Zat Besi Pendukung Anak Pintar Belajar

 

Foto ilustrasi (Freepik)

Tahukah Bunda, zat besi merupakan salah satu mikronutrien yang sangat penting untuk tubuh? Peran zat besi adalah sebagai unsur utama dalam sel darah merah atau Hemoglobin (Hb), yang berfungsi mengantarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. 

Kadar zat besi yang rendah di dalam darah, mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen ke sel-sel tubuh. Padahal sel-sel tubuh membutuhkan oksigen untuk dapat berfungsi secara optimal. 

Pada anak-anak, kekurangan zat besi tidak hanya berdampak terhadap menurunnya kondisi kesehatan, tetapi juga bisa mengganggu performa belajarnya. Seperti dijelaskan oleh ahli gizi ibu dan anak, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, bahwa zat besi merupakan vitamin dan mineral yang penting untuk mendukung kemampuan belajar anak.

Namun sayangnya, masih banyak sekali anak-anak Indonesia yang kekurangan zat besi, sehingga pertumbuhan mereka pun terhambat dan mengalami keterlambatan kognitif. 

"Jutaan anak mengalami pertumbuhan terhambat, keterlambatan kognitif, kekebalan yang lemah dan penyakit akibat kekurangan zat besi," kata Fika di acara Forum Ngobras Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam rangka Hari Gizi Nasional, Senin 25 Januari 2021.  

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 1 dari 3 anak balita Indonesia mengalami anemia. Data lain memaparkan, lebih dari 40 persen anak balita di negara berkembang menderita anemia, dan 50-60 persen kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Dokumen WHO menyatakan, ada bukti kuat melalui penelitian bahwa kekurangan zat besi terlihat secara meyakinkan menunda perkembangan psikomotor dan mengganggu kinerja kognitif anak prasekolah dan anak usia sekolah di Mesir, India, Indonesia, Thailand, dan Amerika Serikat.

 
Foto ilustrasi (Freepik)
Diperkirakan 30-80 persen anak di negara berkembang, mengalami kekurangan zat besi pada usia 1 tahun. Anak-anak ini akan mengalami keterlambatan perkembangan kognitif maupun psikomotor, dan ketika mereka mencapai usia sekolah mereka akan mengalami gangguan kinerja dalam tes bahasa, keterampilan, keterampilan motorik, dan koordinasi, setara dengan defisit 5 hingga 10 poin dalam IQ.

"Padahal, anak usia prasekolah membutuhkan dukungan lingkungan yang baik, terutama dukungan gizi seimbang, sehingga orang tua harus mengetahui kebutuhan gizi, cara pemenuhannya, serta upaya perbaikan gizinya. Jika orang tua tidak waspada, dampaknya akan diketahui saat sudah terlambat. Meskipun seorang anak mungkin terlihat kenyang, bisa jadi tubuhnya tengah kelaparan akibat kekurangan zat gizi mikro," kata Fika. 

Sudah cukupkah zat gizi si kecil?
Kekurangan zat besi tidak terjadi secara mendadak, namun bertahap. Fika menjelaskan, ada beberapa tanda yang dapat digunakan oleh orang tua untuk mencurigai apakah anak kekurangan zat besi. 

"Konsentrasi belajar menurun adalah salah satu tanda dan gejala anak kekurangan zat besi. Akhirnya performa belajarnya pun turun. Anak jadi malas mengerjakan tugas dan PR," kata Fika. 

 


"Secara fisik, bagian bawah mata anak pucat, sering pusing, kuku dan telapak tangan tampak pucat, serta mengalami gejala 5L (lemah, letih, lesu, lelah, lalai)," tambahnya. 

Kebutuhan zat besi harian anak usia 1-3 tahun adalah 7 mg, sedangkan anak usia 4-6 tahun 10 mg (menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019). 

Ada dua jenis zat besi:
- Heme iron, lebih mudah diserap oleh tubuh. Terdiri dari makanan sumber protein hewani seperti daging, ikan, unggas, dan hati.
- Non heme iron, lebih sulit diserap oleh tubuh, seperti susu, telur, dan sayuran. 

Kadar zat besi dalam tubuh, selain dipengaruhi oleh pola konsumsi, juga tergantung dari penyerapan saluran cerna. Vitamin C diketahui dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Maka itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi vitamin C seperti kiwi, stroberi, jeruk, jambu sebelum makan. 

Susu yang difortifikasi dengan zat besi juga dapat membantu mencukupi kebutuhan zat besi harian anak. 

Selain ada makanan yang mendukung penyerapan zat besi, ada pula makanan yang menghambat penyerapan zat besi. Tanin yang terkandung dalam teh, kopi, dan cokelat, serta bikarbonat dalam minuman bersoda bisa menghalangi penyerapan zat besi. Beri jeda 2 jam sebelum atau sesudah makan bila ingin memberi anak makanan atau minuman tersebut.


ALI

 

 



Artikel Rekomendasi

post4

Makanan Tepat Untuk Anak Autisme

Banyak peneliti menyatakan makanan mengandung gluten dan kasein memicu sikap agresif, dan tidak baik untuk anak autis. Saatnya merevisi menu makan untuk anak autis?... read more