Sayur dan Buah Organik vs Non Organik

 

Sayur dan buah-buahan non-organik diduga mengandung residu pestisida yang bisa meningkatkan risiko penyakit kanker. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya membeli pangan organik yang harganya 30 – 50 persen lebih mahal. Benarkah?

Fakta saat ini. Melvin Heyman, dokter anak dari University of California, San Fransisco, AS, mengatakan bahwa residu pestisida dalam kadar yang rendah tidak berbahaya bagi anak–anak. Itu sebabnya, penggunaan senyawa pestisida di Indonesia untuk sayuran dan makanan sudah diatur tingkat residunya, sehingga aman bagi konsumen. Sayangnya, masih banyak petani yang menggunakan pestisida secara irasional, yakni berlebihan dan tidak mengikuti standar, sehingga dikhawatirkan banyak produk pertanian Indonesia yang mengandung residu pestisida di atas ambang maksimum.

Sebaiknya. Kalau ditinjau dari sisi pencemaran zat-zat kimia, tentu bahan pangan organik lebih aman. Tapi harus diingat, bebas bahan kimia belum tentu aman. Misalnya, pemberian pupuk kandang yang disebarkan secara tidak terukur dan tidak terarah, bisa saja mencemari buah-buahan atau sayur-sayuran. Tanaman tersebut bisa kena bakteri E. coli dari pupuk kandang.
 
Berikut cara menyiasati bahan pangan non-organik agar lebih aman:  
  • Buah-buahan sebaiknya dicuci bersih dan akan lebih aman bila dikupas. Bila dikonsumsi dengan kulitnya, pastikan lapisan lilinnya juga sudah hilang. Gunakan bahan pencuci yang food grade.
  • Sayuran semisalnya kol, dapat Anda buang bagian paling luar, yang biasanya paling banyak residunya. Jika tidak mungkin membuang bagian luar, cuci bersih atau kupas.

Seringkali kita memang tidak bisa menghindari pengaruh-pengaruh dari bahan kimia yang terdapat pada makanan. Yang kita bisa lakukan adalah meminimalisir risikonya.

 

Artikel Rekomendasi

post4

Deteksi Dini Kanker Serviks

Pap smear salah satu cara yang ampuh untuk mendeteksi keberadaan kanker leher rahim atau kanker serviks, pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara ini. ... read more