Cara Mengatasi Anak yang Menguji Kesabaran Orangtua

 

 
123RF


 
Jangan berpikir bahwa kemampuan menganalisa hanya dikuasai oleh orang dewasa, karena faktanya di usianya yang ke-2, anak pun juga sudah mulai memiliki daya analisa berkat perkembangan berpikirnya yang pesat. Ia mulai belajar dari informasi yang ia dengar dan mencontoh apa yang dilihatnya. Tak heran kemampuannya menyerap banyak hal yang bagaikan spons menciptakan keahlian-keahlian baru yang tak selalu dapat Anda terima dengan senang hati. Berikut beberapa contoh kelakuan anak yang menguji kesabaran Anda:

MERENGEK
Bagi anak, kehilangan perhatian walau hanya sebentar bisa membuatnya kecewa. Maka ketika ia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaannya, ia pun akan merengek.

Lakukan ini:
1. Jika disebabkan penolakan Anda, maka berikan alasan yang jujur kenapa Anda menolak keinginannya.
2. Rekam suara atau gambar saat ia merengek, lalu putar rekaman itu di waktu lain agar anak mendengar dan melihat sendiri sehingga ia berpikir ulang jika ingin melakukannya kembali.

SERING MARAH
Berbagai hal bisa memicu anak untuk marah yang berujung pada tantrum. Tantrum bisa hadir dalam berbagai bentuk, seperti menjerit keras di tengah keramaian atau memukul-mukul. Umumnya terjadi karena anak merasa kesal dan tidak nyaman dan ini merupakan jalan pintasnya untuk meluapkan perasaannya.

Lakukan ini:
1. Cari tahu kondisi anak saat marah, apakah karena rasa lapar, bosan, atau terlalu lelah. Dengan mengetahui pasti penyebabnya, Anda jadi tahu cara penanganannya.
2. Ajak anak mengenali emosi marah, dan setelah ia mengenali rasa marah, ajak untuk menyalurkan emosi sesuai koridor.

SELALU BILANG TIDAK
Anak yang sering bilang tidak bisa saja belajar dari diri Anda yang juga sering melakukan hal yang sama padamya. Namun, berkata tidak sangat normal pada anak usia ini karena ini adalah cara yang sehat baginya untuk memiliki kontrol atas dirinya.

Lakukan ini:
1. Jadilah teladan. Dengan melihat orang tua nya melakukan hal yang baik, maka ia pun juga tertantang untuk melakukan hal serupa.
2. Tanya dengan nada biasa-biasa saja apa alasan anak menolak melakukan permintaan Anda. Anak akan belajar untuk memiliki alasan atas keputusan yang diambilnya.
3. Lakukan hal bersama-sama, seperti saat ia tidak mau sikat gigi, maka ajak ia sikat gigi bersama.

BERBOHONG
Ada beberapa alasan mengapa anak berbohong. Pertama karena ia belum bisa memisahkan antara dunia nyata dan imajinasi. Misalnya, anak ingin sekali punya adik dan ia mulai mengatakan ke orang-orang bahwa Anda sedang mengandung adik laki-lakinya padahal tidak. Atau memang ia berbohong untuk memungkiri telah melakukan sesuatu, seperti memecahkan piring karena takut Anda akan memarahinya.

Lakukan ini:
1. Menegaskan bahwa berbohong itu perilaku yang tidak baik.
2. Jangan langsung percaya omongan anak. Cari tahu dulu kebenarannya dari pihak lain sebelum Anda mengambil sikap.
3. Jika ia berbohong karena belum bisa membedakan antara fakta dan khayalan, jangan langsung hancurkan khayalannya. Ajak ngobrol sambil diselipkan fakta-fakta sesungguhnya.

MELANGGAR ATURAN
Ketika anak melanggar aturan yang Anda terapkan, hal itu semata karena aturan itu tidak sesuai dengan keinginannya dan ia belum bisa mengontrol diri. Namun di sisi lain, anak justru senang melanggar karena mencari perhatian dari orang di sekitar.

Lakukan ini:
1. Jangan langsung marah. Dekati dan ajak ia dengan menggandeng atau menggendong sambil mengatakan apa yang dilakukannya tidak benar.
2. Beri apresiasi saat anak mengikuti aturan sehingga ia dengan senang hati mengulangi perbuatan itu. Seperti bilang terima kasih saat ia membuang sampah di tempatnya.
3. Hindari situasi yang memungkinkan anak melanggar aturan. Misalnya, saat ia tidak mau membereskan mainan maka siapkan tempat mainan khusus yang disenanginya agar ia mau mengembalikan mainan ke tempat tersebut.

SENANG TELANJANG
Menolak mengenakan baju adalah salah satu bentuk sikap anak untuk mengukuhkan kemerdekaannya dan senang mencari perhatian Anda. Namun ingatlah, ini hanya salah satu fase yang memang umum dialami dalam periode tumbuh kembangnya.

Lakukan ini:
1. Beri pilihan dengan mengatakan “Mau pakai baju setelah lari keliling ruangan 4 kali atau mau pakai sekarang?“ Dengan memberi pilihan, ia cenderung akan memilih dan mengakhiri ‘drama’ telanjangnya.
2. Ajak anak ikut memilih baju yang akan dipakainya dan bantu ia mengenakan baju dengan tangannya sendiri.
3. Beri penjelasan tentang konsekuensi jika terus telanjang maka akan masuk angin, dan jika masuk angin akan muntah.
4. Beri respon sewajarnya. Jika terlalu berlebihan maka anak cenderung mengulangi drama telanjang ini.



Baca Juga:
Tanda-tanda Anak Sedang Berbohong
Hadapi Anak Merengek
5 Disiplin Salah

 



Artikel Rekomendasi