Keya adalah anak yang cerdik dan kreatif. Kesehariannya bukan hanya diisi dengan kegiatannya bermain dan belajar di TK bareng teman-temansebaya! walaupun ia punya jadwal tidur siang yang panjang sepulang sekolah, karena jarak sekolahnya cukup jauh dari rumah, setiap kali bangun tidur, ia pasti akan meraih spidol atau pinsil warna dan kertas. Dan dalam beberapa menit, terciptalah master piece Keya untuk hari itu. Dalam sehari, ia bisa "memproduksi" minimal 3 gambar berupa goresan spidol, pinsil warna, krayon atau cat air ... plus 1 - 2 karya handycraft. Yang saya sebutkan terakhir, bisa berupa kartu ucapan, kolase kertas melipat yang dihiasai beragam gambar atau guntingan kertas dalam beragam bentuk. Hebatnya, meskipun master piece karyanya bermacam-macam, bisa dipastikan semuanya diberi "cap" kata "BUNDA".
"Wah, terima kasih Keya, ini semua untuk Bunda ya?" tanya saya sambil menggoda. Ternyata jawabannya, "Ya, semua ini untuk Bunda!" Gubraaakk ... Maksud hati menggodanya, karena saya menebak ia akan menyangkal dan bilang kalau ia hanya sedang latihan menulis huruf dan angka, pada kenyataannya, "Aku kan sayang sekali sama Bunda. Terus Bunda kan juga sayang sama aku. Banyak sekali yang aku dapat dari Bunda. Jadi selalu ingin kasih surprise buat Bunda". Hmm, cukup masuk akal, meskipun menurut saya agak "berlebihan". Nampaknya anak saya, fans berat ibunya sendiri ;D.
Saya pada awalnya masih tak percaya, kalau hampir semua karya kreasinya adalah untuk saya. Sampai suatu hari ibu saya berseloroh, "Lho, saya malah terbantu sekali dengan tulisan BUNDA yang hampir selalu ada dalam setiap gambarnya. Kalau tidak, mana mungkin saya dengan mudah menemukan karya lukis Keya yang dipajang bareng puluhan gambar teman-teman lainnya dalam suatu kesempatan "pameran"". Ooo, jadi Keya juga mencantumkan tulisan "BUNDA" di dalam karya sekolahnya??
Tentu saja, ketika pertama kali saya menyadari fenomena ini, saya agak "khawatir", apakah anak saya baik-baik saja. Apakah ini tandanya, saya harus waspada, ada kemungkinan Keya kurang perhatian dari saya? Terus terang belakangan ini, saya agak sering pulang malam, maklum di awal tahun saya beberapa kali ada sesi pertemuan dengan rekan kerja dalam rangka planning. Demikian juga suami saya. Bahkan ia harus beberapa kali melakukan perjalanan ke luar kota di akhir minggu dalam rangka perencanaan juga. Jadilah, saya dan suami sama-sama juggling untuk mengisi waktu bareng Keya secara seimbang. Jadi, ketika saya harus pulang malam, itulah momen one-on-one Keya bareng ayahnya, sebaliknya, ketika ayahnya harus menghabiskan akhir minggu di luar kota, itulah momen saya "berpesta" merayakan Sabtu-Minggu berdua Keya. Ya, tentu saja, ada bantuan kakek-neneknya juga.
Alhasil, dengan GR-nya, saya merasa, Keya melakukannya semata-mata untuk mengekspresikan rasa kehilangan momen kebersamaan dengan saya akhir-akhir ini. Tetapi perasaan mellow saya berhenti mendadak, ketika belum lama ini saya ikut kursus guru yoga anak karena Keya tak berhenti merengek minta dimasukkan kursus yoga anak. Kendalanya selama ini, jadwal kursus tidak klop dengan jadwal harian Keya di TK A. Ketika saya ditawari mengikuti kursus guru yoga anak bersertifikat, saya berdiskusi dengan Keya untuk menanyakan, apakah jika saya ikut kursus ia kemudian bersedia menjadi murid saya, dengan kata lain saya mengajari yoga untuk anak sendiri. Dengan gembira ia berteriak, "Yeah, Bundaku, guru yogaku! Aku sayang Bunda!". Sekonyong-konyong ia mengambil kertas dan mulailah berkreasi. "Ini untuk Bunda".
Masih terpana, saya kemudian menyadari, anak-anak adalah makhluk yang paling murni (pure) di dunia. Artinya, ketika kita sebagai orang tua memberikan "banyak" kepada mereka - tentu saja secara ikhlas - bagai cermin, mereka akan memantulkan kembali (baca: membalas) secara langsung kepada kita. Akhirnya, saya tak lagi merasa aneh jika diberi hadiah manis dari Keya. Itu bukan tanda ia merasa cemas atau sedih ibunya sering pulang malam. Itu hanya tanda, bahwa apa yang saya berikan - meskipun sedang tidak berada di samping Keya secara fisik - telah diterimanya. Sebab, doa dan hubungan batin saya tidak terputus, baik ketika saya sedang di perjalanan, di kantor, tugas di luar kota dan di mana pun. Semangat saya untuk selalu memberikan yang terbaik dalam hidup memantul bagai cermin kepada anak saya. Saya rasa, saya bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Bagaimana dengan Bunda dan Ayah? Cermin apa yang Anda tonton ketika melihat tingkah laku anak Anda? Mudah-mudahan selalu yang terbaik, seperti halnya apa yang selama ini Bunda dan Ayah sebarkan kepada siapapun di sekitar Anda setiap hari ...