Haruskah Merasa Bersalah?

 

Inilah kenyataan. Setiap perempuan dikaruniai payudara, tapi tidak semuanya diberi kemampuan untuk bisa menyusui langsung. Sama hal nya seperti laki-laki memiliki testis untuk menghasilkan sperma, namun tidak semua sperma bisa membuahi.

Seberapapun kerasnya usaha ibu untuk memberikan ASI eksklusif, kenyataannya, berbagai tantangan dari yang ringan sampai yang berat terpaksa mengalahkan keinginan tersebut. Akibatnya beberapa ibu tidak bisa melanjutkan menyusui, atau terpaksa memberikan ASI menggunakan botol. Bahkan ada juga yang akhirnya memberikan bayinya susu formula. Tantangan-tantangan seperti, ASI tidak cukup, rasa sakit, tingkat stres yang sangat tinggi sampai harus kembali bekerja adalah beberapa alasannya. Alasan yang sangat bervariasi dan sangat pribadi. Simak kasus-kasus di bawah ini yang umum terjadi, lengkap dengan saran dari Roslina Verauli.

Kasus 1: Merasa di-bully  oleh sekitar
Justru ‘penghakiman’ datang ketika seorang ibu berusaha memberikan ASI. Ibu stres sekali karena dihakimi oleh orang di sekitar, terutama keluarga. Alih-alih dibuat nyaman dan rileks, keluarga malah menyalahkan saya. Ada yang bilang harus meneruskan ASI, ada juga yang bilang harus ditambah susu formula. Banyak anggota keluarga berkerumun di kamar dan berkomentar ini dan itu, membuat ibu pusing.

Saran Vera:
Setiap orang punya kecenderungaan merasa “lebih berpengalaman” dalam mengurus bayi saat mereka lebih dulu memiliki anak. Ketika sedang dalam kelompok, setiap orang merasa perlu mengemukakan pendapat, terlihat baik dan benar. Toh, mereka pikir sudah teruji “berhasil” untuk bayinya. Banyak yang lupa, tiap bayi lahir dengan kondisi berbeda.Perbedaan ini turut memengaruhi proses pemberian ASI. Satu hal yang pasti, kelola emosi Anda agar rileks dan happy. Perasaan positif meningkatkan kualitas proses
pemberian ASI. Tentang komentar dan pendapat orang, dimaklumi saja. Anda yang paling paham kondisi diri dan bayi Anda. Bila kunjungan orang sekitar terasa mengganggu, secara asertif katakan, Anda sedang ingin istirahat dan terima kasih untuk kunjungannya. Tentang keinginan untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi, tentu adalah idaman setiap para bunda yang mengerti tentang pentingnya ASI. Namun lebih
penting untuk tak membiarkan bayi Anda menangis kelaparan. Ingat, pemberian ASI untuk memberi makan bayi, bukan menjadi ajang prestasi atau sekadar memenuhi keinginan menjadi orang tua sejati.

Kasus 2: Khawatir bingung puting
Di minggu-minggu pertama bayi diberikan susu formula menggunakan botol. Akhirnya ibu menjadi bingung dan khawatir, bayi bingung puting, dan benar saja sesampainya di rumah, ia menolak diberikan ASI.

Saran Vera :
Yang penting ibu tetap tenang. Toh, fakta bayi cukup makan jauh lebih penting. Ketika bayi baru lahir, saat itu juga ia belajar tentang dunianya. Termasuk belajar tentang puting, dot, selang, sendok yang menjadi “sumber” makanan. Bila bayi sejak lahir menerima asupan susu melalui botol, ia belajar bahwa dot pada botol adalah sumber makanan, sehingga lumrah ketika Anda perkenalkan puting, ia menolak. Bagi si bayi, puting susu adalah benda asing.  Butuh lebih kurang 8 hingga 15 kali percobaan untuk mengenalkan makanan baru pada seorang anak. Nah, bayangkan kalau anaknya masih bayi. Sudahkan Anda mencoba memberikan puting dan ASI Anda hingga jumlah tersebut? Tetap mencoba, penting. Lebih penting lagi ibu tetap rileks dan bahagia, karena bayi butuh bunda yang membantunya merasa nyaman dan dipenuhi oleh cinta.

Kasus 3: Anak jadi sakit-sakitan
Seorang ibu merasa menyesal tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk anaknya, karena waktu itu bayinya dilahirkan prematur dan tidak kuat menghisap susu. Berat badannya sempat turun drastis tidak bisa naik. Karena pengetahuan ibu waktu itu masih minim, bayi diberikan susu formula. Sekarang si anak mudah sakit dan hampir setiap bulan langganan ke dokter.

Saran Vera :
Ada banyak penyebab anak menjadi mudah sakit. Bukan karena faktor ASI semata. Bawaan genetis hingga kondisi lingkungan fisik bayi juga turut memainkan peran tersendiri. Memang ketika bayi lahir prematur mereka belum mampu mengisap ASI langsung dari puting. Biasanya dibantu selang dimana susu tetap bisa saja ASI perahan dari ibu. Tapi sekali lagi tak pernah ada sekolah menjadi orang tua yang bisa mengajarkan setiap langkah pengasuhan, karena kondisi bayi dan ibu begitu berbeda satu dengan yang
lainnya. Ketika Anda tidak paham, Anda tak perlu merasa bersalah apalagi menyesal. Menyesal artinya berpikir mundur tentang yang sesuatu yang sudah lewat. Sementara bayi Anda terus tumbuh dan mencapai tahap perkembangan yang berbeda setiap waktunya. Bayi Anda butuh orangtua yang siap terbuka berpacu dengan waktu untuk belajar seiring perubahan kebutuhan fisik, senso-motor, kognitif, dan psikosial bayi yang begitu pesat.


KONSULTAN : ROSLINA VERAULI, MPsi, Psikolog anak dan keluarga RS Pondok Indah & PacHealth

 



Artikel Rekomendasi