Panduan Makan Ibu Hamil

 

Kebutuhan kalori harian Anda sebagai calon ibu tentu saja meningkat dibandingkan sebelum hamil. Untuk perempuan Indonesia, berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG), kebutuhan kalori perhari adalah 1.900 kalori. Maka ketika hamil harus ditambah 180 kalori (selama trimester I), dan ditambah 300 kalori (selama trimester II dan III).  

Angka penambahan itu tidak banyak-banyak amat, lho, Bunda. Jadi, bukan berarti selama hamil Anda makan untuk berdua atau porsi dobel.  Sebagai gambaran, makan sebutir kentang panggang saja sudah menambah 120 kalori, sepiring nasi putih 150 kalori, sepotong  pisang goreng 160 kalori. Jadi, untuk memenuhi tambahan 300 kalori, tidak perlu rakus berlebihan, ah.
 
Berikut ini panduan makan:
1. Konsumsi harian. Makan sayur dan buah 7 porsi sehari (misal, 3 porsi buah dan 4 porsi sayuran). Makanan pokok (nasi, gandum, serealia, roti)   6 – 7 porsi sehari. Susu dan produk olahannya, 4 porsi sehari. Protein 67 gram sehari. Asam folat 600 mikrogram sehari. Zat besi 26 miligram sehari.
 
2. Bolehkah jajan? Junk food impor sebaiknya dikurangi atau stop dulu karena kadar garam dan kolesterolnya tinggi, memicu tekanan darah tinggi dan meningkatkan risiko eklampsia. Untuk jajanan lokal, seperti gado-gado, asinan, rujak, ketoprak, biasanya justru menyegarkan dan mampu menghalau mual. Jajanan mi bakso, soto ayam, nasi goreng, pecel lele, martabak telur, juga membantu menggugah selera makan. Dibolehkan tapi sesuaikan dengan jadwal makan sehingga tidak membuat asupan gizi berlebihan. Juga perhatikan kebersihan dan keamanannya agar terhindar dari keracunan dan kuman penyakit.
 
3. Suplementasi. Jika merasa belum makan dengan sempurna, untuk memastikan kecukupan zat gizi, mintalah suplemen dari dokter. Biasanya akan diberi multivitamin dan mineral, asam folat dan kalsium.
 
Baca juga:

 



Artikel Rekomendasi

post4

Hamil: Waspada Berat Badan!

Jika BB Anda kurang dari 40 kg saat dinyatakan hamil, Anda kemungkinan menderita kekurangan energi kronis (KEK) atau kekurangan gizi yang lama. Bayi yang dikandung berisiko berberat lahir rendah (BBLR... read more