Demam Princess menjangkiti si bungsu, Kristin, 4 tahun. Princess on Ice yang ditontonnya
bersama saya di Istora Senayan beberapa bulan lalu, menyisakan kesan mendalam.
Saat menonton, matanya tak berkedip memandangi para princess yang cantik meluncur di
atas es. Beberapa hari setelahnya, ia pun menari-nari menirukan adegan tiap
adegan, juga Tinker Bell dengan sand stick-nya.
Suatu malam ia meminta saya menyihirnya jadi Princess. "Sim salabim! Jadi
Jasmine!" Teriak saya semangat, karena masih bertenaga. Diapun menari menirukan
putri Jasmine. "Lagi, aku disihir lagi," pintanya. "Sim salabim! Jadi Snow
White!" teriak saya 'gila'. Beginilah nasib ibu, yang selalu harus mau jadi
gila mengikuti imajinasi anak. Dia pun pura-pura makan apel dan jatuh pingsan.
"Lagi! Aku disihir lagi!" Katanya. Sayapun menyihirnya; "Sim salabim!" Kali ini
saya lupa menyihirnya jadi apa, karena saya sudah sangat mengantuk dan lelah.
Inilah masalah bunda bekerja. Mau main saja ngantuk.
"Eh, ibu. Aku disulap jadi
apa nih?" katanya protes, karena ia "mati gaya". "Oh, iya lupa. Kamu kusihir jadi
Cinderella!" Kata saya dengan semangat yang dipaksa. Kali ini ia tampak tidak
bahagia, katanya; "Eh, jangan! Aku masih kecil, aku belum bisa cuci piring nih!
Cinderella kan kerjaannya cuci piring. Aku disihir jadi Aurora saja. Soalnya
Aurora kerjaannya cuma tidur...."
Alamak! Bukannya ini cuma pura-pura? Kenapa
dibahas? Tak mau kalah set, saya pun mulai; " Meski masih kecil, Cinderella dulu
juga cuci piring lho. Tapi, ya sudahlah kamu kusihir jadi Aurora. Sim salabim!"
Jadilah ia Aurora yang tidur 100 tahun.
Logika anak memang lucu. Ia melihat Cinderella dari yang tampak
sehari-hari. Tapi saya sebagai ibu, tentu saja takkan melihat Cinderella si
tukang cuci piring. Bagi saya, Cinderella adalah simbol kebaikan, keberanian dan
ketulusan. Karena saya melihat Cinderella dari sisi seorang putri bangsawan
Eropa yang tentu saja di jaman itu (harus) jago main anggar dan berkuda. Banyak
hal yang ia lakukan untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Tapi, untuk sementara
biar itu saja dulu yang dipahami Kristin. Cinderella tukang cuci piring. Setelah
agak besar, saya akan ceritakan Cinderella versi saya. Agar ia tidak terjangkiti
Cinderella Complex.