6 Cara Cegah Risiko Alergi Makanan pada Anak

 


Foto: Pixabay

 

Penyakit alergi mengalami tren meningkat secara global dalam beberapa tahun terakhir. Tidak heran kita merasa bahwa berada di tengah-tengah ‘epidemi alergi’. Dilansir dari laman Livingandloving.co.za, menurut Allergy Foundation of South Africa, bayi tanpa riwayat keluarga alergi sekarang memiliki 15% risiko mengalami kondisi alergi dalam beberapa tahun pertama kehidupannya. Jika satu orang tua memiliki alergi, maka risiko anak meningkat sekitar 40% - 50%. Sementara bila kedua orang tua memiliki alergi, risikonya meningkat antara 60% - 80%. Seorang anak yang memiliki saudara kandung dengan alergi juga mengalami peningkatan risiko signifikan terhadap alergi.
 

Bisakah menurunkan risiko alergi pada anak?
Jawabannya adalah iya. "Pencegahan alergi seharusnya sudah dimulai selama kehamilan. Seiring perkembangan janin, demikian juga sistem kekebalan bayi. Ketika bayi mengembangkan antibodi sendiri, paparan terhadap alergen potensial saat ini dapat membantu mencegah mereka mengembangkan alergi terhadap zat-zat ini," kata Dr. Thulja Trikamjee, Dokter Spesialis Anak dan Ahli Alergi yang berpraktik di Netcare Sunninghill Hospital di Johannesburg, Afrika Selatan.

“Ketika Anda mengonsumsi sesuatu, protein dari makanan melewati tali pusar ke janin. Jika ini terus berlanjut selama kehamilan, sistem kekebalan bayi mulai mengenali protein makanan ini. Proses ini berlanjut setelah lahir dan setelah bayi mulai mengonsumsi makanan padat,” tambah Dr. Thulja.

Oleh karena itu, dalam diet kehamilan sebaiknya ibu hamil memasukkan yang berikut ini:
- Mengonsumsi makanan seimbang yang sehat, termasuk semua kelompok makanan utama.
- Jangan mengurangi konsumsi susu, telur, makanan laut, dan kacang-kacangan, kecuali jika Anda memiliki alergi yang telah terbukti dipicu oleh salah satu dari makanan ini.
- Hindari merokok tembakau dan minum alkohol selama kehamilan.
- Pertimbangkan untuk menambah asupan minyak ikan atau mengonsumsi suplemen omega.

 

Makanan apa yang bisa menyebabkan reaksi alergi?
Makanan apa pun sebenarnya dapat menyebabkan reaksi alergi. Namun, kelompok makanan alergi utama sebagai pencetus alergen pada anak, yaitu susu sapi, telur, kacang-kacangan, kacang pohon, gandum, kedelai, serta makanan laut. Dianjurkan untuk mengenalkan makanan padat--termasuk makanan pencetus alergi--kepada bayi sedini mungkin, yaitu ketika sudah mencapai usia 6 bulan ketika bayi mengonsumsi MPASI.

Perlukah stop memberi ASI kepada bayi?
Kandungan ASI justru baik untuk membantu pencegahan alergi, melindungi bayi dari infeksi, dan membentuk kekebalan tubuh. "Inilah alasan mengapa kami menganjurkan bayi baru lahir disusui sampai setidaknya empat bulan, atau jika memungkinkan 6 bulan eksklusif," tegas Dr. Thulja. Saat menyusui bayi pun tidak perlu menghindari makanan tertentu--kecuali Bunda memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu yang membuat bayi terpapar pada jumlah protein makanan tersebut melalui ASI.

 

Bagaimana mengetahui anak saya alergi?
“Ada banyak gejala yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Sering kali, alergi terdeteksi dari konsumsi makanan sehingga muncul reaksi saat anak pertama kali mengonsumsi makanan tertentu,” kata Dr. Thulja.

Berikut enam gejala alergi yang harus diperhatikan pada anak:
- Gatal-gatal
- Sakit perut
- Muntah
- Diare atau feses berdarah
- Sulit bernapas
- Perubahan kesadaran atau aktivitas.



PRIMA SOERATNO


Baca juga:
10 Pantangan Makanan dan Minuman Saat Menyusui

4 Barang yang Harus Rutin Dijemur Demi Kesehatan Anak


 

 



Artikel Rekomendasi