Hati-hati Bun, Kulit Kering Rentan Kena Infeksi Virus dan Bakteri

 

Foto ilustrasi (Freepik)
Salah satu protokol kesehatan yang harus kita lakukan di masa pandemi Covid-19, yaitu mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Jika tidak ada sabun dan air mengalir, hand sanitizer bisa digunakan sebagai pengganti darurat. 

Namun tahukah Bunda bahwa hal tersebut membawa efek samping bagi kulit, yaitu kulit menjadi kering? Padahal, kulit merupakan organ tubuh terluas yang bisa menjadi barrier atau penghalang masuknya benda asing, termasuk virus dan bakteri.  

Dokter Spesialis Kulit - Dermatologi Kosmetik, Lilik Norawati, mengatakan, kulit kering tidak bisa diabaikan. Kulit kering bisa membuat Anda lebih rentan terhadap bakteri atau infeksi. Mengapa? Karena kurangnya kelembapan, kulit tangan akan mudah pecah-pecah, menciptakan jalan masuk bagi mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur yang selanjutnya dapat menimbulkan masalah baru pada kulit. 

Kulit tangan juga dapat mengalami iritasi akibat penggunaan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol, yang dapat menyebabkan dermatitis atau eksim berkepanjangan. Bila kulit tangan mengalami infeksi atau eksim, tentunya akan mengganggu fungsi tangan, sehingga akan mengganggu kegiatan sehari-hari. 

Selain mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer, kita juga dianjurkan untuk memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Pemakaian masker ini juga dapat menimbulkan masalah kulit. 
 
Foto ilustrasi (Freepik)


"Berdasarkan pengalaman saya menangani pasien selama pandemi Covid-19, ternyata masalah kulit timbul tidak hanya akibat sering mencuci tangan atau penggunaan hand sanitizer yang berlebihan atau terlalu sering, tapi juga terjadi akibat penggunaan masker dalam jangka waktu lama," kata dr. Lilik dalam keterangan pers Senin, 18 Mei 2020. 

Dokter Lilik menjelaskan, penggunaan masker dapat mengakibatkan kekambuhan jerawat pada orang yang mempunyai bakat jerawat (terutama terjadi di daerah yang tertutup masker), luka-luka akibat tekanan, dan dermatitis kontak. 

Faktor pencetus masalah kulit akibat penggunaan masker antara lain lingkungan yang panas, lembap, dan oklusi akibat tekanan masker dapat menyebabkan kekambuhan atau memperparah jerawat , tekanan pada bagian hidung dapat menyebabkan luka, tali ikat masker dapat menyebabkan dermatitis kontak, dan bahan kain masker yang menempel ketat dapat menyebabkan iritasi.

Efek jangka panjang masalah-masalah kulit tersebut akan menimbulkan bercak-bercak hitam akibat iritasi atau luka, atau jaringan parut akibat jerawat. 

Masalah tersebut tidak  hanya terjadi pada masyarakat umum tetapi juga dialami oleh petugas kesehatan di rumah sakit, apalagi petugas medis yang berhadapan langsung dengan pasien Covid-19 tentu lebih ketat menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) dalam jangka waktu yang lama dan sering. 

Dokter Spesialis kulit – Dermatologi Kosmetik, Abraham Arimuko mengatakan, pemakaian APD yang lebih intens ini menjadi muncul  banyak keluhan.  Mulai dari iritasi atau rasa pedih saja, muncul ruam, dan  lecet.  Bisa juga muncul bisul kecil-kecil, bahkan bisa kambuh herpes yang muncul di sekitar sudut  mulut. Selain itu, bisa timbul jerawat dan pigmentasi inflamasi, dimana kulit menjadi hitam-hitam. 

"Paling menyedihkan adalah kulit menjadi hitam hitam, karena ada iritasi kronis. Untuk petugas medis wanita yang masih muda, ini sangat menyedihkan," kata Dr. Abraham.
 
Foto ilustrasi (Freepik)


Langkah perawatan
Untuk mengatasi kulit kering, harus rajin menggunakan pelembap. Dokter Lilik menyarankan, setelah mencuci tangan, langsung gunakan pelembap. Artinya, pelembap harus digunakan sepanjang waktu. 

Begitu pula bagi  mereka yang menggunakan masker dalam jangka waktu lama dan sering. Gunakan pelembap sebelum menggunakan masker. Pilih pelembap yang cocok dengan kulit wajah. Contoh, untuk kulit wajah berminyak, bisa menggunakan pelembap yang jenis losyen. Sedangkan untuk kulit yang kering, bisa menggunakan pelembap yang jenisnya krim.

Dokter Lilik mengatakan, saat ini terdapat beberapa pelembap khusus yang dapat memperbaiki barrier kulit yang rusak, karena tidak semua pelembap dapat memperbaiki barrier kulit yang rusak. Contoh pelembap yang dapat memperbaiki barrier kulit adalah pelembap dengan kandungan Pseudo-Ceramide

Pseudo-Ceramide mempunyai kemampuan untuk memproteksi kulit dan membantu memperbaiki barrier kulit yang rusak akibat pencucian yang sering. Selain kandungan pelembap, aplikasi pelembap yang sering adalah hal yang penting bagi mereka yang memiliki kekeringan kulit dan juga untuk mencegah terjadinya kekeringan kulit.

Medical Affairs Manager Soho Global Health, dr. Melissa Djaja, mengatakan pelembab dengan kandungan Pseudo-Ceramide bermanfaat di dalam membangun struktur lipid yang ada pada lapisan kulit, didukung oleh teknologi MLE (Multi-Lamellar Emulsion) yang menjadikannya sama persis seperti struktur 3 dimensi pelindung kulit yang ada pada manusia. 

Teknologi ini menghasilkan pelembap yang dapat menjadi solusi ideal untuk memperbaiki  pelindung  kulit  pada kondisi kulit kering dan sensitif. 

Ditambahkan VP Marketing Healthcare SOHO Global Health Sylvia A. Rizal, untuk mengembangkan terapi yang fokus pada kesehatan dan perawatan kulit (Skin care), SOHO bekerja sama dengan NeoPharm Co. Ltd, Korea. NeoPharm Co. Ltd ini memiliki kemampuan penguasaan teknologi skin care dan pemahaman kebutuhan konsumen yang sangat baik sehingga produknya menjadi market leader di Korea, terutama untuk sensitive skincare market
 


"Lisensi NeoPharm Co. Ltd diberikan kepada SOHO Global Health untuk memasarkan produk pelembap dengan kandungan Pseudo-Ceramide melalui brand NOROID. Noroid dengan kandungan Pseudo-Ceramide dan teknologi MLE  yang dipatenkan, menjawab permasalahan untuk kondisi kulit kering dan sensitif dengan formulasi yang dibuat sama seperti struktur alami pada kulit manusia," tutup Sylvia.

ALI

 


Topic

#corona #coronavirus #viruscorona #covid19 #dirumahsaja #dirumahaja #belajardirumah #workfromhome



Artikel Rekomendasi