Maternal Ambivalence, Ibu Galau Antara Sayang dan Frustrasi

 

Caption

Ada suatu masa ketika ibu hamil atau sudah melahirkan, memiliki perasaan mendua. Satu sisi merasa sangat mencintai janin di dalam rahimnya atau anak yang sudah dilahirkan, tapi di saat yang bersamaan ia merasa frustasi dan dipenuhi kemarahan. Buat sebagian ibu, perasaan ini bisa membuatnya malu dan merasa bersalah.
 
Maternal ambivalence – perasaan mendua yang dialami oleh ibu, diartikan sebagai perasaan kuat yang dialami oleh ibu. Di satu sisi ia merasakan cinta yang luar biasa pada anak, di sisi lain dia juga merasa frustrasi dan marah.
 
Sebuah artikel yang dimuat di Mindbodygreen.com, maternal ambivalence bisa dialami 40% ibu yang baru  melahirkan. Tak sedikit ibu yang merasa malu memiliki perasaan ini, dan menganggap bahwa perasaan ini nggak bener. Ibu jadi merasa semakin tidak berani mengungkap perasaan ini karena ada semacam ‘desakan’ yang mengatakan, ‘setiap ibu punya naluri menjaga dan merawat bayinya’. Ini justru bisa berbahaya buat si ibu, karena ia harus menyangkal perasaannya yang benar-benar nyata.
 
Penyebabnya
Barbara Almond, seorang psikoterapis dan psikoanalis, menulis sebuah artikel  di Psychologytoday.com menyebut, penyebab maternal ambivalence ini karena adanya konflik kebutuhan antara ibu dan bayi. Misalnya, meski seorang ibu sangat sayang pada bayinya dan bersedia menyusui setiap 2 jam, tapi ibu juga merasa frustrasi karena tidak dapat menikmati tidur malamnya.
 
Tidak sedikit ibu yang pada akhirnya mengalami depresi karena munculnya dua perasaan yang bertolak belakang ini, dan dia merasa punya pikiran yang aneh. Dia tetap menyusui bayinya, meski saat itu dia tidak ingin. Di zaman sekarang maternal ambivalence disebut sebagai ‘kejahatan yang tidak ada namanya’.
 
Normalkah?
Tenang, bunda-bunda yang sedang mengalami. Ini fenomena yang wajar, kok. Tapi jangan pernah menekan peraaan ini. Bicarakan. Banyak ibu ingin menekan perasaan negatif, padahal keinginannya untuk menekan perasaan ini malah menjadi beban.
Ibu-ibu yang tinggal dalam budaya yang tidak terbuka, tidak dibiasakan mengungkapkan perasaannya, akan sulit mengatasi perasaan ini dan menguburnya dalam-dalam. Membiarkan perasaan ini hilang dengan sendirinya sejalan dengan berlalunya waktu. Apakah ini sehat? Perasaan mendua - cinta dan marah - tentu akan mewarnai cara ibu mengasuh anak-anaknya. 

Ibu baru perlu dukungan
Apakah maternal ambivalence ini sama dengan sindroma pascamelahirkan? Ternya tidak. Sindroma pascamelahirkan didefinisikan sebagai perasaan sedih dan tak berdaya menghadapi perubahan peran menjadi seorang ibu dengan bayi barunya. Ibu bisa saja tidak merawat bayinya dan hanya menangis saja.
 
Dukungan selama hamil dan melahirkan sangat diperlukan oleh ibu. Dukungan dari teman, saudara kandung, dan terutama suami, serta orang tua. Dukungan dari sesama ibu yang mau berbagi perasaan yang sama ketika melahirkan, akan sangat membantu. Ibu yang mengalami maternal ambivalence akan terhindar dari perasaan bersalahnya, karena merasa tidak sendiri. (IR)
 
 
 
 
 
 

 

 



Artikel Rekomendasi