
Rapunzel, Ibu Protektif dan Lentera Terbang
Wah, betapa gembiranya Keya, ketika saya katakan surprise untuknya minggu ini adalah menonton film impiannya “Rapunzel Tangled”! Sudah beberapa bulan lalu, ia ‘mengintip’ cuplikan film ini sebelum film yang akan ditayangkan main. Keya memang seorang penikmat ilmu modalitas (gaya) belajar visual, sehingga jadilah kegiatan menonton di bioskop sebagai kegiatan yang cukup rutin kami ‘gelar’. Tentu, dalam rangka memberinya kemudahan menyerap ilmu dan belajar, plus mengimbuhi sisi fun dari proses belajar sehari-hari. Nah, setiap kali potongan dan iklan film ini muncul, Keya berujar, “Pokoknya, aku harus nonton film ini!”. “Kalau sudah diputar, ya”, buru-buru saya timpali. Sebab, kalau tidak, ia masih menganut “paham” apa pun keinginannya harus dipenuhi saat itu juga.
Keya memang baru berumur 5 tahun, tetapi tak jarang dia punya power untuk “menggaet” ayah dan ibunya melakukan sesuatu yang tak terpikirkan. Seperti ketika kami menonton film ini bersama-sama pada akhir pekan lalu. Nampaknya hanya kami yang berisik saat film berlangsung. Ekspresi spontan Keya memang sangat verbal, ia bisa menjerit, memekik atau bergumam selama menonton. Belum lagi saya sendiri jadi “berisik” karena sepanjang film bertugas sebagai “intepreter pribadi” Keya untuk melayani pertanyaan-pertanyaan. Faktor “berisik” lainnya, tak jarang kami kami ikut tertawa keras meskipun sedikit “tertutup” suara nyaring Keya yang menggema di ruang bioskop. Hiks!
Menyukai film animasi, kami bertiga sangat menikmati film keluarga. Khusus genre animasi, selain terhibur oleh kelakukan dan kata-kata spontan para tokoh kartun, saya sendiri tak jarang berpikir ala “kartun” juga. Hahahahah! Terus terang meski tak jarang tampak absurd, namun pikiran dan kata-kata tokoh animasi justru seringkali lebih bijak dibandingkan tokoh film non-animasi. Tentu ini karena sebagian besar film animasi anak bertujuan mengajarkan moralitas dan humanisme pada anak dan keluarga.
Kembali ke kisah putri kerajaan yang diculik sejak masih bayi oleh ibu Gothel, seorang nenek yang serakah ingin “mempertahankan” kecantikan fisik dengan menculik Rapunzel – putri dengan rambut bercahaya yang “dipenjara” selama hampir 18 tahun tinggal di atas menara tanpa pernah keluar melihat dan menikmati hidup .. saya benar-benar terhenyak dengan pesan moral di baliknya.
Berbeda sedikit dari kisah aslinya yang saya baca dalam bahasa Jerman, Rapunzel versi Disney memulai cerita dengan tetesan cahaya matahari yang jatuh ke bumi dan akhirnya mewujud jadi tumbuhan berbunga yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Dari sinilah cerita dimulai karena ketika berkah ini diberikan semesta, hadirlah tokoh serakah yang tak mau berbagi bahkan hanya menguasai sendiri manfaat dari bunga tersebut. Inilah sosok ibu Gothel, yang menculik Rapunzel dan mengaku sebagai ibunya.
Film yang merupakan parodi dari dongeng “serius” karya Grimm bersaudara ini, luar biasa! Penuh kejutan artistik (secara visual) dan komedi (dalam percakapan dan situasi). Terus terang adegan kejar-kejaran tokoh Eugene dengan para prajurit kerajaan terutama kuda “sakti”, Maximus, membuat Keya menjerit-jerit seru sendiri. Eits, sebenarnya saya dan orang tua lain yang menemani anak-anaknya ikut tertawa dan menjerit juga, tentu balik suara nyaring para penonton cilik *pengakuan*.
Meskipun Ibu Gothel berusaha menghapus memori Rapunzel yang selama hampir 18 tahun bersamanya, ternyata cinta dan doa orangtua (aslinya) yang tak putus (selama bertahun-tahun), mengembalikan ingatannya secara total. Saya merinding menyaksikan ratusan lentara yang dilepas orang tua Rapunzel (yang sebenarnya adalah raja dan ratu) setiap malam ulang tahun Rapunzel, selama belasan tahun terutama sejak putri mereka diculik. Kreasi visual tim animasi walt Disney memang canggih. Plus kami menonton film versi 3 D. Jadilah ketika Rapunzel dan Eugene (tokoh pria penyelamat Rapunzel) berada di perahu tepat di bawah ratusan letera yang dilepaskan di malam hari, kita sebagai penonton seperti ikut “mandi cahaya”. Tentu saya bohong, kalau mengaku tidak menangis terharu.
Yang tak kalah membuat saya “terguncang” adalah kata-kata “only mother knows best” yang berulang-ulang dikatakan ibu Gothel setiap kali Rapunzel meminta izin untuk turun dari menara dan melihat dunia. Tak terbayang, kata-kata yang paling tidak, sekali seumur hidup diucapkan seorang ibu pada anaknya, bisa bermakna negatif, jika dilihat dari perspektif anak. Sikap protektif hanyalah kasih sayang “semu” yang menghambat pertumbuhan jiwa anak-anak. Saya pun berusaha selalu mengingat-ingat hal ini. Jadi, jangan pernah meng-klaim, orang tualah yang paling tahu kebenaran. Bohong! Kita sebagai manusia juga harus banyak belajar dalam hidup terutama dari kearifan anak.
Kalau bukan karena menemani Keya, hidup saya di akhir pekan lalu mungkin sangat datar dan tidak berdimensi. Seandainya Ayah dan Bunda coba melihat hubungan Anda dengan anak-anak seperti hubungan murid-guru dan sebaliknya, seharusnya tak ada lagi situasi & kondisi kekerasan pada anak atau hubungan yang saling merugikan orang tua - anak. Mumpung akhir pekan beberapa hari lagi, rencanakan akhir pekan yang berkesan sekaligus menyegarkan! Kita semua layak dapat intermezzo setelah “bekerja” selama seminggu penuh, termasuk si balita.