#TipsSukses Keluarga Spesial untuk Menumbuhkan Anak Spesial

 

Foto: #Tipsuksesanakmandiri

Untuk menyambut Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember 2021, Drisana Center yang fokus pada anak-anak berkebutuhan khusus menyelenggarakan seri pertemuan virtual yang ditujukan untuk orang tua dengan anak berkebutuhan khusus maupun umum dalam tajuk #TipsSukses Keluarga Spesial. Rangkaian acara ini bertujuan untuk berbagi kisah inspiratif sekaligus memberikan edukasi mengenai pengasuhan dan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.
 
Dalam sesi #TipsSukses Anak Mandiri, Drisana berkolaborasi dengan Sekolah Vokasi Citra Anindya mengajak tiga orang tua dengan anak berkebutuhan khusus untuk berbagi kisah inspiratif dalam menumbuhkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk menjadi manusia mandiri dan berdaya hidup di masyarakat. Misalnya saja, Kemal M. Rizky Avicenna yang  terlahir dengan down syndrome 21 tahun lalu. Kini ia menjadi atlet leader Special Olympics Indonesia DKI Jakarta dan juga atlet bocce, yang menggabungkan bowling dan billiar. Kemal saat ini aktif mengampanyekan gerakan inklusivitas dari sekolah ke sekolah agar anak-anak berkebutuhan khusus bisa diterima, dihargai dan dihormati di masyarakat luas. Ada pula Muhammad Fadillah Harahap (24) yang saat ini berprofesi sebagai barista, dan Adikki (26) dengan Asperger yang berhasil menjadi sarjana.
 
Butuh Support System yang Kuat
Kisah-kisah inspiratif ini dapat menjadi pembelajaran dan penambah semangat bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus bahwa setiap anak dapat memperoleh haknya untuk hidup mandiri dan berdaya di masyarakat yang inklusi. Memang bukan hal yang mudah. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Ama, orang tua Adikki yang menceritakan bahwa keluarga juga sangat penting dalam mendukung kesuksesan pengasuhan anak berkebutuhan khusus. Keluarga dan sepupu Adikki diceritakan turut terlibat dalam mengajarkan sosialisasi.
 
Mereka juga secara konsisten melakukan generalisasi dari keterampilan yang diperoleh Adikki dari terapi. Saat ini Adikki sudah mampu bepergian sendiri dengan kendaraan umum, mengurus keperluannya sendiri, bahkan mengatur keuangannya.
 
Selain itu orang tua Kemal, Early Roza juga menekankan pentingnya dukungan lembaga yang mendukung pendidikan inklusivitas. Ia menceritakan pengalamannya bahwa mencari sekolah saja bukan hal yang mudah karena harus berkeliling dan mengalami beberapa penolakan. Ia mengaku bersyukur telah mendapatkan sekolah yang ramah disablitas dengan fasilitas lengkap dan pendampingan guru bayangan sehingga potensi dan perkembangan anaknya mulai terlihat.
 
Ia mengatakan bahwa memiliki anak dengan kebutuhan khusus rasanya seperti punya PR yang tak kunjung selesai. Ia menyarankan agar orang tua dengan anak berkebutuhan khusus harus aktif belajar dan mencari informasi melalui konsultasi dengan psikolog, terapis, atau pun ikut komunitas.
 
Komunitas sebagai support system juga merupakan wadah penting bagi keluarga dengan anak-anak . Hal ini yang dirasakan oleh ibu Rumondang Bulan Siregar, orang tua Fadil yang menceritakan bahwa perkenalan pertama anaknya dengan pemilik kafe di mana ia menjadi barista adalah lewat SPEKIX, Special Kids Expo pada 2019 silam. Artinya, butuh ruangan yang mempertemukan anak-anak special untuk berkolaborasi.
 
Artinya, dalam menumbuhkan anak-anak berkebutuhan khusus yang mandiri dan berdaya dibutuhkan peran dan dukungan keluarga serta masyarakat. Orang tua anak berkebutuhan khusus tidak bisa ditinggalkan sendiri.
 
Dalam rangkaian pertemuan virtual ini, Drisana juga menghadirkan diskusi lain mengenai tantangan belajar anak berkebutuhan khusus serta pendidikan inklusif, story telling dengan praktisi therapeutic stories, organisasi pegiat autisme dan komunitas Ayo Dongeng Indonesia, serta tips bagi ayah untuk bermain bersama anak berkebutuhan khusus.
 
Baca juga:
Stimulasi Anak Berkebutuhan Khusus di Masa Pandemi
Mainan Anak Berkebutuhan Khusus
Diet Untuk Anak Berkebutuhan Khusus
 
 
LTF
FOTO: DOKUMENTASI #TIPSSUKSES ANAK MANDIRI

 
 
 

 



Artikel Rekomendasi