pengaturan waktu penggunaan gadget tepat, mungkin interaksi anak saya dengan anggota keluarga lain bisa berjalan baik komunikasi juga lancer. Saat nanti ia sudah dapat berkomunikasi, saya ingin menjadi sosok ayah yang pintar mendengar serta mampu mengubah sudut pandang dari beragam sudut.Sehingga kesannya saya tidak menggurui mereka…hehehe. Karena jujur saja, saya ingin menjadi seorang teman baginya.

Lalu, jika ditanya bagaimana cara menurunkan nilai-nilai ini? Hmmm…saya sendiri masih blank, tapi saya akan mengawalinya dengan memberi contoh. Dan saya menghindari untuk memaksa, karena kalau dipaksa dia malah akan berontak takutnya. Contoh juga bisa ia peroleh dari kakek, nenek, om, tante hingga guru-guru di sekolahnya kelak. Bagaimanapun, memiliki support system yang baik juga akan membantu orangtua menciptakan anak yang baik, kan?

Kuncinya sih, saya hanya ingin anak saya dapat fleksibel tanpa melupakan akar dari mana ia berasal dan percaya diri dengan itu semua. Ini adalah sudut pandang atau versi saya yang notabene sebagai orangtuabaru, bagaimana dengan Anda?

 



Artikel Rekomendasi