Manajemen Laktasi Ibu Bekerja

 


Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik bagi bayi baru lahir. Pada setiap tetes ASI terkandung berbagai zat penangkal virus, infeksi dan antibodi bagi si kecil. Dengan memberikan ASI, bayi terhindar dari berbagai kanker anak, penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan, hingga gangguan mental di kemudian hari.

Sementara bagi Ibu, dengan memberikan ASI dapat mencegah Ibu dari kanker payudara, diabetes, obesitas serta depresi pascamelahirkan. 
Tak heran, setiap Ibu selalu ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayinya. Termasuk ibu bekerja.

Disebut ASI eksklusif, lantaran selama periode itu bayi tidak diperbolehkan makan atau minum selain ASI. Setelah bayi berusia 6 bulan, ibu mulai mengenalkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Selama masa pemberian ASI eksklusif, ada ibu yang berhasil memberikan hingga bayi berusia 6 bulan.  Namun, ada juga yang hanya bertahan 3 bulan lalu beralih pada susu formula. Penyebabnya bisa karena kurangnya support system atau ibu tertekan dengan jumlah ASI yang sedikit.

Karena itu, seorang ibu - apapun  pekerjaannya penting mengetahui tentang manajemen laktasi. Bagi ibu bekerja, hal ini akan memudahkan pemberian ASI di saat ibu tidak bersama bayi.

Sementara, ibu yang tidak bekerja di luar rumah pun tetap perlu memerah ASI. Apalagi jika produksinya berlimpah yang jika tidak diperah akan menyebabkan payudara bengkak dan ibu mengalami demam.

Ada tiga tahapan dalam manajemen laktasi, yaitu:

Memerah
Sebelum ibu melahirkan, hendaknya sudah mengetahui teknik memerah ASI secara manual atau dengan jari. Cara ini terbilang sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit, dan hasilnya pun bisa banyak.

Sebelum memerah, cuci tangan menggunakan sabun terlebih dahulu, kemudian keringkan dengan lap yang bersih atau serbet kertas. Jika payudara bengkak dan ASI sulit keluar, kompres daerah sekitar payudara menggunakan handuk hangat.

Cara lain untuk memerah ASI yaitu menggunakan pompa ASI. Ada yang manual, ada juga yang elektrik. Saat ini sudah banyak dijual pompa ASI elektrik, sehingga memudahkan ibu dalam memerah ASI.

Menyimpan
ASI dapat disimpan dengan kantong plastik khusus ASI food grade, botol dari kaca bening, dan botol plastik yang bebas Bisphenol-A (BPA). Sebaiknya tidak menggunakan botol warna-warni, karena zat pewarnanya rentan masuk ke dalam cairan ASI.

Pada setiap kemasan, berilah tanggal kapan memerah dan kapan masuk ke dalam freezer. Gunakan stok yang lebih dulu dimasukkan ke freezer atau First In First Out (FIFO).
 
Lama Penyimpanan ASI Perah
  • ASIP segar maksimal 8 jam di ruangan ber-AC atau 4 jam di ruangan non-AC.
  • ASIP beku yang telah dicairkan maksimal 4 jam.
  • ASIP dalam kulkas maksimal 3 hari.
  • ASIP dalam freezer (1 pintu) 2 minggu.
  • ASIP dalam freezer (2 pintu) 4 bulan.
Sebelum ASIP dimasukkan ke freezer untuk dibekukan, ASIP ditaruh terlebih dahulu di kulkas bagian bawah.

Memberikan ASI
Pada saat pemberian ASI pada bayi,  ASIP tidak boleh langsung dipanaskan. Taruh kantung/botol ASI di dalam air dingin, kemudian pelan-pelan beri air hangat.

Jika ASI beku, taruh di kulkas bagian bawah semalaman agar mencair. Kemudian, ASI dihangatkan dengan cara ditaruh di mangkuk berisi air hangat.

Saat Bunda memberikan ASIP, sebaiknya disuapi pakai sendok dan cangkir. Karena, jika bayi terbiasa minum ASIP dari botol, ia akan mengalami bingung puting. Kondisi ini ditandai dengan bayi yang menolak menyusu langsung dari payudara ibu, karena ia terbiasa minum dari botol.

Kekhawatiran Bunda saat akan memerah ASIP biasanya karena jumlah yang berhasil diperah. Tenang Bunda, kapasitas perut bayi baru lahir itu berukuran buah cherry alias kecil atau 5/7 ml.

Setelah bayi berusia dua minggu, barulah kapasitas perutnya sebesar sebutir telur. Jadi, berapapun jumlah ASIP yang Bunda berikan pastilah cukup.

Maria Soraya Az Zahra
 

 

 



Artikel Rekomendasi

post4

Syarat Donor ASI

Donor ASI harus diatur dalam sebuah peraturan, karena resiko tertular penyakit berbahaya dapat terjadi melalui donor ASI. ... read more