Percaya Diri Mendongeng dengan 3 Teknik Ini

 

Foto: freepik


Ada yang mengatakan bahwa yang paling kita rindukan dari kehidupan anak-anak saat kita  dewasa adalah dibacakan dongeng oleh orang tua. Ya, dongeng sebelum tidur adalah aktivitas yang selalu ditunggu oleh anak-anak. Mereka selalu menantikan kisah baru apa yang akan disampaikan oleh Bunda dan Ayahnya.
 
Tetapi, tidak sedikit  orang tua yang tidak percaya diri untuk mendongeng di hadapan anak-anaknya. Mereka ragu apakah bisa membuat anak-anaknya tertarik dengan apa yang mereka sampaikan.
 
Hendra Bawole, Praktisi Dongeng dari Ayo Dongeng Indonesia berpesan agar orang tua tak perlu takut memulai. “Hal pertama yang harus ditanamkan yaitu bercerita adalah hal alamiah yang biasa manusia lakukan. Manusia pasti bisa bercerita,” ujarnya.
 
Stereotip Pendongeng
Hendra mengutarakan bahwa keengganan atau ketidakpercayaandiri orang tua untuk memulai mendongeng adalah lantaran terjebak pada stereotip bahwa pendongeng harus bisa mengubah suara. Sehingga, beberapa orang tua yang merasa tidak mampu melakukannya pun mengurungkan niat untuk mendongeng.
 
Hendra mencontohkan TEDx. “TEDx itu kan, telling stories, gak ngubah suara,” ujarnya. “Mulai saja dulu cerita, gak usah mikir ekspresi, gak usah mikir intonasi,” tegasnya.
 
Anda juga tidak perlu terjebak dengan tema-tema yang sering diangkat sebagai latar dongeng, misalnya kehidupan kerajaan atau binatang. “Mulai bercerita dengan sesuatu yang disukai anak,” pesannya. Ketika Anda bercerita tentang sesuatu yang disukai anak, Anda akan lebih percaya diri karena lebih mengenal “medan”.
 
Mulai dari Sini
Hendra menyarankan tiga teknik yang bisa Anda gunakan untuk memulai:
 

Read Aloud 
Inti dari membaca dengan teknik ini adalah Anda membaca sama persis teks yang terdapat pada buku dengan suara nyaring. Ini adalah cara yang paling mudah, sehingga Anda tak akan kebingungan mencari kata-kata untuk melanjutkan dongeng.
 
Teknik ini ternyata punya kelebihan, juga, lho. Hendra menyarankan Anda untuk menunjuk teks ketika membaca di depan anak. Hal ini akan membantu memberikan mereka stimulasi. “Walau mereka belum bisa baca, tapi nanti ketika mereka sudah mulai (belajar) membaca, mereka akan ngerti. Mereka akan recall bahwa mereka pernah lihat abjad-abjad itu saat dibacakan buku cerita,” ujarnya.
 
Walaupun hanya sekadar membaca teks, Hendra menyarankan agar orang tua berlatih membaca sendiri sebelum membacakan di depan anak-anak. “Baca dulu sendiri minimal tiga kali. Kalau sudah baca sendiri, kita sudah tahu tikungannya di mana, mau kasih kejutan di mana, mau kasih gimmick suara di mana,” jelasnya.
 

Menceritakan Gambar
Nah, di teknik ini, Anda juga berbekal buku cerita. “Buku bisa jadi jalan keluar untuk yang kebingungan memulai atau membuat cerita. Buku memang sangat membantu,” ujar Hendra.
 
Hanya saja, saat menggunakan teknik ini, Anda mengabaikan teks yang ada di buku tersebut atau memilih buku tanpa teks untuk kemudian menginterpretasi gambarnya. Anda bisa lebih leluasa memilih sendiri kata-kata Anda dengan teknik ini. Anda jadi bisa lebih lepas dan lebih percaya diri serta terkesan tidak kaku.
 


Mengarang Cerita Sendiri
Bingung apa yang ingin diceritakan? Anda bisa mengeksplor cerita dengan memantik ide dari si keciil. “Berangkat dari anak dan tunggu kejutan yang diberikan anak,” ujar Hendra. “Karena otak orang dewasa udah jarang dipakai untuk ngayal, jadi kadang susah (bikin cerita),” imbuhnya.
 
Hendra mengatakan bahwa anak-anak punya pikiran yang “warna-warni”. Lanjutkan apa yang ada di imajinasinya untuk jadi bahan cerita Anda selengkapnya. Bagaimana? Siap memulai malam ini?
 
Lela Latifa

 

 



Artikel Rekomendasi