Kira-kira apa yang ingin diwariskan seorang ibu kepada anak-anak agar hidup mereka sukses di masa depan? Ada yang menjawab: Tabungan; ada juga yang menjawab: Investasi surat berharga. Ya ... ampuun bukan, Bunda, saya sedang bicara tentang hal yang lebih fundamental lagi! Mengapa saya bicara kepada ibu? Karena ibu adalah tonggak penting dalam pembentukan pribadi anak.
Pernahkah Bunda sadari, anak-anak kita tanpa sadar telah diwariskan cara pandang kita dalam melihat hidup? Ok, akhirnya ada sahabat yang mengakui, kalau sikap negatif dan skeptis dirinya kini menurun pada anak pertamanya yang telah duduk di SD. Untung saja, si bungsu yang kini dulu di TK justru jadi anak yang lebih santai. Apa sebab? Ketika sahabat saya ini hamil anak kedua, ia sudah menuntaskan alias menangani masalah di dalam dirinya dengan baik. Ia pun “mewariskan” kesadaran untuk menyelesaikan masalah tersebut pada si anak bungsu. Amazing!
Kisah yang lebih “parah” saya dapatkan dari saudara seorang teman yang menurunkan/mewariskan cara pandang keliru tentang uang pada anaknya, akibat kekeliruan cara pandang ibu, nenek, dan buyutnya terhadap uang. OMG! Buat apa sih hal-hal yang salah atau kurang tepat justru diwariskan? Bukankah lebih baik sepeti harta karun di dasar samudra hati ibu yang diwariskan kepada anak-cucu?!
“Yah, namanya juga tidak sadar! Memangnya nenek dan ibu saya sadar, kalau padangan “mudah menjadi kaya dengan bersikap kikir” itu keliru? Kalau mereka sadar, mana mungkin saya “tertular” hahahaha,” demikian ucap saudara teman saya yang mengakui bahwa kekikiran telah mengakar like flesh and blood dalam keluarganya. Untung saja saya tidak kenal saudara teman saya ini. Pastilah saya tidak cocok bergaul dengan dia J.
Seperti halnya kebaikan hati ibu, ketekunan ibu dalam bekerja maupun kerelaan hati ibu yang seluas dan sedalam samudra ini, anak-anak dengan mudah akan mengadaptasi sikap, paradigma dan bahkan perkataan ibu-ibu mereka. Jadilah saya selalu mengingatkan diri sendiri, “Tuntaskan kalau kamu punya PR dalam diri yang belum dikerjakan. Selesaikan “hutang” janji-janji pada dirimu yang belum kamu bayar, karena kalau tidak, itu sajalah warisan yang akan kamu berikan pada anak-anak”. Saya jadi ingat istilah “karma” dalam kepercayaan Hindu yang konteksnya kurang lebih sama dengan pembahasan saya di atas.
Jadilah dengan sadar, saya harus membuat checklist sikap hidup, paradigma dan keyakinan saya yang pantas saya wariskan pada Keya. Saya pun siap-siap mencoret, poin-poin yang mungkin sudah usang atau malah amat sangat merugikan dan bertekad untuk segera mengubahnya. Saya tidak mau Keya turut mengemban “pekerjaan rumah” yang seyogianya bukanlah tugasnya, melainkan saya.
Ayo, Bunda, mumpung ini bulan baik (terutama bagi umat Islam), buatlah daftar “warisan usang” yang tak pantas masuk peti harta karun lalu bertekadlah untuk menyelesaikannya. Jangan sampai dibiarkan terus, dan membiarkan anak-cucu kita yang menyelesaikan. Bunda benar-benar harus arif dan berhati bening. Bisa jadi kita merasa ini bukan sebuah masalah genting yang harus segera diselesaikan sekarang. Tapi percayalah, apabila Bunda selalu diliputi rasa tidak percaya kepada orang lain, selalu merasa diri paling benar atau punya pandangan negatif terhadap semua hal, pada saatnya nanti akan diambilalih seperti analogi “tongkat estafet” oleh anak-anak.
Berikut contoh kata kunci yang harus dicoret dari checklist "isi peti harta karun" Bunda, ya! Tambahkan sendiri sisanya.
-
Tidak percaya pada orang lain
-
Takut hidup miskin
-
Rasa marah yang mendalam
-
Rasa benci pada suami/adik/orangtua/mertua dan lain-lain
-
Merasa diri paling berguna/penting tetapi orang lain tidak
-
Harus kikir agar menjadi kaya
-
Lari dari masalah adalah solusi saat menghadapi masalah dengan suami
-
Apabila saya tidak menemani anak pergi, pasti ada masalah
-
dan seterusnya