Panduan Jika Anak-Anak Harus Isolasi Mandiri (Isoman)

 

Foto: shutterstock



Anak-anak tidak kebal dari penularan COVID-19. Belakangan, bahkan angka anak tertular COVID-19 juga ikut meningkat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah menyampaikan bahwa dari seluruh kasus positif COVID-19, sebanyak 12,5% adalah anak-anak, dengan detail 2,9% balita usia 0-5 tahun dan 9,6% adalah anak usia sekolah atau 6-18 tahun. Artinya, 1 dari 8 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 adalah anak-anak.
 
Sama dengan orang dewasa, jika tanpa gejala atau bergejala ringan, maka anak disarankan untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah. Namun, tentu saja, anak sangat memerlukan dukungan dan pertolongan orang tua dalam menjalani isoman. Menurut Dr. dr. Nina Dwi Putri, SpA(K), MSc(TropPaed) - Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dalam webinar yang diadakan RSCM pada 25 Juni 2021 lalu, jika semua anggota keluarga positif, maka isolasi mandiri dilakukan lebih kurang sama dengan isolasi mandiri dewasa.
 
Dokter Nina memaparkan panduan umum untuk melakukan isoman dan bisa disesuaikan berdasarkan situasi tiap keluarga. “Karena tiap keluarga memiliki situasi berbeda-beda. Panduan ini untuk anak-anak yang berbeda status positif/negatif dengan orang tua atau pengasuhnya,” kata dr. Nina.
 
Berikan Dukungan Psikologis pada Anak
“Dukungan psikologis mempercepat penyembuhan,” kata dr. Nina.
  • Ceritakan kepada  anak alasan ia harus menjalani isolasi mandisi. Misal, “Agar menjaga keluarga tetap sehat,” atau “Kamu (anak-anak) adalah ‘ksatria isoman’, yang melindungi orang lain supaya tidak tertular COVID-19.”
  • Tenangkan anak jika merasa gelisah dan diskusikan mengenai kekhawatiran-kekhawatiran anak.
  • Orang tua tetap mengasuh anak, karena bagaimana pun mereka harus dalam pengawasan orang dewasa. Namun, usahakan untuk menghindari paparan  cairan tubuh anak, seperti ingus dan air liurnya. Hindari mencium anak. Bolehkah anak digendong? “Boleh. Anak-anak kecil tetap butuh support kita (orang tua), lakukan dengan prokes, ganti baju, sering cuci tangan. Pakai sarung tangan saat mengganti popoknya,” saran dr. Nina.
  • Jika anak sudah mandiri, carikan aktivitas yang bisa dikerjakan sendiri. “Ajarkan anak remaja untuk merawat diri sendiri dan membersihkan kamarnya. Aktivitas lain, anak-anak tetap boleh bermain, kok. Bisa video call dengan teman atau saudara juga, kan, kalau rindu bertemu mereka.
  • Jika di rumah ada balkon dan halaman, mereka bisa sejenak menikmati suasana luar rumah, tapi wajib pakai masker dan jaga jarak di area terbatas tersebut.
 
Siapa yang Harus Merawat Anak?
  • Orang tua/pengasuh yang risiko rendah terhadap gejala berat COVID-19. Orang yang berisiko tinggi seperti kakek-nenek, atau seseorang dengan penyakit kronis (ginjal, diabetes, darah tinggi, kanker, dan lain-lain).
  • Cukup 1 orang tua/pengasuh yang mengasuh anak untuk menghindari paparan.
  • Orang tua/pengasuh yang negatif namun mengasuh anak positif, tetap melakukan isoman setelah anak selesai isolasi. Karena, bisa saja dia negatif, padahal sudah terpapar dan masa inkubasi.
  • Jika orang tua positif namun anak masih negatif, anak mungkin pada masa inkubasi, hindari menitipkan anak kepada pengasuh dengan risiko tinggi.
 
Protokol Kesehatan di Rumah
  • Anak usia 2 tahun ke atas, atau yang sudah pandai mengenakan dan melepas masker, dianjurkan mengenakan masker. “Banyak anak (balita) yang sudah pintar pakai masker. Tapi, anak-anak kecil harus dicek apakah dia bisa melepas masker sendiri atau tidak, supaya tidak terjadi hambatan jalan napas ketika dia tidak bisa melepasnya sendiri,” kata dr. Nina.
  • Ajarkan anak memakai masker dengan tepat, jangan melorot atau salah posisi seperti menutup matanya.
  • Berikan ‘istirahat masker’, jika anak berada di ruangan sendiri atau dapat menjaga jarak 2 meter dari pengasuh.
  • Pengasuh yang berada di dalam ruangan yang sama harus menggunakan masker dan pelindung mat ajika memungkinkan.
  • Masker tidak perlu digunakan pada anak kecil jika tidur.
  • Cuci tangan sesering mungkin. Bersihkan secara rutin area-area yang sering disentuh, misal kamar mandi, keran, gagang pintu. Begitu pula dengan benda-benda yang sering dipegang anak
  • Pisahkan anak di area sendiri, termasuk area makan, bermain, tidur, dan kamar mandi jika memnungkinkan. 
  • Jika ada anggota keluarga lain yang positif, maka dapat diisolasi bersama.
  • Jika anak dan orang tua berbeda status, berikan jarak tidur 2 meter di Kasur terpisah.
  • Patikan sirkulasi udara ruangan anak baik, buka jendela secara berkala jika memungkinkan.
  • Hindari bertukar alat pribadi, seperti alat makan, mandi, dan sebagainya.
 
Jika Anak Bergejala
  • Sebagian besar anak bergejala ringan, seperti batuk, pilek, demam, mencret, muntah, ruam-ruam.
  • Sebagian besar anak hanya memerlukan ‘IsoMantau’ (isolasi mandiri dan pemantauan), walaupun bergejala ringan.
  • Utamakan telekonsultasi atau dapat periksakan anak ke fasilitas yang melayani COVID-19 jika diperlukan. Cek fasilitas kesehatan mana yang bisa melayani COVD-19, di sana sudah memberlakukan prokes ketat, sehingga risiko menularkan lebih rendah.
  • Perhatian khusus untuk anak dengan penyakit menahun: kanker, sakit ginjal, jantung, paru, autoimun, diabetes mellitus, darah tinggi.
 
Pengobatan dan Pemantauan di Rumah
  • Pemantauan adalah obat utama. Pantau suhu, asupan makanan, saturasi (jika memiliki oksimeter) satu kali sehari. “Pantau aktivitas anak, kalau lemas konsultasikan ke dokter. Kalau masih petakilan (aktif), derajat (gejalanya) ringan. Kalau diare, perhatikan tanda-tanda dehidrasi,” pesan dr. Nina.
  • Perlukah antivirus dan antibiotik? Jangan buru-buru kasih obat. Sebagian besar anak akan sembuh sendiri, tidak perlu antivirus atau antibiotik.
  • Orang tua membantu anak supaya daya tahan tubuhnya membaik sehingga tidak perlu obat. Obat yang diberikan hanya untuk membuat nyaman tubuh, misal obat demam, obat pilek, jika kondisi sakitnya mulai mengganggu aktivitasnya
  • Beri makanan bergizi tinggi dan kaya vitamin, seperti sayur dan buah. Dapat diberikan tambahan vitamin C, D3, zinc.
  • Jika dengan pemberian penurun panas, seperti paracetamol, demamnya turun, kapan anak bisa dibawa ke RS? “Jika demam, (tapi) aktif, bisa makan-minum, tidak usah ke dokter, pantau saja. Atasi demam secara efisien dan tetap pantau. Yang perlu hati-hati adalah demam yg persisten 5-7 hari tidak turun, membuat anak lemas, tidak bisa makan dan minum,” kata dr. Nina.
 
Tanda Bahaya dan Perhatian Khusus
  • Anak banyak tidur.
  • Napas cepat.
  • Ada cekungan di dada, hidung kembang kempis.
  • Saturasi oksigen kurang dari 95%.
  • Muntah dan mencret, tidak bisa masuk asupan.
  • Terdapat tanda dehidrasi.
  • Kejang.
  • Demam terus menerus, bisa disertai mata merah, ruam, leher bengkak.
  • Anak dengan penyakit penyerta/kronis.
 
Ibu dan Bayi Baru Lahir
Bagaimana jika ibu positif COVID-19 namun bayi negatif? Jika ibu tidak bergejala atau bergejala ringan, maka ibu dapat terus menyusui, jika bisa menjaga protokol kesehatan, yakni pakai masker, cuci tangan, dan etika batuk.
 
Jika ibu bergejala, tidak bisa merawat bayi, atau tidak mungkin melakukan protokol kesehatan: perah ASI dengan menerapkan protokol kesehatan dan cuci botol ASI sebelum diberikan kepada pengasuh lain. “ASI tetap terbaik untuk bayi. Ada antibodi terbaik (dalam ASI) untuk bayi supaya tidak terpapar virus,” kata dr. Nina.
 
Selesai Isolasi
Umumnya, gejala akan hilang dalam 14 hari. Jika sudah lewat 14 hari, gejala tidak ada, tapi tetap positif, bagaimana? Menurut dr. Nina, mungkin hal ini terjadi karena terdapat penyakit kronis. “Mungkin daya tahan tubuh anak tidak cukup baik, sehingga tetap harus diberikan obat supaya daya tahan tubuh naik. Dalam 10-14 hari, sebenarnya virus sudah mati, ketika ditumbuhkan di laboratorium, dia mati, hanya sisa-sisa. Jika positifnya panjang (lebih dari 14 hari), cek ke dokter. Kalau anak sehat, tidak ada apa-apa, (virusnya) sudah tidak menular. Namun, dokter tetap harus cek, untuk menilai seberapa besar risiko untuk anak dan sekitarnya,” jelas dr. Nina.
 
Dianjurkan swab 10-14 hari setelah H1 gejala atau setelah swab pertama positif untuk yang tidak bergejala. Gejala berat atau pasien kronis, umumnya, masa menular lebih panjang, sehingga perlu dokter untuk menentukan.
 
Baca juga:


grc
Foto:

 

 



Artikel Rekomendasi