5 Manfaat Rasa Sakit Saat Melahirkan

 

 
Fotosearch


Anda kerap mendengar atau mungkin sudah mengalami bahwa melahirkan itu, terutama melahirkan normal, sakit luar biasa. Rasa sakit yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Namun, kenyataannya miliaran bunda di dunia berhasil mengatasi rasa sakit tersebut dan bahkan siap untuk melahirkan lagi anak yang kedua. Ternyata, rasa sakit yang dirasakan saat melahirkan ada manfaatnya untuk bunda dan bayi. Ini di antara beberapa manfaatnya. 

Membuat Anda Waspada
Pernah mendengar kisah bunda yang tidak kunjung merasa sakit akibat kontraksi, sehingga akhirnya melahirkan di mal? Berterimakasihlah pada rasa sakit yang kita rasakan menjelang persalinan, sebab, rasa sakit itu ibarat alarm, yang memaksa Anda bereaksi.

Ketika proses melahirkan dimulai, rasa sakitlah yang mengarahkan Anda untuk menghubungi dokter atau berangkat ke rumah sakit. Bila tidak terasa sakit, Anda menjadi tidak waspada terhadap seuatu yang tengah berlangsung di dalam tubuh Anda. 

Melindungi Janin
Riset bertahun-tahun Dr. Volker Maassen, ahli ginekologi di Hamburg, Jerman, menghasilkan temuan bahwa rasa sakit akan menghasilkan strategi perilaku khas, yaitu calon ibu secara naluriah melakukan penguasaan diri agar rasa sakit yang ia rasakan berada pada tingkat paling rendah, salah satunya dengan bernapas dalam atau mengubah posisi tubuh.

Ternyata hal itu memberi efek samping yang baik bagi bayi. Misalnya, ketika ibu banyak berjalan-jalan dan bergerak karena merasa itu adalah posisi paling nyaman saat diserang kontraksi, dampaknya adalah dalam posisi tubuh tegak lurus janin mudah turun ke jalan lahir sehingga ia lahir lebih cepat. Ketika ibu bernapas dalam untuk mengurangi rasa sakit, itu akan memberi pasokan oksigen maksimal pada janin.

Menurut Dr. Volker,"Yang dibutuhkan ibu adalah pendamping persalinan yang  dapat membimbing ibu untuk menemukan posisi tubuh yang nyaman bagi ibu, sekaligus menguntungkan janin.".

Meredakan Ketegangan.
Professor Klaus Vetter, dokter kepala dari jurusan pengobatan kelahiran di Klinik NeuKolln, Berlin, mengatakan, "Dalam persalinan, penting bagi ibu untuk menemukan metode pereda ketegangan yang bisa mengendalikan pikirannya, sehingga tidak tegang dan stress sepanjang persalinan.". Menurutnya, ketika ibu  dilanda rasa sakit akibat kontraksi, ibu cenderung berusaha mengatasinya dengan menyibukkan diri; berbincang-bincang dengan bidan, meminta suami memijat punggung, berjalan-jalan di lorong rumah sakit, atau melatih pernapasan. Aktivitas itu akan mengalihkan perhatian ibu dari rasa tegang. Dalam dunia medis, penggunaan alat bantu kesehatan seperti TENS atau simulasi saraf transkutan elektrik, selain mengurangi rasa sakit juga menenangkan ibu sebab gelombang elektro yang disalurkan ke titik-titik refleks, akan menenangkan sistem syaraf.
 
Mendorong Bayi Keluar
Oksitosin atau hormon stress yang dihasilkan pada saat kontraksi akan "membangunkan" bayi agar ia bersiap-siap untuk menghadapi dunia luar.  Lalu pada setiap kontraksi yang dialami ibu, otot-otot rahim yang berkontraksi mendorong bayi keluar sehingga terjadi peregangan dan pelebaran mulut rahim.  

Itu sebabnya  mengapa setiap kontraksi dan setiap rasa sakit yang Anda rasakan, disebut akan mendekatkan bayi pada kelahiran dan pertemuannya dengan Anda, ibunya!
 
Meningkatkan bonding ibu dengan bayi
Penjelasannya begini, rasa sakit saat bersalin terjadi akibat kontraksi yang membuat rahim dalam keadaan stres akut. Verena Schmid, pimpinan akademi kebidanan di Florenz, Jerman, dan pengarang buku “Geburtschmerz” menulis, sebagai akibat stres akut pada rahim, tubuh akan memproduksi hormon stres oksitosin yang secara hormonal juga memiliki efek memperkuat hubungan ibu dengan bayinya.

"Ini merupakan proses alamiah yang menjelaskan, mengapa perasaan seorang ibu begitu meluap dengan cinta tatkala menyaksikan bayinya lahir," tulis Verena. 

(TIMAB/DES)

Baca Juga:

Tetap Percaya Diri Pasca Melahirkan
Siap Mental Menyusui Bayi Baru Lahir
Mimpi Ibu Baru

 



Artikel Rekomendasi