Anda Harus Tahu, Kehamilan Bisa Memicu Depresi

 

Foto:shutterstock

Tak banyak yang tahu, kehamilan juga bisa memicu depresi. Bisa dialami selama masa kehamilan.
 
Depresi prenatal, atau depresi perinatal adalah depresi yang dialami  ibu selama hamil. Sama seperti depresi pascamelahirkan, depresi prenatal bukan sekadar merasa sedih – ibu yang mengalami depresi ini juga merasa marah dan cemas.
 
Mungkin Bunda pernah mendengar depresi pascamelahirkan – kalau ini dibicarakan dan dipahami, Anda akan mendapat pertolongan dan Anda merasa bahagia setelahnya.
 
Sayangnya depresi prenatal ini gangguan perasaan ibu selama hamil yang kerapkali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Seharusnya depresi prenatal ini dapat disembuhkan, tetapi bahkan ibu hamil sendiri tidak paham bahwa dia sedang depresi sehingga tidak mencari pertolongan.
 
Banyak ibu hamil merasa malu untuk curhat, karena orang berharap Anda bahagia karena sedang hamil, betul? Akan sangat memalukan bila Anda justru merasakan yang sebaliknya.
 
Berapa banyak orang yang mengalami depresi prenatal? Depresi postpartum terjadi pada 1 dari 7 ibu melahirkan. Tak jauh berbeda, yang mengalami depresi prenatal juga tidak sedikit.
 
Siapa yang rentan mengalami depresi prenatal? Tidak jauh berbeda dengan depresi postpartum: Ada riwayat depresi di keluarganya, pernah depresi, dan kondisi ekonomi. Demikan tulis Maria Muzik, MD dan Stefana Borovska, penulis Mental Health in Family Medicine.
 
Penyebabnya apa? Tidak jauh berbeda dengan depresi postpartum, penyebabnya adalah ‘badai’ yang memicu lebih awal, yaitu saat terjadi kehamilan. Apapun penyebabnya, ini bukan kesalahan Anda, dan jangan merasa diri Anda bukan calon ibu yang baik.
 
Tidak diketahui pasti penyebabnya, tetapi depresi prenatal terjadi karena multifaktor; emosi, fisik, dan lingkungan.
 
Apa gejalanya? Berbeda pada setiap ibu, pastinya. Tapi Anda harus sadar, kapan pun Anda merasakan bingung dengan emosi Anda sendiri, tidak dapat melakukan apa-apa selama berhari-hari, segeralah bicara dengan orang yang paling Anda percaya. Suami, atau ibu kandung Anda.  Gejala lainnya:


- Cemas dan khawatir berlebihan soal bayi
- Bingung dan merasa putus
- Tidak berminat pada kegiatan yang bahkan Anda sukai sekali pun
- Merasa bersalah terhadap perasaan, dan terhadap apa saja
- Tidak ingin makan, atau sebaliknya makan berlebihan
- Sulit fokus
- Sulit tidur
- Overthinking
- Marah
- Tidak percaya orang lain
- Enggan mengikuti anjuran menjaga kesehatan
- Mengasingkan diri dari orang lain, dan orang yang dicintai
- Melakukan hal-hal yang berbahaya bagi kehamilan, misalnya merokok atau mengonsumsi alkohol
- Tergoda untuk melakukan bunuh diri
 
Faktor risikonya antara lain; mengalami KDRT, pernah depresi sebelumnya, kehamilan yang tidak diinginkan, status ekonomi rendah, pernah jadi perokok, dan riwayat keluarga.
 
Adakah dampaknya pada bayi? Depresi ringan tidak berpengaruh pada bayi. Tetapi bila depresi berat dan Anda sampai mengonsumsi obat atau alkohol, tentu berdampak bagi kesehatan janin/bayi.
 
Atau, ketika depresi itu membuat Anda tidak mau makan, akan berakibat berat janin tidak bertambah, berat badan bayi rendah dan Anda berisiko melahirkan prematur.
 
Bila ibu mengalami depresi sedang sampai berat, bayi dapat mengalami gangguan tidur pada 2 tahun pertama kehidupannya, memiliki masalah perilaku dan hal-hal buruk lainnya.
 
Depresi prenatal bisa berlanjut sampai melahirkan. Bila ini terjadi, Anda akan kesulitan melakukan bonding dengan bayi, dan waktu habis bersalin menjadi akan semakin sulit dan menantang. Cari bantuan segera bila Anda merasakan gejalanya.
 
Imma Rachmani

 

 



Artikel Rekomendasi

post4

Hamil Di Usia 40-an

Meski emosi sudah jauh lebih stabil, kualitas kromosom tidak sebaik usia muda, sehingga risiko melahirkan anak dengan cacat fisik atau mental akan lebih besar. ... read more