I Daftar Baru I I
Terbaru !!!
Yang Akan Datang
  [18 Mar 2010]
Edar Ayahbunda 06
  [01 Apr 2010]
Edar Ayahbunda 07
  [15 Apr 2010]
Edar Ayahbunda 08
  [29 Apr 2010]
Edar Ayahbunda 09
  [12 May 2010]
Edar Ayahbunda 10
Ayahbunda edisi 05, Maret 2010
8 - 21 Maret 2010
Polling Ayahbunda
Bujet beli mainan balita
Q: Berapa bujet beli mainan balita per bulan?
< Rp.100 ribu
Rp. 100 ribu - Rp. 300.000
Rp 300.001 - Rp 500.000
> Rp 500.000
Barang Belanjaan
Q: Bila Anda berbelanja ke super market, bagaimana cara Anda membawa pulang barang belanjaan Anda?
Menggunakan kantong-kantong plastik yang disediakan pihak super market
Membawa sendiri keranjang belanja plastik dari rumah
Membawa kantung belanja kain yang bisa dilipat dan disimpan di dalam tas
Membeli tas belanja dari kain yang ramah lingkungan, yang tersedia di beberapa super market
Bookmark and Share
Blog Redaksi
05 February 2010 - 09:44 WIB
Bunda Di Mana-mana

Keya adalah anak yang cerdik dan kreatif. Kesehariannya bukan hanya diisi dengan kegiatannya bermain dan belajar di TK bareng teman-temansebaya! walaupun ia punya jadwal tidur siang yang panjang sepulang sekolah, karena jarak sekolahnya cukup jauh dari rumah, setiap kali bangun tidur, ia pasti akan meraih spidol atau pinsil warna dan kertas. Dan dalam beberapa menit, terciptalah master piece Keya untuk hari itu. Dalam sehari, ia bisa "memproduksi" minimal 3 gambar berupa goresan spidol, pinsil warna, krayon atau cat air ... plus 1 - 2 karya handycraft. Yang saya sebutkan terakhir, bisa berupa kartu ucapan, kolase kertas melipat yang dihiasai beragam gambar atau guntingan kertas dalam beragam bentuk. Hebatnya, meskipun master piece karyanya bermacam-macam, bisa dipastikan semuanya diberi "cap" kata "BUNDA".

"Wah, terima kasih Keya, ini semua untuk Bunda ya?" tanya saya sambil menggoda. Ternyata jawabannya, "Ya, semua ini untuk Bunda!" Gubraaakk ... Maksud hati menggodanya, karena saya menebak ia akan menyangkal dan bilang kalau ia hanya sedang latihan menulis huruf dan angka, pada kenyataannya, "Aku kan sayang sekali sama Bunda. Terus Bunda kan juga sayang sama aku. Banyak sekali yang aku dapat dari Bunda. Jadi selalu ingin kasih surprise buat Bunda". Hmm, cukup masuk akal, meskipun menurut saya agak "berlebihan". Nampaknya anak saya, fans berat ibunya sendiri ;D. 

Saya pada awalnya masih tak percaya, kalau hampir semua karya kreasinya adalah untuk saya. Sampai suatu hari ibu saya berseloroh, "Lho, saya malah terbantu sekali dengan tulisan BUNDA yang hampir selalu ada dalam setiap gambarnya. Kalau tidak, mana mungkin saya dengan mudah menemukan karya lukis Keya yang dipajang bareng puluhan gambar teman-teman lainnya dalam suatu kesempatan "pameran"". Ooo, jadi Keya juga mencantumkan tulisan "BUNDA" di dalam karya sekolahnya?? 

Tentu saja, ketika pertama kali saya menyadari fenomena ini, saya agak "khawatir", apakah anak saya baik-baik saja. Apakah ini tandanya, saya harus waspada, ada kemungkinan Keya kurang perhatian dari saya? Terus terang belakangan ini, saya agak sering pulang malam, maklum di awal tahun saya beberapa kali ada sesi pertemuan dengan rekan kerja dalam rangka planning. Demikian juga suami saya. Bahkan ia harus beberapa kali melakukan perjalanan ke luar kota di akhir minggu dalam rangka perencanaan juga. Jadilah, saya dan suami sama-sama juggling untuk mengisi waktu bareng Keya secara seimbang. Jadi, ketika saya harus pulang malam, itulah momen one-on-one Keya bareng ayahnya, sebaliknya, ketika ayahnya harus menghabiskan akhir minggu di luar kota, itulah momen saya "berpesta" merayakan Sabtu-Minggu berdua Keya. Ya, tentu saja, ada bantuan kakek-neneknya juga.

Alhasil, dengan GR-nya, saya merasa, Keya melakukannya semata-mata untuk mengekspresikan rasa kehilangan momen kebersamaan dengan saya akhir-akhir ini. Tetapi perasaan mellow saya berhenti mendadak, ketika belum lama ini saya ikut kursus guru yoga anak karena Keya tak berhenti merengek minta dimasukkan kursus yoga anak. Kendalanya selama ini, jadwal kursus tidak klop dengan jadwal harian Keya di TK A. Ketika saya ditawari mengikuti kursus guru yoga anak bersertifikat, saya berdiskusi dengan Keya untuk menanyakan, apakah jika saya ikut kursus ia kemudian bersedia menjadi murid saya, dengan kata lain saya mengajari yoga untuk anak sendiri. Dengan gembira ia berteriak, "Yeah, Bundaku, guru yogaku! Aku sayang Bunda!". Sekonyong-konyong ia mengambil kertas dan mulailah berkreasi. "Ini untuk Bunda".

Masih terpana, saya kemudian menyadari, anak-anak adalah makhluk yang paling murni (pure) di dunia. Artinya, ketika kita sebagai orang tua memberikan "banyak" kepada mereka - tentu saja secara ikhlas - bagai cermin, mereka akan memantulkan kembali (baca: membalas) secara langsung kepada kita. Akhirnya, saya tak lagi merasa aneh jika diberi hadiah manis dari Keya. Itu bukan tanda ia merasa cemas atau sedih ibunya sering pulang malam. Itu hanya tanda, bahwa apa yang saya berikan - meskipun sedang tidak berada di samping Keya secara fisik - telah diterimanya. Sebab, doa dan hubungan batin saya tidak terputus, baik ketika saya sedang di perjalanan, di kantor, tugas di luar kota dan di mana pun. Semangat saya untuk selalu memberikan yang terbaik dalam hidup memantul bagai cermin kepada anak saya. Saya rasa, saya bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Bagaimana dengan Bunda dan Ayah? Cermin apa yang Anda tonton ketika melihat tingkah laku anak Anda? Mudah-mudahan selalu yang terbaik, seperti halnya apa yang selama ini Bunda dan Ayah sebarkan kepada siapapun di sekitar Anda setiap hari ...



 

12 January 2010 - 17:16 WIB
Silly Bunda

Ini adalah ucapan Keya ketika saya m'badut tanpa sengaja. Maunya sih saya menari-nari seperti kupu-kupu, menjadi tokoh yang bertemu Tinker Bell (Keya jadi Tink). Tapi apa mau dikata, saya tiba-tiba tidak stabil dan jatuh... bruuuk!! Untung di tempat tidur. Tawa kecil pun membahana. Nggak ding, tawa kami berdua menggema di kamar tidur.  

Ya, meskipun sibuk dan hectic sebagai ibu bekerja, saya tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk terjun langsung ke dunia Keya. Baik masuk ke alam berpikirnya, fantasi dan imajinasinya, maupun realita nyata yang sedang dihadapi. Karena itulah momen paling intim dengan anak. Di situlah saya merasa dapat memiliki frekuensi komunikasi yang sama, dan kita saling nyambung. Anak bisa share kecemasan, rasa ingin tahu, dan dengan jitu saya dapat mengisi "ruang" kosong dalam dirinya yang masih polos itu untuk jadi sahabat belajar tentang hidup.

Tak jarang saya berlagak bodoh bak anak TK ketika saya jadi muridnya, dan Keya jadi ibu guru, ketika main sekolah-sekolahan. Atau, saya malah minta Keya menerjemahkan dan menjelaskan jalan cerita film fantasi yang sedang dia tonton. Ajaibnya ... justru dengan menjadi "bodoh (baca: polos) saya bisa "mendapatkan" banyak hal. Saya dapat secara langsung memantau perkembangannya, terutama untuk aspek-aspek perkembangan yang tidak dapat diukur secara kualitatif.

Apakah anak kemudian jadi kurang ajar?! Tidak. Setidaknya menurut pengalaman saya. Dear Ayah dan Bunda, tugas kita adalah mengasuh anak-anak dengan cinta (love), dan bukan rasa takut (fear). Mudah-mudahan dengan begitu, ketika mereka menjadi orang tua, mereka meneruskan perasaan cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya kelak. Raise your children with love, instead of fear. Jadi tak perlu takut berekspresi naif, belajar dari kesalahan, dan yang tumbuh bersama-sama dengan anak.   

31 December 2009 - 09:05 WIB
Catatan Akhir Tahun, Nyala Kembang Api dan Tiupan Terompet Bunda

Hai, Bunda! Ini memang hari terakhir di tahun 2009, tetapi “pekerjaan rumah” belum selesai! Meskipun selalu ada orang-orang terdekat di sekitar Anda, tetapi saya sangat setuju bahwa ibulah tiang penyangga keluarga. You are the center of the family. Jadilah doa yang kita panjatkan harus terus mengalir tanpa boleh putus, Bunda! Demikian pula harapan, semangat dan … kasih sayang.

Tahun ini memang bukan tahun yang mudah, Bunda! Semakin hari semakin berat saja beban hidup kita. Dari sulitnya mencari asisten pekerjaan rumah tangga dan pengasuh sampai mencari prasekolah yang membuat hati kita puas dan tenang. Penyakit yang sewaktu-waktu mengintai anak-anak kitapun kerap kali membuat hati kita dan sahabat sesama ibu saat ini menjadi ciut. Rasanya ingin punya senjata pemusnah paling canggih untuk menghalau sumber penyakit jauh-jauh dari bayi dan anak-anak kita.

Belum lagi bencana alam datang bertubi-tubi, sempat membuat kita was-was meninggalkan anak dan keluarga untuk beraktivitas di luar rumah. Dalam catatan saya sepanjang 2009, kita semua juga kehilangan beberapa tokoh besar dan orang-orang terdekat yang kita kasihi. Doa terus kita panjatkan untuk mengantarkan kepergian mereka.

Mudah-mudahan kita semua tetap kuat, Bunda! Karena memang kita harus mengikhlaskan semua terjadi. Hanya itu yang dapat dan penting kita lakukan. Dengan cara ini juga, tugas kita menjadi panutan dan “peraga” keikhlasan sejati dapat ditunaikan. Dengan semangat hidup yang membara dan kegairahan menjalani hari-hari, tugas kita menjadi “sumber energi” keluarga, terutama anak-anak, dapat dilaksanakan.

Bukan … bukan berarti Bunda tak boleh menangis dan bernafas dalam-dalam. Menangislah ketika Bunda  membutuhkan air mata, sebab tangis dan air mata akan senantiasa melembutkan hati kita. Kelembutkan hati ibulah kekuatan sejati yang selalu dibutuhkan. Bernafaslah dengan penuh keikhlasan dan  biarkan kehangatan menyebar ke seluruh sel-sel tubuh, hingga dada kembali lega, dan Bunda tetap menjadi penerang keluarga.  “Peragakan”-lah tawa dan senyum sesering mungkin. Meskipun mungkin rasanya wajah, pipi dan mulut kita kaku dan pegal karena lelah dan seringkali tak sempat melakukannya di tengah hiruk-pikuk tugas-tugas yang tak ada habisnya.

Sebaliknya, hindari kebiasaan mengendapkan duka di dalam dada, Bunda. Selain menyesakkan, juga tak sehat untuk diri kita, apalagi untuk anak dan keluarga. Lepaskan! Let it go, release …

Perkuat niat dan pemikiran yang baik untuk “menembus” halangan yang semakin banyak menghadang langkah-langkah kita. Perkuat “gandengan tangan” Bunda dengan orang-orang yang dapat membangunkan Bunda kembali ketika jatuh akibat tergelincir. Sebab, kita memang tidak boleh tinggal diam dan “terjebak” lama-lama di sana. Jika perlu kembalilah kepada para ibu kita yang pasti dapat memberikan sekadar bantuan “penafasan” agar kita dapat berdiri tegar kembali lepas dari kekusutan, kegalauan, kegamangan. Perbanyak hubungan dengan sesama ibu yang berjuang demi dirinya dan keluarga, agar Bunda selalu dapat “suntikan” semangat.

Selain motivasi dan doa untuk rekan-rekan sesama “pejuang” keluarga, di dalam catatan akhir tahun saya juga tertulis beberapa rencana yang penuh optimisme dan kegembiraan. Tercatat juga sejumlah cita-cita yang dengan tekad bulat ingin saya wujudkan di tahun depan. Saya menganggap ini semacam kado untuk diri saya sendiri, yang akan saya berikan sambil memeluk … diri saya sendiri tentunya. Ya .. Bunda, jangan pernah lupa memberikan kado untuk diri Bunda sendiri, sebagai ucapan syukur, bahwa kita diberi anugrah untuk menjadi tiang penyangga, pusat kehidupan dan sumber cinta di dalam rumah. Semoga kita semua senantiasa dilindungi dan diberi kemudahan untuk arungi hidup di 2010. Selamat merayakan pergantian tahun dengan keluarga,  selamat merayakan kehidupan baru dan cita-cita!

Nyalakan kembang api dan bunyikan terompetmu Bunda  ….. tet-ret-tet-ret!!!    


Home - Member Area - Contact Us - Privacy Policy & Disclaimer - Site Map
Portal ini berisi informasi yang bersifat umum dan tidak ditujukan menggantikan saran dokter, psikolog, konselor, terapis dan ahli lainnya.
Konsultasikan keluhan atau masalah spesifik anak Anda dan keluarga kepada ahli.
Copyright © 2006-2009 Ayahbunda. All rights reserved.
Dilarang menyalin, mempublikasikan dan mengutip sebagian atau seluruh isi portal tanpa seizin Ayahbunda.
Tampilan terbaik gunakan IE 7+ / Mozilla Firefox 3+
=