I Daftar Baru I I
Diskusi Ayahbunda
Topik
:
Memilih Sekolah Terbaik untuk Anakku - bagian ke-2 Diskusi LIVE Ayahbunda Preschool Fair Fever 2010 (Umum)
Pembuat
:
Andi Maerzyda A. Th [09 Mar 2010 - 13:24]
Total Pesan
:
55 [0 pesan dari anda]
Status Diskusi
:
Open
Moderator
:
Andi Maerzyda A. Th
Urutan
:

Hai Mbak Linda, salam kenal juga. Langsung saya jawab nih. Kebetulan banget pertanyaan ini beberapa kali kita bahas di diskusi kita hari ini. Jadi boleh juga lho Mbak, mengintip jawaban-jawaban lainnya.

Memang terkadang ada juga anak yang terlihat bosan. Itu terjadi pada anak yang sebetulnya cerdas, dan ternyata gurunya kurang bisa memberikan stimulasi yang cukup buat si cerdas ini. Nah, itu artinya jadi tanggungjawab orangtua kan untuk memberi stimulasi tambahan buat anaknya. Di lapangan (maksud saya di kebanyakan sekolah), sebetulnya anak yang bosan tak terlalu banyak kok. Soalnya nih, setiap tahapan kelas kan punya tingkat kesulitannya sendiri. Ini dia yang memacu anak untuk jadi tetap bersemangat ke sekolah.

Yang membuat bosan tuh biasanya kalau gurunya galak atau kurikulumnya terlalu menuntut sementara ia tak punya kesempatan bermain yang bebas. Sepanjang ia punya kesempatan bermain bebas, dan betul-betul mengeksplorasi dunianya, dijamin deh dia akan senang belajar. Kalau banyak bermain di rumah, dia tak harus sekolah kok.

Semoga bisa menjawab ya Mbak.

Salam hangat,

Nina



--- 12 Mar 2010 12:53, TAN LINDA WIJAYA menulis:
Hai, Salam kenal ya.....
 langsung ajanya saya mau tanya, sekarang putri saya berumur 2 thn 2 bln. rencananya tahun ini masuk Play Group tp ternyata usianya kurang jadi harus masuk ke KBK. namun sekarang saya jadi binggung klu masuk ke KBK itu berarti putri saya harus sekolah selama 4 thn baru bisa naik ke SD, pertanyaannya apa nantinya putri saya akan bosan krn kelamaan di PG dan TK krn 4 thn ? Karna saya banyak dengar dari teman2 saya klu anak mereka bosan setelah duduk di SD (krn sudah lama di PG dan TK) , dan apa ada cara lain agar tidak bosan atau memang boleh klu saya tidak sekolahkan dulu dan tunggu sampai putri saya berumur 3 thn ? dan sekolah yang bagai mana yang seharusnya di pilih oleh orang tua?

Thanks ya,
Linda

Dear Mama Naysa,

Terimakasih sudah mengikuti diskusi ini. Nanti Mama Naysa boleh lho untuk mengecek kembali jawaban-jawaban lain yang sudah masuk, akan ketemu juga jawaban untuk pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan ini.

Tapi bolehlah saya jawab lagi. Jadi nih, untuk masuk ke playgroup sebetulnya tak ada kesiapan tertentu. Soalnya nih, masuk playgroup sebetulnya bukanlah persiapan masuk SD / TK, tapi lebih bertujuan untuk menstimulasi anak sesuai dengan kebutuhan usianya. Orangtua sebetulnya cukup beruntung untuk memasukkan anak ke playgroup, karena bisa mendapatkan contoh-contoh kongkrit tentang bagaimana cara menstimulasi anaknya. Orangtua yang memasukkan anak ke playgroup juga bisa mengecek apakah anaknya memang berkembang sesuai dengan usianya, atau ada keterlambatan yang harus segera dikejar.

Yang pasti nih, masuk playgroup itu tak harus. Selama ada yang bisa menjaga anak dengan aman di rumah dan bisa menstimulasi, tak harus lho masuk sekolah. Anak bisa saja bermain dengan tenang di rumah yang punya pola pengasuhan yang baik. Dengan begitu, malah jadi hemat kan pengeluaran rumah tangga.

Soal kelancaran bicara, usia 17 bulan masih normal kok kalau belum lancar bicara, asalkan dia sudah mengerti kata-kata sederhana sehari-hari yang diucapkan orangtua. Coba rangsang lagi bicaranya dengan lebih banyak meminta anak bicara. Cara lain adalah dengan menstimulasi otot bicaranya. Bagaimana? Ajak dia meniup (tiup balon, tiup tisu, tiup cat di kertas, dll) atau menyedot (dari sedotan biasa atau sedotan yang melingkar-lingkar). Selamat mencoba!

Salam buat Naysa,

Nina



--- 12 Mar 2010 12:45, Mama Naysa menulis:
Putri saya Naysa berumur 17 bln. Tahun depan di saat umurnya sudah 2 tahun 8 bln, saya ingin memasukkan naysa k playgroup. Yang ingin saya tanyakan, sudah sampai manakah kemampuan dasar anak yang bs dinyatakan bahwa anak tersebut sudah siap untuk masuk playgroup? sampai skrg, naysa blm lancar dalam mengucapkan kata, tp klo d ajak ngobrol dia sudah sedikit paham.
 Terima kasih

Salam kenal Bu Maya,

Kabar baiknya, sekarang memang usia masuk sekolah sudah lebih maju dibandingkan jaman dulu. Jadi rata-rata usia 6 tahun sudah masuk SD. Kalau mau lebih mantap, langsung saja tanya ke sekolahnya. Sasar beberapa sekolah yang menurut Ibu cukup berkualitas dan terjangkau harganya (dan tak jauh dari rumah tentunya). Coba kunjungi masing-masing sekolah itu dan langsung tanya informasi di sana.

Jangan terlalu memaksa anak untuk terlalu muda masuk sekolah, toh akibatnya justru merugikan si anak kok.

OK Bu!

Salam buat Arka ya!

Nina



--- 12 Mar 2010 12:51, ibu arka menulis:

Saya ibu maya..anak saya arka umur 4 thn 7 bln..saat ini arka sudah sekolah PAUD, rencana saya tahun ini ingin memasukkan arka TK. Saya ingin tanyakan, usia berapa yang tepat untuk memasukkan anak saya ke SD karena kalo saya hitung thn 2011 usianya baru 6 thn kurang..Biasanya patokan batas umur untuk masuk SD di Jakarta, berapa tahun?


terima kasih



Salam kenal,

Mbak, saya punya si kecil (Nina) bulan depan 2 th. dlu sih jujur saya tidak pernah kepikiran untk masukin playgroup. tapi melihat perkembangan jaman sekarang kok sepertinya seperti tuntutan atau krn masih di dlm golden age makanya perlu pendidikan yang bisa mengarahkan dengan benar.

kebetulan Nina pernah ikut acara seperti sekolah (tapi cmmainan) dan itu hanya 2 jam saja. sepertinya dia suka sekali. setiap hari dia selalu pamit mau sekolah katanya. dan dia juga sepertinya senang belajar. dilingkungan rumah temannya sudah masuk sd semua jadi dia selalu lihat teman-temannya sekolah.

saya berniat mau masukin dia ke playgroup, menurut suami klo bisa yang pengantarnya bhs inggris sekalian sampai TK, tapi nanti masuk SDnya cari yang biasa saja..

setelah saya survei mengapa playgroup dan PAUD itu berbeda?utk biayanya..memangnya bedanya apa ya?

menurut mbak gmn?apakah tdk terlalu cepat utk masuk sekolah?trs masuk yang seminggu berapa kali 2x atau 3x atau 5x?

terima kasih

nita
CLOSING DISKUSI: Memilih Sekolah Terbaik untuk Anakku - bagian ke-2
Dear all,
tergelitik oleh pertanyaan orang tua yang menjadikan usia sebagai standar kematangan anak, saya mau share sedikit pengalaman pribadi saya. Boleh ya! Di waktu kecil saya pertama kali masuk prasekolah di tanah kelahiran saya (Jerman) di usia 3 tahun. Di sana, setiap flat atau apartemen memiliki semacam klub anak yang rutin mengadakan kegiatan sore hari, di lantai dasar flat yang melibatkan ibu-ibu dengan anak-anak balita mereka. Kebetulan salah satu tetangga adalah juga guru TK. Ibu guru inilah yang menyarankan ibu saya untuk mengirim saya ke preschool melihat kesiapan saya mengikuti kegiatan playgroup. Bahasa pengantar, tentu bahasa Jerman, karena saya justru menguasai bahasa Jerman sebagai bahasa pertama. Bahasa Indonesia saya pahami secara pasif karena praktis yang saya gunakan sehari-hari di rumah dan dalam lingkup sosial adalah bahasa Jerman yang baik dan benar.

Saya meneruskan ke TK ketika saya diobservasi oleh guru TK siap untuk beranjak ke TK, jadi di prasekolah yang sama tetapi tingkatan yang berbeda adalah 2 tahun. Ketika saya beranjak usia 5 tahun, kami sekeluarga pindah kota dan di waktu yang sama, saya masuk ke kelas persiapan masuk SD. Menjelang masuk SD, orang tua saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Oleh karena saya tidak menguasai bahasa Indonesia, saya ditolak masuk SD. Saya ingat betul betapa hampir putus asa orang tua saya mencari sekolah yang mau menerima saya sebagai murid, apa adanya, artinya, dengan kondisi saya harus belajar bahasa Indonesia dulu. Saat itu sekolah internasional dilarang menerima murid WNI. Akhirnya saya diterima di sekolah bilingual (Indonesia & Inggris) yang memberi persyaratan, saya harus turun kelas lagi ke TK (kelas nol) untuk memberi saya kesempatan belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu. Akhirnya, saya duduk di TK ketika usia pantas masuk SD. Tentu yang terpukul orang tua saya, karena mereka kasihan melihat saya akhirnya sejajar dengan anak-anak yang usianya 2 - 3 tahun di bawah saya. Di waktu yang sama hikmahnya, di usia 7 - 8 tahun, saya menguasai 3 bahasa sekaligus (Jerman, Inggris dan Indonesia) dan saya secara aktif menggunakan ketiga bahasa tersebut secara lisan maupun tulisan. Karena saat itu saya mengalami stres, akibat pindah rumah, saya mengatasinya dengan menulis diary, cerpen atau novel, dalam ketiga bahasa tersebut.

Lalu apa yang terjadi? Apakah kemudian saya "menderita" selama saya sekolah dari TK sampai SMA dan bahkan kuliah (dan hampir selalu jadi murid tertua di kelas)? SAMA SEKALI TIDAK!!! Sebaliknya, saya hampir selalu jadi "JUARA" di kelas dalam setiap tingkatan pendidikan. Bukan ... saya sama sekali bukan anak jenius! IQ saya biasa saja kok! Kuncinya adalah karena kematangan (perkembangan mental dan juga otak) saya dapat mencerna semua pelajaran dengan lebih mudah dan dengan pemahaman yang dalam. Pada akhirnya saya juga lulus sarjana dengan nilai ... yang kata orang lain luar biasa. Buat saya, sebaliknya, saya merasa biasa saja. Tak ada yang istimewa. Prestasi terbesar dalam hidup saya adalah saya berhasil memacu semangat untuk belajar bahasa Indonesia dan di waktu yang sama belajar bahasa Inggris (karena di sekolah saya anak-anak wajib berbahasa Inggris selama di kelas). Prestasi orang tua saya adalah mendukung kematangan saya dengan mendampingi selama saya mengalami kesulitan berbahasa dan menyesuaikan diri dengan pola pendidikan Indonesia (karena berbeda sekali budaya dan pola hubungan murid-guru antara di Jerman dan Indonesia). 

Pelajaran dari pengalaman hidup saya:
- Tak perlu tergesa mengejar kematangan dan kesiapan anak untuk masuk jenjang pendidikan formal. Setiap anak punya pace atau kecepatan berbeda. Yang bisa dilakukan orang tua adalah mendukung kematangan anak, bukan mempercepat atau merangsang anak agar cepat-cepat matang.
- Kesuksesan bukan diukur pada kemampuan anak mengejar pelajaran atau kurikulum, melainkan, kematangan anak dalam menghadapi masalah yang dihadapinya dalam hidup. Misalnya, ketika anak gagal menguasai suatu ketrampilan, maka anak dikatakan sukses ketika ia menyadari kesulitan yang dihadapi dan berupaya mengatasi kesulitannya, baik secara mandiri maupun dalam bimbingan orang tua.
- Menurut pengalaman saya, istilahnya "lebih banyak manfaat daripada mudharatnya", memasukkan anak ke lembaga pendidikan formal sesuai kematangan anak, ketimbangan terlalu dini (dari segi usia dan kematangan).

Pertanyaan retoris nih dari saya buat sesama orang tua dari balita: Dengan mengirimkan anak ke prasekolah, apakah yang Anda tuntut atau harapkan (sejujurnya). Apakah sekadar ikut tren? Atau, dalam rangka memenuhi kebutuhan anak? Sekadar gengsi? Atau, sekadar mengikuti aturan Diknas? Mudah-mudahan Bunda dan Ayah masing-masing punya jawabannya! Sukses untuk semua. Mudah-mudahan hasil diskusinya ini berguna bagi kita semua. Terima kasih atas partisipasinya!

    
Salam,
Andi Maerzyda A. Th.
Web Producer Ayahbunda


Angket Ayahbunda
Home - Member Area - Contact Us - Privacy Policy & Disclaimer - Site Map
Portal ini berisi informasi yang bersifat umum dan tidak ditujukan menggantikan saran dokter, psikolog, konselor, terapis dan ahli lainnya.
Konsultasikan keluhan atau masalah spesifik anak Anda dan keluarga kepada ahli.
Copyright © 2012 - 2013 Ayahbunda. All rights reserved.
Dilarang menyalin, mempublikasikan dan mengutip sebagian atau seluruh isi portal tanpa seizin Ayahbunda.
Tampilan terbaik gunakan IE 7+ / Mozilla Firefox 3+