Abaikan Komentar Buruk

 


Karena itu, Anda butuh dukungan dari orang-orang di sekitar Anda. Dukungan ini bisa berupa tenaga maupun ucapan-ucapan yang baik dan menenangkan.

Namun, realita tidak seperti yang Anda inginkan. Dari sekian banyak kunjungan tamu yang datang menjenguk Anda dan bayi, ada saja yang berkomentar buruk tentang status Anda sebagai Ibu baru.

“Anaknya enggak ada mirip-miripnya sama Ibunya, ya. Putih, gede, mancung, kayak bapaknya banget.”
Kalau tamu yang berkunjung hubungannya sangat dekat dengan Anda, ucapan seperti itu mungkin hanya lewat di kuping. Yang menyebalkan, jika yang berkomentar demikian temannya mertua atau teman suami, yang sama sekali tidak dekat bahkan Anda pun tidak mengenalnya.

“Kok, jahitannya bisa banyak. Kurang pinter, nih, jadi Ibu. Si itu aja jahitannya dikit.”
Membandingkan kemampuan ibu melahirkan sangat tidak etis. Apalagi jika ternyata orang yang jadi bandingan berat bayinya 3 kg, sementara  bayi Anda 3,9 kg. Banyak sedikitnya jahitan perineum bukan indikator pintar tidaknya seorang ibu melahirkan.

“Bayinya kenapa dikasih susu formula? Ibunya pasti malas menyusui.”
Setiap ibu punya kondisinya masing-masing. Sesaat setelah melahirkan, tidak semua ibu bisa langsung keluar ASI-nya. Setiap ibu pastilah ingin memberikan ASI. 

“Sudah seminggu, lho,  jalannya kok masih kayak orang cacat. Biasa ajalah.”
Pernyataan ini biasanya ditujukan pada Ibu yang melahirkan secara normal. Memang, ada Ibu yang enam jam setelah melahirkan langsung bisa berjalan. Namun pengalaman setiap ibu selama proses persalinan tidak selalu sama. Ada yang mengalami trauma karena proses yang kurang menyenangkan, bayinya terlalu besar, atau si ibu memiliki traumatophobia, yaitu takut pada luka.

“Kepala bayinya, kok, gak rata, ya? Waktu itu mengejannya salah kali, ya?”
Penyebab kepala bayi tidak rata memang salah satunya karena adanya tekanan di jalan lahir saat persalinan. Namun, bentuk kepala bayi masih bisa berubah 6 minggu pascalahir.

Caranya, ubah posisi tidur bayi secara bergantian ke sisi kanan dan sisi kiri. Perbaiki juga cara Anda menggendong anak agar tekanan pada kepala bayi yang masih lunak tidak di satu tempat.

“Bayinya harus dikasih bangle, peniti, gunting sama jarum, biar enggak dideketin makhluk halus”
Komentar ini biasanya keluar dari nenek atau orang-orang yang masih percaya mitos. Kepercayaan ini tentu hanyalah mitos. Sebaiknya tidak menaruh benda-benda tajam di sekitar bayi yang baru lahir, karena justru akan membahayakan ibu dan bayi.

“Kok bayinya rewel terus? Enggak mau menyusu juga. ASI-nya basi, kali.”
Tidak ada istilah ASI di payudara ibu itu basi. Kecuali sudah berupa ASI perah, ditaruh di wadah dan penyimpanannya salah.

Bayi rewel dan tidak mau menyusu perlu segera diatasi karena penyebabnya beragam. Jika puting payudara Anda datar, bayi memang bakal kesulitan mengisap ASI. Tarik puting Anda keluar atau Anda bisa menggunakan penyambung puting agar bayi dapat menyusui dengan lancar.

Namun, jika penyebabnya mulut bayi belum bisa melekat pada payudara, Anda dapat mencari posisi terbaik dan nyaman saat menyusui.

Kuatkan diri Anda, ya, Bunda, saat harus bertemu dengan orang-orang yang berkomentar  negatif. Jangan dimasukkan ke hati dan menjadi beban pikiran. Kunci dari keberhasilan menyusui adalah hati yang tenang dan bahagia. Demikian pun proses pemulihan diri Anda.
 
Maria Soraya Az Zahra
 

 

 



Artikel Rekomendasi

post4

Sukses Sekamar Dengan bayi (rooming in)

Anda berhak dan bisa melakukan rooming in bersama bayi di rumah bersalin. Setelah melewati perjuangan antara hidup dan mati saat melahirkan, tentu Anda ingin segera mendekap bayi berlama-lama. Rooming... read more