Jangan Buru-buru Terapkan Diet GAPS untuk Anak

 

Foto ilustrasi (Freepik)

Diet GAPS diperkenalkan oleh Dr. Natasha Campbell-McBride, seorang ahli bedah saraf dan pakar nutrisi di Jersey Shore University Medical Center. GAPS sendiri merupakan singkatan dari Gut And Psychology Syndrome atau sindrom usus dan psikologi. 

Tujuan inti dari diet GAPS adalah memperbaiki usus, karena kesehatan usus memengaruhi fisik dan mental individu secara keseluruhan. Menurut teori Dr. Natasha, usus yang rusak atau bocor bertanggung jawab terhadap banyak masalah psikologis, neurologis, hingga perilaku. Sebab, usus yang bocor dapat melepaskan bakteri dan racun ke dalam aliran darah, yang kemudian berpindah ke otak, dan akhirnya mengganggu fungsi otak. 

Aturan pola makan dalam diet GAPS sangat ketat, hampir mirip dengan diet ketogenik, yaitu hanya memperbolehkan mengonsumsi makanan rendah karbohirat, tinggi lemak, dan cukup protein. Diet GAPS melarang pelakunya mengonsumsi biji-bijian dan turunannya, susu yang dipasteurisasi, sayuran bertepung (mengandung karbohidrat), gula, dan karbohidrat, termasuk junk food dan fast food. Sebaliknya, pelaku diet GAPS harus mengonsumsi makanan-makanan yang diyakini mampu memperbaiki kondisi usus, seperti daging, ikan, unggas, susu fermentasi, kacang, dan beberapa jenis buah-buahan. 

Dr. Natasha mempromosikan diet GAPS untuk mengobati autisme pada anak-anak. Ia yakin bahwa anak dengan disleksia, autoimunitas, hiperaktif, dan dyspraxia memiliki gangguan pada usus yang menyebabkan ekosistem mikroflora di dalamnya tidak normal. 

Pendapat Lain tentang diet GAPS 
Belum banyak bukti ilmiah yang mendukung kehadiran diet GAPS, selain dari yang dilakukan oleh Dr. Natasha sendiri. Masih diperlukan banyak penelitian untuk menjawab apakah diet GAPS benar-benar aman dan tidak mengakibatkan efek samping yang berbahaya. 

Dokter spesialis anak konsultan bidang gastro hepatologi dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) menjelaskan tentang diet GAPS di acara Instagram Live Kata Pakar Ayahbunda, Jumat, 18 September 2020. 

Diet yang rendah karbohidrat, tinggi lemak, dan cukup protein, mirip-mirip dengan diet ketogenik. 

"Dr. Natasha ini mengklaim bahwa diet GAPS ini bermanfaat untuk menyembuhkan anak autis atau ADHD. Karena Dr. Natasha menerapkan diet ini untuk anaknya dan dikatakan anaknya mengalami perbaikan yang signifikan. Namun, dari penelitian atau bukti literatur, diet GAPS ini belum direkomendasikan karena memang harus ada penelitian lebih lanjut. 

"Kita sendiri mengetahui bahwa kelainan autis atau ADHD pada anak, penyebabnya adalah abnormalitas pada gen atau mutasi pada gen di dalam tubuh. Dan derajat keparahannya juga berbeda-beda. Jadi tidak bisa disamaratakan karena makanan ini saja, kemudian anak bisa sembuh. Masih diperlukan stimulasi, ada pengobatannya juga, ada faktor lingkungan juga, dan faktor derajat keparahan dari autisme yang menunjang perbaikan dari penyakitnya. Jadi jangan langsung buru-buru anak dikasih GAPS diet," kata dr. Frieda. 

Pendapat lainnya tentang diet GAPS, sebab banyak sekali makanan yang tidak diperbolehkan, dikhawatirkan justru menganggu kecukupan gizi anak. 

ALI



 

 



Artikel Rekomendasi