Jangan Sembarangan Ikuti Tren Kehamilan, Ini Alasannya!

 

Pixabay
Ketika hamil maka akan berdampak pada naiknya berat badan, ini pasti Anda sudah tahu. Ya, itu merupakan hal yang sangat wajar, karena di dalam tubuh Anda perkembangan atau pertumbuhan janin. Dan memang ada dari mereka yang tetap ‘berisi’ meski si jabang bayi sudah keluar. Ah, ini juga masih wajar, kok, Bunda.

Belakangan ada beberapa ibu hamil yang tidak rela jika usai melahirkan tubuhnya tak kembali seperti semula, sehingga berlomba-lomba melakukan diet saat masa kehamilannya. Alasannya selain karena tidak rela, mereka juga melihat salah satu artis favoritnya -sesama ibu hamil- yang melakukan diet atau olahraga ekstrem.

Seperti Loni Jane Anthony, ibu hamil yang satu ini mengungkapkan bahwa ia melakukan diet dengan hanya mengonsumsi 80%  sayur, 10%  protein, dan 10% lemak setiap harinya. Sebenarnya, apakah hamil tidak boleh melakukan diet sama sekali? Tentu boleh, tetapi masih dalam batas wajar, artinya tidak mengurangi asupan vitamin, gizi ataupun protein yang dibutuhkan oleh Anda maupun janin.

Anda boleh saja mengikuti tren yang dilakukan oleh artis atau tokoh favorit Anda, tetapi lihat dulu, apa dampak yang akan didapat, baik atau buruk untuk kesehatan Anda berdua. Sama halnya tren di bawah ini.

Diet Karbohidrat
Menjalani diet yang sehat dengan cara menjaga pola makan yang benar tanpa harus mengurangi kandungan yang dibutuhkan saat masa kehamilan. Jadi tidak ada perubahan yang prinsipnya adalah gizi seimbang atau menu seimbang. Apalagi hanya makan daging, tidak dilengkapi karbohidrat.

Jika kita kembali pada kasus di atas, tentunya diet tersebut sangat tidak dianjurkan, mengingat jumlah asupan yang dibutuhkan ibu hamil adalah 300-400 kkal perharinya yang terdiri dari 55 persen kalori yang diperoleh dari umbi-umbian serta nasi, 10 persen dari protein dan 35 persen dari lemak nabati dan lemak hewani.

Akibatnya, jika ibu hamil memaksa untuk tetap diet akan berdampak pada perkembangan janin yang menyebabkan rendahnya berat badan bayi pada saat dilahirkan. Ibu hamil sangatlah membutuhkan nutrisi yang cukup. Adapun efek samping yang akan dialami langsung oleh ibu hamil, seperti: pusing, mual, sakit kepala bahkan pingsan.

Olahraga
Sah-sah saja jika ibu hamil melakukan olahraga rutin demi menjaga kebugaran, namun ada beberapa yang perlu diperhatikan. Ibu hamil tidak boleh terlalu lelah melakukan olahraga karena dapat menimbulkan efek berbahaya pada perkembangan janin, seperti: efek pada janin di dalam rahim, memicu kontraksi, mengalami pendarahan, mengeluarkan flek atau bercak darah, pingsan, bahkan keguguran. Untuk itu, lakukan olahraga yang memang disarankan untuk ibu hamil tapi juga aman dilakukan.

Olahraga ekstrim yang tidak boleh dilakukan salah satunya adalah lari,bersepeda, menyelam, mendaki, gym, trampoline, berkuda, latihan angkat beban, dan bela diri. Mungkin beberapa olahraga yang disarankan, yaitu yoga, aerobik, berenang, jogging, pilates dan fitness khusus kelas kehamilan.

Melahirkan di rumah
Melahirkan di rumah kembali menjadi pilihan untuk ibu hamil jaman sekarang, namun memiliki risiko yang tinggi karena keterbatasan alat yang tidak memadai. Sampai sekarang belum ada yang memastikan bahwa melahirkan di rumah aman dilakukan, bahkan para dokter tidak menyarankan adanya persalinan di rumah.

Tetapi jika keadaan tidak memungkinkan untuk datang ke rumah sakit, atau tidak menjangkau rumah sakit dalam waktu dekat, maka melahirkan di rumah menjadi pilihan utama. Dampak yang dirasakan oleh ibu hamil melakukan persalinan di rumah adalah bisa menimbulkan pendarahan yang banyak, serta dapat menimbulkan infeksi. Coba untuk pertimbangkan kembali jika Anda ingin melakukan persalinan di rumah.

Lotus Birth
Hampir semua orang tahu tentang metode yang satu ini, yang telah menjadi tren di kalangan selebriti tanah air. Apa sebenarnya lotus birth itu? Tali pusat yang tidak dipotong.

Baca juga: 
Persalinan Lotus

Ikatan Dokter Indonesia maupun Perkumpulan Dokter Kebidanan Indonesia tidak pernah merekomendasi yang namanya lotus birth, tidak ada kurikulum kedokteran yang mempelajari tentang itu. Mungkin banyak yang percaya jika tali pusat dipotong maka akan menimbulkan stres pada bayi. Oleh karena itu, metode persalinan tersebut membiarkan plasenta terlepas dengan sendirinya. Adapun yang meyakini bahwa menuda memotong plasenta dapat memberikan bayi banyak nutrisi sehingga menurunkan risiko anemia pada bayi.

Melakukan persalinan dengan lotus birth sangat tidak disarankan, mengingat beberapa risiko buruk yang dapat dialami, salah satunya plasenta dapat infeksi dan akan menyebar ke organ bayi melalui tali pusat.

Sebaiknya sebelum Anda mengikuti tren, pikirkan ulang efeknya, karena jika semuanya ternyata buruk, jelas bukan suatu perkara yang mudah untuk diperbaiki kondisi seperti semula. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau bidan jika Anda ingin melakukan atau mengikuti tren masa kini. 

Baca juga: 
5 Tips Hamil Sehat dan Bahagia
 

 

Artikel Rekomendasi

post4

Hamil pada Penderita Asma

Asma yang diderita tidak menjadi hambatan untuk Bunda hamil lagi. Bagaimana cara mengontrol asma agar tidak mengganggu kehamilan ?... read more