Jangan Lakukan 9 Hal Ini Saat Memberikan Obat pada Anak

 



5. Menggunakan obat resep milik orang lain
Pada orang tua yang memiliki lebih dari 1 anak, terkadang penggunaan obat dilakukan secara bergantian antara anak yang 1 dengan yang lain. Misalnya, si kakak baru sembuh dari radang tenggorokan. Tak lama kemudian, adiknya menunjukkan gejala serupa.

Kata dokter:  Tindakan ini berisiko mengakibatkan si kecil mengonsumsi obat di luar kebutuhannya atau bahkan mengalami keracunan obat. Selain itu, jika obat yang diminum tersebut adalah golongan antibiotik, bakteri di dalam tubuh anak juga bisa kebal terhadap jenis obat tersebut. Akibatnya, obat tersebut tidak bisa bekerja secara efektif jika suatu saat si kecil benar-benar membutuhkannya.

6. Memberi 2 macam obat yang fungsinya sama
Untuk mengatasi penyakit ringan, seperti batuk pilek, orang tua biasa menggunakan berbagai jenis obat bebas, seperti penurun demam, batuk, pilek, dll. Tetapi, sering kali di dalam sebotol obat terkandung lebih dari 1 jenis kegunaan—misalnya, obat pilek yang selain mengandung antihistamin, juga mengandung parasetamol.

Kata dokter: Sebelum memberi obat pada si kecil, perhatikan dulu kandungan dan kegunaan obat yang Anda beli untuk menghindari pemberian dosis ganda. Jika mungkin, konsultasikan dulu pada dokter atau apotiker. Beberapa dokter anak juga menyarankan orang tua dari anak  yang berusia di atas 4 tahun untuk mengobati gejala utama saja. Misalnya, berikan obat hanya untuk mengatasi pileknya saja atau demamnya saja.

Baca juga: Membujuk Anak Minum Obat

7. Memberi obat kedaluarsa
Berhubung sudah tersimpan di dalam lemari obat, orang tua seringkali memberi obat secara otomatis pada si kecil ketika sakit, tanpa membaca tanggal kedaluarsa terlebih dulu.

Kata dokter:  Pemakaian melebihi tanggal  kedaluarsa bisa mengakibatkan obat kehilangan daya sembuhnya. Bukan hanya tanggal kedaluarsa, tanggal dibukanya obat juga perlu diperhatikan.

Jika disimpan dengan baik (di dalam lemari es pada suhu < 20°C), obat berbentuk sirup biasanya masih bisa digunakan hingga 2 bulan setelah dibuka. Jangan gunakan obat yang sudah berubah warna, rasa, dan kekentalannya, karena hal tersebut mencirikan obat yang sudah rusak.

8. ‘Teman’ minum obat yang salah
Untuk membuat cita rasa obat menjadi lebih menarik, terkadang orang tua memberi jus jeruk, susu, atau pun sirup sebagai teman minum obat. Padahal, konsumsi jenis minuman tertentu bersama obat malah bisa mengakibatkan obat tidak bisa bekerja secara efektif.

Kata dokter:  Antibiotika golongan tetrasiklin, misalnya, tidak boleh diminum  dengan susu. Kandungan kalsium di dalam susu bisa ke bagian tubuh yang memerlukan melalui aliran darah. Konsumsi jus mengurangi kemampuan tubuh menyerap obat sehingga tidak bisa didistribusikan jeruk dan buah-buahan lainnya juga tidak bisa dibarengi dengan obat untuk jantung dan pembuluh
darah karena bisa mengurangi penyerapan obat di dalam saluran pencernaan. Karenanya, konsultasikan dulu pada dokter mengenai jenis minuman apa yang bisa Anda berikan sebagai teman minum obat si kecil.

9. Menggunakan jamu tanpa konsultasi dengan dokter
Memberi jamu dan obat  bisa menimbulkan reaksi di dalam tubuh anak. Kalau saling mendukung, sih, tidak masalah. Bagaimana bila muncul reaksi yang tidak diharapkan?

Kata dokter: Untuk mengantisipasi terjadinya benturan reaksi di antara bahan-bahan yang terkandung dalam kedua jenis obat tersebut, amat disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum Anda menggunakannya secara bersamaan. Bisa jadi, kedua jenis obat tersebut sama-sama manjur jika dikonsumsi sendiri-sendiri.


 

 


Topic

#obatanak



Artikel Rekomendasi