Masih MPASI, Kok, Sudah Pilih-Pilih Makanan?

 

Foto ilustrasi (Freepik)


Jika Bunda menemukan kasus anak suka pilih-pilih makanan saat baru memasuki MPASI, tak perlu panik. Simak penjelasan ahli gizi kesehatan ibu dan anak, Prof. Dr. Drg. Sandra Fikawati, MPH., di acara Instagram Live Parenting Indonesia Kebaikan SUN, Kamis, 21 Mei 2020, berikut ini:

Mencoba semua rasa. Sebenarnya bayi itu pada saat diberikan MPASI berusia enam bulan, dia baru mencoba rasa. Nah, kalau kita lihat secara garis besar, MPASI ada yang rasanya gurih ada yang rasanya manis. Kedua rasa itu harus diperkenalkan untuk bayi. Kadang-kadang ada bayi yang senangnya lebih ke arah manis, atau lebih ke arah gurih. Tapi semua harus dicoba. 

Jangan dipaksa. Kalau anak suka pilih-pilih, tidak apa-apa, berikan yang dia mau saja dulu. Jangan memaksakan MPASI yang rasanya dia tidak suka. Kenapa itu harus diperhatikan, karena dia nanti menjadi trauma bahwa makanan itu tidak enak, tidak menyenangkan, akhirnya yang sering ibu-ibu sampaikan anak-anak banyak yang GTM (Gerakan Tutup Mulut), lihat sendok saja udah langsung tutup mulut. 
 


- Makan itu harus dalam suasana yang menyenangkan. Jangan lupa sambil berinteraksi dengan yang memberi makan. Bukan dengan nonton TV. Bukan dengan YouTube. Sekarang lagi zaman ibu-ibu begitu, karena saya juga tidak tahu kenapa ada ide memberikan TV atau YouTube untuk menemani makan sejak awal. Kalau dia tidak diberikan di awal, dia tidak tahu. Jadi, jangan berikan tayangan tersebut saat memberikan MPASI. 

- Batasi waktu makan. Memberikan MPASI itu paling lama 30 menit. Selesai tidak selesai, harus selesai. Perhatikan porsinya. Kalau 30 menit porsi pagi habis, mungkin saat makan siang porsinya bisa ditambah. Kalau tidak habis, sorenya bisa kembali lagi ke porsi yang pagi.

ALI

 



Artikel Rekomendasi

post4

Tak Perlu Sayur dalam MP-ASI

Jangan asal berikan sayur sebagai MPASI si kecil Bunda! Ada kandungan di dalam sayur yang menjadi antinutrien sehingga menghambat penyerapan zat gizi dalam bahan makanan lainnya. ... read more