Jumlah Kata yang Harus Bisa Disebutkan Anak Sebelum 2 Tahun

 

Foto ilustrasi (Freepik)


Kemampuan berbicara merupakan salah satu tahap perkembangan anak yang banyak dinantikan oleh orang tua. Saat melihat anak sudah mulai mengucapkan sepatah kata, meski sesederhana 'Maaa..', 'Paaa...' atau 'Nen', Bunda atau Ayah pasti merasa bahagia. Karena ini artinya, anak akan mencapai satu lagi tahap tumbuh kembangnya, yaitu kemampuan berbicara. 

Sebaliknya, apabila anak belum juga memperlihatkan tanda-tanda untuk belajar berbicara, orang tua pun mulai cemas. Terlebih jika anak sudah memasuki usia tertentu, misalnya 2 tahun. Kecemasan orang tua bisa jadi semakin bertambah, ketika melihat anak tetangga yang sepantaran dengan anak sudah 'cerewet' banget, tetapi anak sendiri, kok, baru bisa nunjuk-nunjuk alias belum ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. 

Lantas bagaimana? Apakah itu artinya anak mengalami keterlambatan kemampuan berbicara, dan kapan orang tua harus memeriksakan anak ke dokter ahli jika menemukan kondisi tersebut?

Menurut dokter anak spesialis neurologi, dr. Herbowo Soetomenggolo, Sp.A(K), jika anak belum bisa berbicara, bukan berarti ia mengalami keterlambatan. Dengan kata lain, kemampuan berbicara anak mungkin lebih lambat dibanding teman sebayanya, tetapi belum tentu ia masuk kategori anak yang terlambat berbicara. 

Namun, yang dapat menjadi pedoman bagi orang tua adalah, kenali dulu tanda bahaya atau red flag yang terkait dengan kemampuan berbicara anak. Jika orang tua sudah memahami red flag ini, maka selanjutnya orang tua bisa menentukan apakah perlu membawa anak terapi ke dokter atau tidak. 

"Jadi, soal terlambat bicara, nomor satu kita harus mengenali red flag atau bendera merah dulu. Maksudnya bendera merah ini, sudah setop, jangan dicoba-coba terus, tapi sekarang silakan datang ke dokter anak," kata dr. Herbowo di acara Instagram Live bersama Ayahbunda, Senin, 29 Juni 2020.

Bendera merah tentang terlambat bicara, kata dr. Herbowo, ada beberapa macam. Tetapi yang paling dasar harus dipahami oleh orang tua adalah anak harus merespons terhadap suara. Karena kemampuan berbicara anak memiliki kaitan yang sangat erat dengan organ pendengarannya. 

"Yang paling gampang begini, pada usia berapa pun, enggak ada respons pendengaran, itu namanya red flag. Misalnya ada suara bajaj lewat, anaknya cuek, ada orang ajak ngomong cuek. Itu usia berapa pun (jika tak ada respons pendengaran), masalah. Walaupun baru lahir. Jadi meski baru lahir harusnya ada respons terhadap suara," kata dr. Herbowo yang praktik di RSIA Bunda Jakarta ini.

Selanjutnya, ada beberapa indikasi perkembangan kemampuan berbicara pada anak. Bunda dan Ayah boleh menggunakan metode dasar ini, seperti yang dijelaskan oleh dr. Herbowo: 

- Umur sembilan bulan, anak harus sudah bisa bubling (mengoceh). Misalnya: Tatata.. Mamama.. Papapa..

- Usia dua belas bulan, minimal anak harus sudah bisa mengucapkan papa atau mama. 

- Usia 15 bulan, setidaknya anak harus dapat mengucapkan satu kata, di luar kata mama dan papa.

- Usia 18 bulan, anak harus sudah bisa mengucapkan empat kata sampai lima kata.  

- Di usia 2 tahun, anak seharusnya sudah bisa mengucapkan 50 kata dan menggabungkan kata.

"Untuk anak usia 2 tahun, menurut buku harusnya 50 kata, tapi kadang saya suka excuse menjadi 20 kata, karena 50 kata itu sepertinya cukup banyak," kata dr. Herbowo. 

Apabila sejak bayi baru lahir belum ada respons terhadap suara, orang tua dapat mencurigai kondisi tersebut sebagai tanda bendera merah bahwa anak mungkin memiliki masalah dengan kemampuan berbicaranya, dan sebaiknya orang tua segera membawa anak ke dokter ahli atau profesional. 

Jadi Bunda dan Ayah, jika Anda menemukan bahwa anak mungkin belum lancar berbicara seperti anak-anak lain seusianya, tetapi masih dalam tahap milestone seperti yang dikatakan dr. Herbowo, seharusnya tidak perlu terlalu khawatir. Anak Anda mungkin sedikit lambat kemampuan berbicaranya, namun bukan berarti terlambat. 

Anda dapat menyaksikan video wawancara Ayahbunda dengan dr. Herbowo di akun Instagram @ayahbunda_. 


(ALI)

 

 



Artikel Rekomendasi

post4

Tak Perlu Sayur dalam MP-ASI

Jangan asal berikan sayur sebagai MPASI si kecil Bunda! Ada kandungan di dalam sayur yang menjadi antinutrien sehingga menghambat penyerapan zat gizi dalam bahan makanan lainnya. ... read more