Kakak Menggigit Adik, Bunda Jangan Balas Gigit

 

shutterstock

Bunda pasi kesal, ketika adik bayi belum lama tidur tiba-tba menangis. Setelah diusut, ternyata digigit oleh kakak. Bukannya membantu menjaga adik, kakak malah sering mengganggu.
 
Dulu, waktu adik bayi masih di dalam perut bunda, kakak sering mengajak bicara calon adiknya. Kakak juga sering mencium perut bunda, sambil menyapa, “hai dedek… dedek lagi ngapain?’
 
Bunda merasa sudah cukup menyiapkan kakak untuk menyambut kehadiran adiknya, berharap akan bersikap baik terhadap adik. Sayangnya, harapan sering tak sesuai kenyataan. Kehadiran adik justru membuat kakak sering caper (cari perhatian).
 
Menggigit adik, menjadi kesenangan baru si kakak. Saat bunda mulai tenang meninggalkan adik di kamar tidur karena sudah lelap, kakak diam-diam mendatangi adiknya.
 
Mengapa kakak jadi begitu sih?
 
Melampiaskan rasa frustrasi
Ini memang bisa menjadi penyebab, tapi tidak selalu. Ada anak-anak yang melewati fase menggigit. Menggigit bunda, atau ayah. Sebuah riset menyebut, anak-anak yang mengalami proses kelahiran yang lama dan sulit, cenderung bersikap agresif.
 
Sikap agresif di saat mereka masih sangat kecil, diwujudkan dengan cara menggigit; menggigit bayi lain saat bertemu di ruang tunggu dokter, misalnya. Atau menggigit pengasuhnya.  
 
Namun ketika lebih besar, anak-anak menggigit bukan sekadar eksperimen. Mereka sudah tahu bahwa menggigit bisa menimbulkan rasa sakit.
Tetapi ketika dia menggigit, dia tidak punya rencana atau sengaja ingin menyakiti. Menggigit dilakukan karena ada gelombang tekanan di otaknya. Seringkali tanpa rencana, dan tidak tahu cara menghentikan dorongan itu.
 
Satu-satunya alasan seorang anak (kecil) menggigit adalah merasa takut atau frustrasi. Kelahiran adik, menjadi alasan ketakutannya; takut tidak diperhatikan lagi. Begitu sibuknya bunda dengan adik, kakak tidak pernah ditemani main lagi.
 
Untuk mengurangi meningkatnya kegiatan menggigit ini, bunda jangan balas menggigit hanya agar anak tahu rasanya digigit. Kalau dia frustrasi, kenali penyebab frustrasi anak. Mungkin banyak hal ingin dia lakukan tapi belum bisa, karena dia belum bisa memperhitungkan kekuatannya.
 
 Bantu anak melepaskan rasa takut (tegang) dengan cara yang positif.
Lakukan kontak mata, ambil posisi sejajar anak Anda. Katakan padanya bahwa dia tidak boleh menggigit siapapun. Jangan tunggu sampai dia menggigit lagi. Lakukan ini:

Luangkan waktu, ajak anak melakukan kegiatan yang membuatnya bisa tertawa. Kalau dia bisa tertawa, berarti ketegangannya berkurang.

- Dengarkan anak. Meski masih kecil, dia selalu punya banyak cerita. Dengarkan ceritanya meski kadang hanya mengulang apa yang pernah Anda dongengkan padanya.

- Hindari reaksi negative ketika dia mengamuk atau menggigit. Ubah cara pandang Anda, bahwa mengamuk atau menggigit adalah sinyal penting dari kakak yang merasa tertekan.

- Ajak dia main. Minta anak memilih permainannya, lalu ikutlah bermain bersama anak.

- Tawarkan makanan kecil, mungkin dia lapar atau haus, makan dan minumlah bersamanya.

- Libatkan kakak saat bunda mengurus adik.
 
Imma Rachmani
 
 
 

 

 



Artikel Rekomendasi