Kenali Hipogonadisme pada Pria

 

Fotosearch

Apakah Anda akhir-akhir ini merasa kurang bergairah, lemas, kurang bertenaga serta mengalami penurunan prestasi di kantor? Bisa jadi, Anda sedang mengalami sindroma defisiensi hormon testoteron atau biasa disebut hipogonadisme.

Kenali Hipogonadisme
Hipogonadisme adalah kondisi pada pria yang mengalami kegagalan testis memproduksi testoteron secara normal, secara fisiologis dan jumlah spermatozoa, akibat adanya gangguan pada salah satu atau lebih level pada poros hipotalamus-hipofisis-gonad (The Endocrine Society Clinical Practice Guideline). Mayoritas kasus memang ditemui pada usia di atas 45 tahun, namun ternyata hipogonadisme bisa muncul sejak janin, memasuki masa pubertas, dan ketika dewasa sekalipun (tidak ada patokan usia pasti).

Ini Gejalanya!
Gejala hipogonadisme tergantung kapan penderita terkena dan seberapa berat hipogonadismenya. Pada janin, jika saat usia kehamilan kurang dari 16 minggu, maka akan memengaruhi pembentukan jenis kelamin bayi laki-laki yang tidak lengkap (phenotype). Jika sebelum pubertas, maka akan memengaruhi pertumbuhan genetalia externa, seperti penis, testis maupun skrotumnya. Bila hipogonadisme terjadi setelah pubertas, maka akan memengaruhi perubahan secara mental dan emosional mulai dari gangguan suasana hati (mood) berujung depresi, daya tahan tubuh menurun, kerap merasa kesulitan konsentrasi hingga cepat merasa lelah, penurunan BMD (bone mineral density) yang meningkatkan risiko patah tulang.
Selain itu, hipogonadisme bisa mengubah karakteristik fisik serta merusak fungsi reproduksi yang semestinya, seperti penurunan kekuatan dan massa otot, pengembangan jaringan payudara (gynecomastia), disfungsi ereksi, penurunan libido, dan penurunan pertumbuhan rambut pada tubuh.

Beda Penyebab
Menurut American Association of Clinical Endocrinologist, penyebab hipogonadisme pada pria berbeda-beda, tergantung penyebab yang dikelompokkan menjadi 3 bagian, sebagai berikut:

a) Hipogonadisme primer, terjadi akibat adanya kelainan pada testis, kelainan genetik, maupun peradangan akut pada testis (orchitis). Salah satu contohnya sindrom Klinefelter (adanya keadaan abnormal pada kromosom seks), akibat pengobatan kanker, radang pada buah zakar, dan trauma pada testis akibat kecelakaan.

b) Hipogonadisme sekunder, atau adanya gangguan pada kelenjar hipotalamus (pituitary) atau bagian otak yang memberi sinyal pada testis untuk memproduksi testoteron. Misalnya, sindrom Kallman (perkembangan hipotalamus yang abnormal), obesitas, HIV/AIDS, dan tumor.

c) Gabungan dari hipogonadisme primer dan sekunder, yakni paparan toksin pekerjaan, seperti radiasi ion. Selain itu penyakit Sistemik Kronik (meliputi gagal ginjal kronis, sirosis hati, Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau PPOK, Parkinson’s Disease, dan AIDS), penyakit non gonadal akut yang berat (tindakan bedah besar), obat-obatan, dan proses penuaan.

Segera Atasi!
Risiko lebih jauh pada pria dewasa dapat berpengaruh pada infertilitas ayah, sebab adanya masalah pada sperma di testis, serta berisiko pula terkena osteoporosis. Sebaiknya segera temui dokter, sebab hipogonadisme dapat diterapi sesuai penyebabnya. Hipogonadisme primer dapat diterapi dengan testoteron undekonat, sementara hipogonadisme sekunder dapat diterapi sesuai penyebabnya. Namun, bila terjadi disfungsi ereksi, dapat diberikan terapi tambahan berupa erektogenik seperti sidenafil, verdenafil, maupun tadalafil.

KONSULTASI dr. Nugroho Setiawan, MS, SpAnd, RSUP Fatmawati Jakarta

(FIN/ERN)

 



Artikel Rekomendasi

post4

Imbauan IDAI Soal Pneumonia Misterius

Peningkatan kasus pneumonia misterius atau undiagnosed pneumonia yang disebabkan mycoplasma pneumonia di Cina penting dicermati, diwaspadai, dan ditindaklanjuti, namun tidak perlu menimbulkan kepanika... read more