Waspadai 4 Gejala Depresi Postpartum Ini, ya, Ayah!

 


Foto: Pixabay

 

Kelahiran bayi bagi sebagian ibu terasa menakutkan, melelahkan, bahkan butuh perjuangan ekstra saat merawatnya. Kesulitan beradaptasi inilah yang menyebabkan ibu baru mengalami baby blues pascamelahirkan. Apabila suasana hati negatif ini berlarut-larut, Ayah wajib mewaspadai kondisi depresi postpartum pada pasangan. Berikut 4 gejalanya…
 

Gejala 1: Perubahan suasana hati
Kapan harus khawatir?
Ibu baru cenderung mengalami
rollercoaster emosi. Kadang merasa gembira, di lain waktu bisa menangis tanpa sebab. Seharusnya luapan emosi menjadi lebih jarang setelah beberapa minggu pascamelahirkan. Jika berlanjut, itu pertanda bahwa istri Anda merasa kewalahan dan tidak mendapat dukungan yang dibutuhkannya.

Ca
ra membantunya?
Tetap tenang!
Tidak mudah bagi Ayah ketika harus berhadapan dengan perilaku yang tidak rasional. Jika Anda juga emosi saat menghadapi pasangan sudah pasti terjadi adu teriakan. Dengarkan curhatnya dan hibur pasangan untuk memastikan dia merasa aman dan dimengerti. FYI, konflik perkawinan adalah kontributor utama depresi pascapersalinan. Jika Ayah tidak melihat perubahan, ada baiknya mencari bantuan konseling profesional.

 

Gejala 2: Pikiran obsesif dan irasional
Kapan harus khawatir?
Ibu baru yang sangat obsesif terhadap bayinya juga harus mendapat perhatian khusus. Bisa jadi ia merasakan ketakutan yang tidak masuk akal sehingga merasa perlu berdekatan dengan bayinya setiap saat. Beradaptasi dengan bayi baru bukan berarti menghabiskan seluruh waktu yang dimiliki oleh pasangan Anda.

C
ara membantunya?
Jangan sesekali
Ayah berpikiran untuk memberitahu pasangan bahwa dia tidak rasional! Sebaliknya, beri istri kesempatan untuk membicarakan ketakutannya. Sering kali, memiliki teman berbagi dapat mengurangi ketakutan dan kadar obsesifnya sehingga memudahkan dalam beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai ibu.

 

Gejala 3: Insomnia
Kapan harus khawatir?
Jelas delapan jam tidur nyenyak tidak lagi menjadi kenyataan
bagi ibu baru, tetapi sulit tidur di malam hari tanpa gangguan bayi yang menangis minta ASI atau ganti popok menandakan adanya masalah.

C
ara membantunya?
Ayah tidak
mungkin menggantikan peran ibu yang memberikan ASI eksklusif, tetapi Anda masih dapat membantu dengan cara membuat bayi bersendawa atau menggendong si kecil sehingga pasangan dapat waktu lebih banyak tidur sebelum sesi menyusui berikutnya.

 

Gejala 4: Muncul pikiran melukai diri sendiri, atau bayi!
Kapan harus khawatir?
Banyak ibu
baru mungkin berpikiran mereka adalah satu-satunya orang yang kesulitan menjadi ibu sehingga menimbulkan rasa bersalah dan minder. Kadang ketidakmampuan ini menumbuhkan perasaan benci kepada diri sendiri maupun si kecil yang telah mengubah hidup mereka. Alhasil muncul keinginan untuk melukai diri sendiri—bahkan bayinya!

Cara membantunya?
Ayah harus menyadari perubahan sikap pada pasangan.
Biarkan saluran komunikasi tetap terbuka, dan pastikan istri menyadari bahwa Anda siap menerima semua emosi yang dipendamnya selama ini. Hindari menghakimi dan perbanyak dukungan, ya, Ayah…

 

PRIMA SOERATNO

 



Artikel Rekomendasi