5 Konflik Pernikahan yang Sering Terjadi Setelah Punya Bayi

 

Foto ilustrasi (Freepik)

Memiliki momongan tentu menjadi harapan banyak pasangan. Tak sedikit suami istri yang setelah menikah, langsung merencanakan untuk segera menimang bayi. Meski sebagian lainnya menunda hamil karena berbagai alasan. 

Apa pun itu, baik yang langsung merencanakan kehamilan atau menunda terlebih dahulu, tentunya itu adalah keputusan terbaik dari Anda dan pasangan. Namun yang pasti, ketika nanti bayi sudah lahir, kehadirannya membawa banyak perubahan bagi kehidupan Anda dan pasangan. 

Anda mungkin akan merasa bahagia menimang bayi, gembira saat melihatnya tumbuh dari hari ke hari, dan momen-momen lain yang menyentuh naluri Anda sebagai ibu   atau ayah. Tapi tak dimungkiri, Anda pun akan mengalami lelah, kesal, jengkel karena berbagai hal terkait menjalani peran baru sebagai orang tua. Anda barangkali juga bisa kaget, saat masih berdua dulu, bisa romantis kepada pasangan, tapi sejak bayi lahir, waktu untuk berduaan saja semakin susah. 

Beberapa hal ini yang mungkin Anda alami setelah memiliki bayi.  

Tugas rumah tangga menjadi bertambah, sering memicu pertengkaran

Karena ada bayi, pekerjaan rumah pun bertambah. Misalnya, tumpukan pakaian kotor yang dulunya hanya milik berdua, sekarang jadi ada  baju-baju mungil, selimut yang terdapat noda muntahan, dan lainnya. 

Kesibukan di rumah pun menjadi bertambah, karena harus menyusui dan merawat bayi. Tak jarang, untuk persoalan menjaga bayi saja sudah cukup menyita waktu dan energi. Sehingga pekerjaan rumah lainnya menjadi terbengkalai. 

Keadaan semacam itu, bisa saja menjadi pemicu pertengkaran. Mungkin karena istri sibuk dengan bayi, suami menjadi kurang diperhatikan. Atau pekerjaan rumah tak sempat dibereskan, karena keduanya sibuk. 

Solusi
Jika rumah tangga Anda mengalami permasalahan seperti ini, salah satu solusinya, tarik napas dulu, tahan emosi. Hindari memperlihatkan respons negatif seperti mengomel ke suami atau istri, karena ini tidak menyelesaikan masalah, malah hanya menimbulkan kejengkelan. 

Sebaiknya, komunikasikan untuk membagi tugas bersama. Diskusikan mana tugas suami dan mana tugas istri. Buat kesepakatan termasuk jika ada hal-hal tak terduga seperti apabila bayi sakit dan membutuhkan perhatian ekstra. Atau, Anda juga bisa mendiskusikan jika ingin mencari asisten rumah tangga, baik yang menginap di rumah Anda atau yang datang pagi pulang sore. Jika ada keluarga yang bersedia membantu menjaga bayi, apakah itu mertua, saudara, ini tentu akan lebih baik. Satu hal yang perlu Anda pertimbangkan adalah di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, pastikan orang yang Anda percaya untuk membantu di rumah, sehat fisik dan steril dari virus. 
 
Foto ilustrasi (Freepik)


Perdebatan tentang gaya pengasuhan siapa yang paling baik

Ayah menganggap bayi tidak masalah diberi empeng. Sedangkan ibu bersikeras bayi tak boleh terkena empeng sedikit pun. Atau, ayah menilai anak boleh diberi susu formula, sedangkan ibu tidak mau memberi susu formula. 

Solusi
Jika sulit untuk menemukan titik tengah dari perdebatan Anda berdua tentang cara siapa yang lebih baik, coba ajak pasangan untuk menyimak apa kata pakar. Jadi, serahkan pada ahlinya untuk memberi keterangan. 

Hubungan seks menjadi berkurang
Setelah ada bayi, hubungan seks tak hanya dinilai merepotkan (biasanya oleh istri) tetapi bisa juga karena luka bekas melahirkan belum pulih, sehingga tak nyaman saat berhubungan intim. 

Solusi:
Pertama, bangkitkan mood untuk memulai hubungan seks. Tentunya saat Anda merasa siap. Setelah itu, rencanakan waktu terbaik untuk melakukannya. 
 
Foto ilustrasi (Freepik)

Jarang punya waktu berdua
Karena ada bayi, waktu untuk pasangan menjadi waktu untuk keluarga. Hal ini bisa menyebabkan romantisme maupun keintiman suami istri menjadi berkurang, apabila dibiarkan terus-menerus. 

Solusi
Sediakan waktu untuk berduaan. Mungkin setelah bayi tidur, Anda dan pasangan dapat kencan makan malam berdua di rumah. Bahas tentang apa saja yang Anda berdua sukai, selain tentang bayi, sehingga pikiran kembali fresh. 

Waktu me time berkurang
Banyak ibu yang tenggelam dalam kesibukannya mengurus bayi, sampai tak ada waktu untuk dirinya sendiri. Inilah salah satu kondisi yang membuat banyak orang tua baru merasa tidak bahagia. Padahal menjadi orang tua sangat dianjurkan untuk bahagia, karena dengan modal kebahagiaan inilah akan tumbuh anak-anak yang bahagia.

Solusi
Berikan me time untuk diri sendiri. Minta bantuan suami untuk menggantikan menjaga anak. Anggap saja ini hadiah untuk diri sendiri setelah seharian mengurus keluarga. Secara tidak langsung, ini juga hadiah untuk keluarga. Karena setelah Anda mendapatkan me time dan merasa segar kembali, mengurus keluarga pun jadi lebih fokus. 

ALI

 



Artikel Rekomendasi