I Daftar Baru I I
Terbaru !!!
Yang Akan Datang
  [23 Sep 2010]
Edar Ayahbunda 19
  [25 Sep 2010]
Roadshow Vaksinasi Pneumokokus
  [07 Oct 2010]
Edar Ayahbunda 20
  [21 Oct 2010]
Edar Ayahbunda 21
  [04 Nov 2010]
Edar Ayahbunda 22
Ayahbunda Edisi September 2010
6-19 September 2010
Polling Ayahbunda
Tempat Bertanya
Q: Untuk masalah pengasuhan/pendidikan anak, kemana Anda bertanya?
Orang tua Ayah dan Bunda
Saudara
Anggota komunitas digital (milis,social media)
Pakar di seminar
Kencan Bersama Suami
Q: Tidak salah jika sesekali Ayah dan Bunda pergi bersama tanpa membawa anak. Kegiatan kencan favorit seperti apa yang biasa dilakukan bersama?
Makan malam berdua
Nonton di bioskop
Nonton konser
Tamna rekreasi
Bookmark and Share
Blog Redaksi
03 September 2010 - 09:50 WIB
"Aku Jenuh Berbelanja, Makan dan Menghabiskan Uang"
"Ah, mana mungkin!" seru teman saya meledek. "Bu, mana mungkin kita bosan belanja di tengah banjir "Ramadhan Sale", "Midnight Sale" dan segudang acara sale lainnya? Memangnya kamu tidak perlu baju? Paling tidak, anakmulah dibelikan pakaian ...," dan mulailah teman saya ini "berkhotbah" panjang lebar. Mulai dari cara menciptakan suasana Idul Fitri di rumah, mengekspresikan kebahagiaan hari raya sampai "rencana dan taktik lain untuk 'menghabiskan' uang".

Saya tidak merasa marah apalagi "tergerak" saat mendengar nasehat sang teman. Bukan apa-apa, jika sedang berpuasa, kita kan dilarang marah :D. Begitupun dalam mengikuti hawa nafsu belanja ... itu kan tetap namanya nafsu. Jadilah ini bukan istilah yang menurut saya sinkron dengan nilai puasa yang sedang saya jalankan. Yang terjadi, saya malah merasa kasihan dengan ibu yang satu ini karena lebih memilih menghabiskan banyak waktu di pusat belanja atau pasar ketimbang lebih banyak beramal, melayani sesama dan meningkatkan kesadaran diri.

Saya juga mengalami masa-masa seperti itu. Masa di mana saya dan keluarga "heboh" menyiapkan hari raya dengan memasak untuk puluhan tamu yang biasanya datang, demikian juga dengan segudang undangan silaturahmi atau Halal Bihalal setelah hari raya. Rasanya memang seru! Semacam ada eforia kemenangan yang gimana gitu ... :). Tapi terus-terang setelah bertahun-tahun melakukan dengan cara seperti ini, dalam beberapa tahun terakhir saya justru merasa lelah dan jenuh. Rasanya Idul Fitri biasa saja, lewat begitu saja tanpa kesan. Saya pun mulai "gelisah".

"Memangnya tidak ada cara lain yang lebih bermakna, lebih membahagiakan dan lebih memberi energi (instead of tiring) untuk merayakan Idul Fitri?! Apalagi kita merayakannya setiap tahun. Rasanya baru kemarin kita buat Coto Makassar dan Buras (penganan saat Lebaran di rumah saya, red)," batin saya. Memang betul, kita membutuhkan pakaian untuk membalut diri kita secara pantas, secara apik dan cantik. Tapi apakah harus baru? Lalu jika saya tidak membelikan pakaian baru untuk diri sendiri melainkan untuk Keya saja, artinya saya mengajarkan nilai yang bertentangan dengan yang saya yakini dong! Sigh!

Tidak apa-apa Bunda, menyambut hari raya dengan membuat kue bersama balita atau menghias rumah agar suasana Idul Fitri jadi berbeda. Intinya saya mengajak Bunda dan Ayah "keluar" dari rutinitas jika itu semua pada akhirnya hanya menimbulkan kejenuhan dan kelelahan. Ketika kita sudah tidak lagi merasakan momen hari raya jadi waktu yang spesial untuk meningkatkan diri, sebaliknya malah jadi ajang memamerkan ego dan mengumbar hawa nafsu, kemungkinan besar ada sesuatu yang harus diubah TOTAL. Mungkin cara merayakannya, atau mind setting kita yang harus diubah.

Ritual di keluarga juga seharusnya bukan menjadi sesuatu yang mutlak. Sedapat mungkin ciptakan budaya "baru" dalam keluarga kecil Anda yang fleksibel, artinya dapat berubah dari tahun ke tahun. Jika selama ini Anda mematok harus mudik, mungkin tahun ini dibalik: orang tua Anda yang diajak berlebaran di kota dan masih banyak lagi cara mengubah kebiasaan agar tak berakhir pada kelelahan saja tanpa makna.

Jika Anda "terjebak" dalam ritual keluarga besar yang Anda tak dapat mengubahnya, tak perlu memberontak apalagi berteriak. Niatkan saja, Anda mengikuti cara mereka untuk menjaga silaturahmi, di waktu yang sama Anda harus rencanakan acara lain untuk merayakan hanya bersama pasangan dan anak-anak (tanpa keluarga besar) setelah acara bersama keluarga besar selesai/berakhir. Anak-anak pasti suka!

Hidup adalah seni. Tidak ada pola atau template khusus untuk mencapai "rasa" yang sama pada masing-masing orang. Buat saya, bercengkrama bersama anak, suami, orang tua dan saudara adalah inti dari perayaan Idul Fitri. Ketika kita lepas dari "pendidikan" mental dan spiritual selama sebulan rasanya sayang saja jika kita kemudian kembali ke "pola" lama: menghamburkan nafsu, terjebak dalam eforia. Ayo, lebih sadar, lebih sabar dan hayati makna Idul Fitri sebenarnya. (Ugh .. mengapa nadanya jadi khotbah begini?!)

Eureka!! Saya rasa inilah cara baru saya membuat Lebaran menjadi lebih bermakna. I share because I care. Selamat Idul Fitri, mohon maaf jika ada tweet, status atau kata-kata di Blog Redaksi yang menyinggung perasaan Ayah dan Bunda. Semoga kita menjadi diri dan orang tua yang lebih baik!

With Love,
Andi Maerzyda A. Th.
Web Producer Ayahbunda


26 August 2010 - 14:49 WIB
It is the Mother Power
Pagi-pagi sekali saya sudah nge-tweet untuk memberi semangat pada sesama ibu yang jadi follower saya di Twitter (www.twitter.com/Maerzyda). Tidak ada satu pun yang bisa memahami hiruk-pikuk dan hangar-bingarnya dunia seorang ibu, kecuali sesama ibu. Itu sebabnya, saya terus saja memberikan saran-saran positif dan gagasan seru agar kita sebagai ibu dapat menghadapi masalah dengan melihat secara berbeda. 

Memandang sesuatu secara berbeda memang menjadi salah satu “senjata” saya untuk menghadapi rasa kecewa, kejenuhan, kelelahan “tingkat tinggi” bahkan sedih. Ibu juga manusia, kan?! Meskipun kita selalu berusaha memiliki hati seluas samudra dan senyum hangat ketika suami dan anak menghampiri karena sedang dalam kesusahan, tetapi kita pasti juga pernah mengalami masa-masa berat. 

Tentu bisa ditebak, seorang ibu jarang atau bahkan tidak pernah menangis di depan pasangan dan anak-anak. Seorang ibu muda, sahabat saya bilang, ”Tidak tega! Biar saja saya ”telan”. Kalau perlu mereka hanya melihat saya berwajah senang dan bekerja dengan penuh semangat,” tekad sahabat saya yang sebenarnya sedang frustasi menghadapi guncangan di tempat kerjanya.  
Belum lagi seorang kawan, bahkan dalam kondisi sakit berat akibat digerogoti kanker, masih berusaha tampil cantik dan menawan, ”Rasa nyeri ini boleh ”membunuhku” tetapi tidak suami dan anak-anak. Mereka hanya boleh tahu, saya sakit tetapi punya semangat hidup”. Huaahh terharu! Alhasil di balik rontoknya rambut akibat kemoterapi, saya hanya melihatnya sebagai sosok ibu yang semakin cantik saja karena selalu tersenyum dan kuat.

Hari ini beberapa teman sesama ibu mengalami masalah: trombosit turun, pengasuh/pembantu minta pulang tiba-tiba, anak sakit, dirinya sendiri ”terkapar”, deadline menumpuk dan masih banyak lagi. Yang dibutuhkan ibu untuk bisa lalui itu semua sederhana: pengertian dan siraman cinta. Jika saja kita sesama ibu dapat membuat ibu lainnya tersenyum, sungguh negeri ini jadi lebih tentram karena isi rumah mereka adalah ibu-ibu yang kuat, yang tak pernah gentar dan selalu diliputi cinta. Lebih baik lagi (dan seharusnya) ayah-ayah jadi motivator ibu yang utama. Kalau pun masih kurang dapat dari ayah, tetap saja saya sukarela selalu memberi ”jempol” dan dorongan agar Bunda tak jatuh. Karena seorang ibu itu memang kuat adanya. Mother power is in you! If you feel the love and strenght … yes that’s it! It is the MOTHER POWER.  



23 August 2010 - 01:39 WIB
Warisan Seorang Ibu

Kira-kira apa yang ingin diwariskan seorang ibu kepada anak-anak agar hidup mereka sukses di masa depan? Ada yang menjawab: Tabungan; ada juga yang menjawab: Investasi surat berharga. Ya ... ampuun bukan, Bunda, saya sedang bicara tentang hal yang lebih fundamental lagi! Mengapa saya bicara kepada ibu? Karena ibu adalah tonggak penting dalam pembentukan pribadi anak.

Pernahkah Bunda sadari, anak-anak kita tanpa sadar telah diwariskan cara pandang kita dalam melihat hidup? Ok, akhirnya ada sahabat yang mengakui, kalau sikap negatif dan skeptis dirinya kini menurun pada anak pertamanya yang telah duduk di SD. Untung saja, si bungsu yang kini dulu di TK justru jadi anak yang lebih santai. Apa sebab? Ketika sahabat saya ini hamil anak kedua, ia sudah menuntaskan alias menangani masalah di dalam dirinya dengan baik. Ia pun “mewariskan” kesadaran untuk menyelesaikan masalah tersebut pada si anak bungsu. Amazing!

Kisah yang lebih “parah” saya dapatkan dari saudara seorang teman yang menurunkan/mewariskan cara pandang keliru tentang uang pada anaknya, akibat kekeliruan cara pandang ibu, nenek, dan buyutnya terhadap uang. OMG! Buat apa sih hal-hal yang salah atau kurang tepat justru diwariskan? Bukankah lebih baik sepeti harta karun di dasar samudra hati ibu yang diwariskan kepada anak-cucu?!

“Yah, namanya juga tidak sadar! Memangnya nenek dan ibu saya sadar, kalau padangan “mudah menjadi kaya dengan bersikap kikir” itu keliru? Kalau mereka sadar, mana mungkin saya “tertular” hahahaha,” demikian ucap saudara teman saya yang mengakui bahwa kekikiran telah mengakar like flesh and blood dalam keluarganya. Untung saja saya tidak kenal saudara teman saya ini. Pastilah saya tidak cocok bergaul dengan dia J.

Seperti halnya kebaikan hati ibu, ketekunan ibu dalam bekerja maupun kerelaan hati ibu yang seluas dan sedalam samudra ini, anak-anak dengan mudah akan mengadaptasi sikap, paradigma dan bahkan perkataan ibu-ibu mereka. Jadilah saya selalu mengingatkan diri sendiri, “Tuntaskan kalau kamu punya PR dalam diri yang belum dikerjakan. Selesaikan “hutang” janji-janji pada dirimu yang belum kamu bayar, karena kalau tidak, itu sajalah warisan yang akan kamu berikan pada anak-anak”. Saya jadi ingat istilah “karma” dalam kepercayaan Hindu yang konteksnya kurang lebih sama dengan pembahasan saya di atas.

Jadilah dengan sadar, saya harus membuat checklist sikap hidup, paradigma dan keyakinan saya yang pantas saya wariskan pada Keya. Saya pun siap-siap mencoret, poin-poin yang mungkin sudah usang atau malah amat sangat merugikan dan bertekad untuk segera mengubahnya. Saya tidak mau Keya turut mengemban “pekerjaan rumah” yang seyogianya bukanlah tugasnya, melainkan saya.  

Ayo, Bunda, mumpung ini bulan baik (terutama bagi umat Islam), buatlah daftar “warisan usang” yang tak pantas masuk peti harta karun lalu bertekadlah untuk menyelesaikannya. Jangan sampai dibiarkan terus, dan membiarkan anak-cucu kita yang menyelesaikan. Bunda benar-benar harus arif dan berhati bening. Bisa jadi kita merasa ini bukan sebuah masalah genting yang harus segera diselesaikan sekarang. Tapi percayalah, apabila Bunda selalu diliputi rasa tidak percaya kepada orang lain, selalu merasa diri paling benar atau punya pandangan negatif terhadap semua hal, pada saatnya nanti akan diambilalih seperti analogi “tongkat estafet” oleh anak-anak.

Berikut contoh kata kunci yang harus dicoret dari checklist "isi peti harta karun" Bunda, ya! Tambahkan sendiri sisanya.

  • Tidak percaya pada orang lain
  • Takut hidup miskin
  • Rasa marah yang mendalam
  • Rasa benci pada suami/adik/orangtua/mertua dan lain-lain
  • Merasa diri paling berguna/penting tetapi orang lain tidak
  • Harus kikir agar menjadi kaya
  • Lari dari masalah adalah solusi saat menghadapi masalah dengan suami
  • Apabila saya tidak menemani anak pergi, pasti ada masalah
  • dan seterusnya

Home - Member Area - Contact Us - Privacy Policy & Disclaimer - Site Map
Portal ini berisi informasi yang bersifat umum dan tidak ditujukan menggantikan saran dokter, psikolog, konselor, terapis dan ahli lainnya.
Konsultasikan keluhan atau masalah spesifik anak Anda dan keluarga kepada ahli.
Copyright © 2006-2009 Ayahbunda. All rights reserved.
Dilarang menyalin, mempublikasikan dan mengutip sebagian atau seluruh isi portal tanpa seizin Ayahbunda.
Tampilan terbaik gunakan IE 7+ / Mozilla Firefox 3+
=