I Daftar Baru I I
Terbaru !!!
Ayahbunda edisi 11 2012
25 Mei - 10 Juni 2012
Bookmark and Share
Blog Redaksi - Imma
23 September 2010 - 15:59 WIB
Eksplorasinya Kadang-kadang Kejam


Ini seputar aktivitas eksplorasi Kristin (5). Obyek eksplorasinya kali ini adalah binatang. Kalau cicak bisa ngomong, pasti para cicak di rumah saya sudah pada teriak: "Lari! Awas ada Kristin!"  

Pasalnya, cicak di rumah saya cukup banyak dan mereka berkeliaran di lantai rumah. Maklum, saya tidak menggunakan penyemprot serangga untuk membunuh nyamuk. Nyamuk, semut bersayap dan serangga lainnya sering bebas melantai, mengundang cicak untuk ikut melantai. Saya suka pemandangan ini. Sayangnya, predator melata ini sering kalah dengan predator di atasnya lagi, yaitu Kristin yang sangat penasaran dengan bahan baku  cicak. 

Suatu hari di hari Raya, para asisten pulang kampung. Dengan sangat teliti saya menyapu setiap celah dan sudut rumah. Saya menemukan bangkai cicak. Tiba-tiba Kristin berkata, "Ibu, cicaknya dibuang di tempat sampah ya. Jangan dilempar di luar supaya tidak dimakan Gerard (anjing peliharaan). Soalnya cicak itu terbuat dari karet. Nanti Gerard bisa mati."  Kata saya, "Oh ya? Cicak itu terbuat dari karet? Kok kamu tahu?" Kristin menjawab, "Iya. Aku pernah menangkap cicak, aku tarik-tarik badannya dan nggak bisa putus lho. Itu karena badannya terbuat dari karet."

Hmmmm. Baiklah. Saya tidak membantah dan tidak mengatakan bahwa perbuatannya itu sadis atau kejam.  Suatu hari saya memergoki Kristin sedang mengendap-endap begitu melihat para cicak mulai melantai. Laron  yang sudah berada di ujung hidung cicak urung ditelan, karena tiba-tiba Kristin muncul dan menangkap cicak. Cicak yang lain kabur, sementara yang satu ini sempat tertangkap dan melepaskan ekornya. Nah, ini dalil si 5 tahun yang aneh: "Ibu, cicak itu ekornya hidup lho. Dia bisa bergerak, padahal sudah nggak ada badannya. Ini, lihat. Kalau ibu nggak percaya. Cicak itu terbuat dari karet. Ini aku tarik-tarik nggak bisa putus. Badannya apalagi. Kapan-kapan aku  tangkap cicak lagi, aku kasih tahu ibu."

Oooooh... Saya berharap, sebelum dia menangkap lagi dan membawanya pada saya untuk membuktikan bahwa bahan baku cicak adalah karet, Kristin sudah semakin besar dan paham bahwa cicak tidak terbuat dari  karet!

13 July 2009 - 17:39 WIB
Belum Bisa Cuci Piring

Demam Princess menjangkiti si bungsu, Kristin, 4 tahun. Princess on Ice yang ditontonnya bersama saya di Istora Senayan beberapa bulan lalu, menyisakan kesan mendalam. Saat menonton, matanya tak berkedip memandangi para princess yang cantik meluncur di atas es. Beberapa hari setelahnya, ia pun menari-nari menirukan adegan tiap adegan, juga Tinker Bell dengan sand stick-nya.

Suatu malam ia meminta saya menyihirnya jadi Princess. "Sim salabim! Jadi Jasmine!" Teriak saya semangat, karena masih bertenaga. Diapun menari menirukan putri Jasmine. "Lagi, aku disihir lagi," pintanya. "Sim salabim! Jadi Snow White!" teriak saya  'gila'. Beginilah nasib ibu, yang selalu harus mau jadi gila mengikuti imajinasi anak. Dia pun pura-pura makan apel dan jatuh pingsan. "Lagi! Aku disihir lagi!" Katanya.  Sayapun menyihirnya; "Sim salabim!" Kali ini saya lupa menyihirnya jadi apa, karena saya sudah sangat mengantuk dan lelah. Inilah masalah bunda bekerja. Mau main saja ngantuk.

"Eh, ibu. Aku disulap jadi apa nih?" katanya protes, karena ia "mati gaya". "Oh, iya lupa. Kamu kusihir jadi Cinderella!" Kata saya dengan semangat yang dipaksa. Kali ini ia tampak tidak bahagia, katanya; "Eh, jangan! Aku masih kecil, aku belum bisa cuci piring nih! Cinderella kan kerjaannya cuci piring. Aku disihir jadi Aurora saja. Soalnya Aurora kerjaannya cuma tidur...."

Alamak! Bukannya ini cuma pura-pura? Kenapa dibahas? Tak mau kalah set, saya pun mulai; " Meski masih kecil, Cinderella dulu juga cuci piring lho. Tapi, ya sudahlah kamu kusihir jadi Aurora. Sim salabim!"  Jadilah ia Aurora yang tidur 100 tahun.

Logika anak memang lucu. Ia melihat Cinderella dari yang tampak sehari-hari. Tapi saya sebagai ibu, tentu saja takkan melihat Cinderella si tukang cuci piring. Bagi saya, Cinderella adalah simbol kebaikan, keberanian dan ketulusan. Karena saya melihat Cinderella  dari sisi seorang putri bangsawan Eropa yang tentu saja di jaman itu (harus) jago main anggar dan berkuda. Banyak hal yang ia lakukan untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Tapi, untuk sementara biar itu saja dulu yang dipahami Kristin. Cinderella tukang cuci piring. Setelah agak besar, saya akan ceritakan Cinderella versi saya. Agar ia tidak terjangkiti Cinderella Complex.

 Blog Lain
Posting Bulan Terakhir [Imma]
Home - Member Area - Contact Us - Privacy Policy & Disclaimer - Site Map
Portal ini berisi informasi yang bersifat umum dan tidak ditujukan menggantikan saran dokter, psikolog, konselor, terapis dan ahli lainnya.
Konsultasikan keluhan atau masalah spesifik anak Anda dan keluarga kepada ahli.
Copyright © 2012 - 2013 Ayahbunda. All rights reserved.
Dilarang menyalin, mempublikasikan dan mengutip sebagian atau seluruh isi portal tanpa seizin Ayahbunda.
Tampilan terbaik gunakan IE 7+ / Mozilla Firefox 3+