Menangani Anak Pendiam dengan 5 Langkah Penting

 

Dokumentasi Ayahbunda


Saat menemani anak ke arena bermain, ia nampak lebih diam dibandingkan anak-anak lainnya. Jika anak-anak seumurannya berlarian, berceloteh, bercanda hingga menjerit-jerit, anak justru memilih duduk diam di kursi taman. Melihat fakta tersebut, jangan panik, Bunda. Belum tentu balita bermasalah dalam berkomunikasi atau bersosialisasi.

Tahukah Bunda, banyak tokoh dunia yang tumbuh sebagai anak pendiam, namun mereka sukses dalam bidangnya. Sebut saja, CEO Yahoo Marissa Mayer, pendiri Facebook Mark Zuckerberg, pendiri Microsoft Bill Gates, guru para enterpreneur dunia Warren Buffet, aktris Courteney Cox, hingga presiden AS Barrack Obama. Mereka bisa tampil di depan orang banyak, kendati tumbuh menjadi anak pendiam. Yang perlu Anda lakukan adalah:

1. Cari tahu alasannya
DR. William Sears, profesor Ilmu Kesehatan Anak di University of Southern California School of Medicine, dan University of California menemukan ada balita usia 2 tahun yang mudah bergaul dengan orang asing, kemudian berubah drastis menjadi pendiam saat usianya 3 tahun. Hal ini disebabkan karena anak usia di atas 2 hingga 4 tahun memasuki fase kecemasan baru terhadap orang asing sehingga mereka takut terhadap orang yang tidak dikenalnya. Dr. Sears juga menemukan alasan lain, yaitu anak lebih memilih untuk mendengarkan, sedang lelah atau sakit, merasa suaranya lebih kecil dibandingkan teman-temannya, sedang asyik berimajinasi, dan penuh pertimbangan. Sarannya, hindari memaksa anak untuk keluar dari ‘dunia diamnya’, terlebih jika ia sedang lelah atau sakit.

2. Ajak anak untuk berinteraksi sesuai minatnya
 “Anak pendiam cenderung memiliki minat yang unik dan kuat. Beri kesempatan anak menjalani minatnya. Saat orang tua ikut terlibat dan mendukung, anak yang bahagia dan percaya diri akan bersosialisasi dengan anak lain,” ungkap Christine Fonseca, penulis buku Quiet Kids: Help Your Introverted Child Succeed in an Extroverted World. Untuk mengikuti minat diamnya, ajak anak untuk berkenalan dengan apa yang ada di lingkungannya. Awali terlebih dahulu dengan benda-benda mati, tumbuhan atau hewan. Jika ia sudah mau bergerak dan bercerita, barulah ajak ia berinteraksi dengan teman sebayanya. Atau ajak anak bermain -yang tidak membutuhkan interaksi dengan orang lain-, misalnya bermain lego atau balok-balok kayu, buku interaktif, action figure atau mobil-mobilan. Saat ia mulai asyik dengan mainannya, minta balita cerita apa yang sedang ia lakukan.
 
3. Tetap minta anak bicara
Berikan pengertian penuh pada anak bahwa menjadi pendiam tidak apa-apa. Jelaskan bahwa ia tidak harus seperti si A atau si B yang banyak bicara. Tetapi jelaskan bahwa ia tidak boleh diam jika ia ingin meminta sesuatu,  mengungakapkan perasaannya (seperti sedih atau bahagia), merasa tidak nyaman, merasa sakit atau disakiti oleh orang lain. Katakan bahwa dengan bicara, maka Bunda, Ayah, dan orang lain akan mengerti apa yang ia inginkan.

4. Bantu anak belajar mengungkapkan
Pendiam tidak selalu berarti cuek atau tidak peduli. Bisa jadi anak tidak mengerti bagaimana caranya untuk mengungkapkan apa isi pikiran dan perasaannya. Yuk, bantu anak! Caranya sering-seringlah ajak anak ngobrol lalu berikan juga ia kesempatan untuk bicara. Hindari memotong ucapannya karena hal tersebut dapat mengecilkan hatinya. Kelak, ia enggan untuk bicara lagi, dan memilih untuk diam. Usai ngobrol, coba untuk ajukan pertanyaan. Gunanya untuk melihat apa yang sudah ditangkap anak lewat obrolan tadi. Kegiatan membaca buku dan bernyanyi juga dapat membantu balita untuk mengenali bagaimana cara mengungkapkan sesuatu.

(LAD/ERN)

 



Artikel Rekomendasi