Pahami Aturan Jika Vaksinasi Anak Terlambat

 

bagaimana jika vaksin bayi terlambat
Foto: Freepik

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meluncurkan program LITTLe Ku (Lengkapi Imunisasi Terlambat/Tidak lengkap Anakku) dan I-POINTS atau IDAI Pediatric Online Immunization Reporting System, yang merupakan sistem pelaporan online mengenai imunisasi bagi para dokter anak dan dokter umum di seluruh Indonesia. Kedua program ini bertujuan untuk mendorong cakupan imunisasi rutin anak yang menurun terutama selama masa pandemi ini. 
 
Menurut Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp,A(K), Ketua Satgas Imunisasi dan Stunting IDAI, ketua III PP IDAI dan penasihat teknis imunisasi di Asia Pacific Pediatric Association, program ini diluncurkan untuk memeriksa dan melengkapi imunisasi anak, agar anak terhindar dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. “LITTLe Ku juga mengajak tenaga kesehatan, dokter, dokter anak, dan perawat untuk mendata dan mengenali anak-anak yang imunisasinya terlambat atau tidak lengkap pada setiap kunjungan. Jika belum lengkap, maka melengkapinya dengan imunisasi kejar,” papar Prof. Hartono.
 
Baca juga: 5 Alasan Mutlak Anak Wajib Imunisasi
 
Ini Prinsip-Prinsipnya
Bagaimana prinsip dan cara melengkapi imunisasi dengan imunisasi kejar? Prof. Hartono menjelaskan sebagai berikut:
 
1. Tidak mengulang dari awal.
Prinsipnya, imunisasi yang tertinggal perlu untuk segera dilengkapi, tanpa pengulangan dari awal. Jadi, misal bayi usia 8 bulan, imunisasinya lengkap hanya sampai usia 3 bulan. Saat usianya 4 bulan, tidak ada data sudah mendapatkan imunisasi karena pandemi. Maka, imunisasi yang diberikan saat ini adalah imunisasi yang sedianya diberikan pada usia 4 bulan. Yakni, vaksin pentavalen ketiga, polio oral dan suntikan, tanpa mengulang lagi dari awal. 

2. Diberikan imunisasi ganda atau multiple.
Dalam satu kunjungan bisa diberikan beberapa vaksin. Misalnya, bayi usia 2 bulan. Dia hanya baru mendapat vaksin Hepatitis B saat lahir, belum mendapat vaksin BCG yang dijadwalkan pada usia 1 bulan. Pada saat ini usianya 2 bulan. Maka ia bisa diberikan valksin pentavalen 1, vaksin polio oral 1, dan BCG. Jadi 2 vaksin suntikan dan 1 vaksin tetes.   

3. Perhatikan usia minimal, usia maksimal, dan interval antara 2 vaksin.
Jadi, misal untuk vaksin pentavalen, usia anak minimal 6 minggu. Dan, ada usia maksimalnya, yaitu DTP 6 th 11 bulan. Untuk anak 7 tahun atau lebih, digunakan vaksin Dt. Kemudian utk imunisasi kejar ini ada interval minimal antara vaksin. Misal, vaksin pentavalen atau polio. Untuk kejar, tidak boleh diberikan vaksin pentavalen kedua dan ketiga, dengan jarak 2 minggu. Harus 4 minggu. 

4. Pemberian 2 vaksin hidup dapat dilakukan bersamaan.
Dan, bila dipisah, intervalnya harus minimal 4 minggu. Vaksin hidup bisa diberikan bersamaan dengan vaksin inaktif, dan vaksin inaktif bisa bersamaan dengan vaksin inaktif lainnya. 

“Tentunya, vaksin ini diberikan bila tidak ada kontraimunisasi. Misal, anak sedang demam, batuk, apalagi sesak napas dan diare. Anak harus sehat dulu baru dilakukan vaksinasi,” kata Prof. Hartono.

Baca juga: Efek Negatif Bila Imunisasi Terlambat
 
Beberapa Pertanyaan Penting
Berikut ini beberapa pertanyaan seputar imunisasi tidak lengkap dan dijawab oleh Prof. Hartono:
 
Bagaimana dengan anak yang imunisasinya tidak diketahui atau meragukan?
Misalnya, buku imunisasinya hilang atau sulit ditemukan. Dengan demikian, imunisasi anak tersebut tidak pasti. Anak dianggap rentan atau mudah terinfeksi. Sehingga, anak tersebut perlu dilengkapi imunisasinya. Karena kalau tidak, anak tersebut akan mudah terinfeksi penyakit, yang dapat menyebabkan sakit, cacat, atau bahkan kematian.
 
Bagaimana kalau ternyata anak sudah diimunisasi?
Kalau sudah dan terdapat imunisasi tambahan, tidak masalah. Tidak ada bukti bahwa pemberian vaksin berlebihan itu berbahaya. Jadi, bila tidak jelas imunisasinya, lebih baik diimunisasi.
 
Bagaimana jika anak belum pernah diimunisasi?
Anak tersebut belum mempunyai kekebalan, sehingga rentan terinfeksi. Karena itu, perlu diberikan imunisasi sesuai jadwal yang dianjurkan, dengan tetap memperhatikan usia minimal, usia maksimal, dan interval antardua vaksin.
 
Baca juga: Balita Kelewatan Imunisasi Polio
 
Apa rekomendasi IDAI mengenai imunisasi pada saat pandemi?
Jadwal imunisasi sesuai anjuran, bisa dilihat di buku pedoman imunisasi yang dikeluarkan satgas imunisasi IDAI. Sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI, diutamakan melengkapi imunisasi hingga usia anak 18 bulan. Bila imunisasi itu telah lengkap, orang tua ingin memberikan imunisasi yang lain lagi, silakan dilengkapi saja. Misalnya, diberikan vaksinasi pneumokokus (PCV) dan influenza, karena kedua kuman dan virus ini bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan, yang merupakan pendamping infeksi virus COVID-19. Tetapi, yang utama, yang rutin saja dulu, sesuai anjuran Kemenkes.
 
Baca juga:
Bedanya Imunisasi dengan dan Tanpa Demam?
Perbedaan Warna pada Jadwal Imunisasi, Apa Maksudnya?
Imunisasi yang Disertai Demam Lebih Baik Ketimbang yang Tidak, Benarkah?

grc

 

 


Topic

#bayi #balita #vaksinasi



Artikel Rekomendasi