Ibu Bekerja: Kurang Tidur

 

Salah satu masalah khas ibu bekerja adalah kurang tidur. Padahal tidur adalah kebutuhan yang penting dipenuhi, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Bagaimana cara mengatasi masalah ini?
 
Penyebab klasik. Berdasarkan survei yang dilakukan sebuah majalah ibu dan anak di Amerika, 88% ibu merasa lelah dan mengantuk karena kurang tidur. Bahkan 82% ibu bekerja mengaku kurang tidur ini mempengaruh performa mereka dalam bekerja. Jadi, kurang tidur pada ibu adalah sesuatu yang umum. Berikut adalah beberapa penyebab klasik kurang tidur pada ibu:
  • Night breastfeeding
Bagi ibu dari bayi 0 – 6 bulan, menyusui bayi di malam hari adalah hal yang tak dapat dihindari. Ada bayi yang sudah tidur dengan jadwal teratur setelah usia 3 bulan tapi ada juga yang masih bangun malam dan harus disusui hingga berusia 6 bulan ke atas.
  • Adaptasi
Ibu yang baru kembali bekerja setelah cuti hamil biasanya memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan jadwal harian. Kalau biasanya selama cuti bisa “membayar” tidur yang terusik karena tangis si kecil di malam hari, tetapi ketika sudah di kantor, meski mengantuk, Anda tentu tak bisa tidur siang.
 
Risiko menjadi ibu yang memiliki balita adalah tidak tidur malam ketika anak demam atau sakit. Tentu karena di usia ini anak masih sulit mengatasi rasa kurang nyaman pada tubuh, pusing, atau mual tanpa ditemani orang terdekat, terutama ibu. Bahkan pada batita, sakit menyebabkan si kecil tak bisa lepas putting atau ketika demam. Lagi pula orang tua memang harus mewaspadai panas tinggi pada balita. Karena beberapa anak tidak tahan demam tinggi.

Menurut survei tadi, ibu masa kini rata-rata hanya tidur 3,5 jam tanpa terputus oleh tangis bayi. Padahal generasi ibu-ibu kita bisa tidur dengan tenang rata-rata 5 jam, tanpa putus. Lalu obat kurang tidur?
Ya, tidur! Bagaimana jika yang kurang tidur adalah ibu yang bekerja di luar rumah dari pagi sampai sore?

Tentu kebutuhan tidur yang harus dipenuhi tak hanya berhubungan dengan aspek kuantitas saja, melainkan kualitas. Kebutuhan tidur secara kuantitatif orang dewasa rata-rata 7 – 8 jam per hari. Apabila di malam hari Anda hanya dapat tidur 3,5 sampai 5 jam tanpa terputus oleh tangis si kecil, cobalah “mencuri” waktu di sela-sela kegiatan Anda. Terutama di waktu istirahat. Cobalah Anda “charge baterai” Anda 15 menit saja di waktu istirahat dengan relaksasi sambil memejamkan mata.

Apabila perjalanan Anda dari rumah ke tempat kerja sekitar 1 jam dan Anda tak perlu menyupir, cobalah gunakan waktu ini untuk mengganti tidur sekitar 30 – 45 menit. Pun dalam perjalanan pulang. Cara lain adalah dengan efisiensi waktu, terutama selepas kerja. Apabila Anda biasanya masih punya waktu sekali – dua kali seminggu untuk minum teh di kafe atau melakukan hobi, kurangi dulu frekuensinya untuk sementara waktu.

Pergunakan kesempatan terbatas yang Anda miliki untuk istirahat. Syukur-syukur dapat memejamkan mata sejenak. Atau, Anda perlu evaluasi lagi buku agenda Anda, lalu atur waktu sedemikian rupa untuk menyisipkan waktu “istirahat 15 menit” ini agar kurang tidur yang Anda alami tidak lantas mendatangkan “bencana”. Sebab, kurang tidur sering kali menjadi penyebab masalah respon emosi yang negatif, menurunnya daya ingat dan kondisi tubuh, lho! (Foto/Dok.Femina Group)

 



Artikel Rekomendasi

post4

Mandiri Sebagai Single Parent

Para orangtua tunggal adalah individu yang melakukan tugas ganda, baik sebagai ayah dan ibu. Namun hidup tanpa pasangan tidak harus membuat hidup menjadi kelam. Anda pun bisa menjadi orangtua tunggal ... read more