Kalau Ayah Autis Mengasuh Anak, Tak Selalu Buruk

 

Foto: shutterstock

Ingat sewaktu bunda atau ayah masih kecil, bagaimana ayah mengasuh Anda? Simak kisah Hillary Hurst Bush, Ph.D., seorang psikolog klinis anak, ahli autism dari Massachusetts, tentang ayahnya yang menurutnya mungkin menyandang Asperger.
 
Ayah memiliki banyak gejala berkaitan dengan spektrum autis. Termasuk, lemah dalam hal berkomunikasi dengan orang lain, punya perilaku, minat dan aktivitas yang sama yang diulang-ulang. Misalnya dia melakukan rutinitas yang kaku selama berhari-hari dan berminggu-minggu.
 
Orang dengan spektrum autis sering mengalami kesulitan dengan memroses informasi seperti suara, cahaya, aroma dan tekstur. Dan saya mencurigai ayah saya mengalaminya. 
 
Tidak lama sebelum saya lulus sekolah, saya dan ayah nonton konser KISS.  Dia yang punya ide untuk nonton konser musik rock, tapi di saat yang sama dia tidak suka lampu dan suara bising. Akhirnya kami meninggalkan tempat konser hanya setengah jam setelah konser dimulai. Ini tidak mudah untuk menceritakan apa yang dirasa dan dipikirkan oleh ayah, dan saya tidak pernah sekalipun melihat ayah menangis. Saya juga tidak pernah dengar ayah bilang ‘aku sayang kamu’. Cara dia mengasuh dan apapun yang dia lakukan, tidak pernah membuat saya bertanya, apakah ayah menyayangi saya. 
 
Ayah saya adalah seorang ahli kimia. Sepanjang kariernya, dia tidak pernah akur dengan atasannya, sehingga dia bekerja sendiri. Ia menjomblo sangat lama, tetapi begitu bertemu cewek – ibu saya -  dia langsung terikat, menikah, punya anak dan menjadi ayah hanya dalam setahun. Setelahnya dia asyik dengan dirinya, balap kapal motor. Setiap akhir pekan saya nonton ayah balap kapal motor, dan selama berjam-jam setelahnya dia akan bahas terus soal balapannya. Tragis! Ayah saya meninggal dalam balap kapal motor. Saya sangat kangen ayah dengan segala keanehannya.
 
Berdasar pengalaman saya sebagai profesional, ada beberapa hal dalam spektrum autis yang menyebabkan pengasuhan menjadi unik dan menantang:
 

- Membesarkan anak melibatkan banyak tanggung jawab dan jadwal baru, pola dan rutinitas lama yang mungkin tidak lagi memungkinkan. Penyesuaian ini sulit bagi orang tua dengan spektrum autis.
 

- Membangun komunikasi dengan banyak relasi baru. Mengasuh dan membesarkan anak melibatkan interaksi dan membangun relasi dengan banyak orang baru, termasuk guru sekolah, dokter, teman anak dan orang tua mereka, dalam situasi yang tidak terstruktur seperti di taman. Mengelola interaksi dan merasa percaya diri dalam situasi seperti ini bisa sangat menantang orang tua dengan spektrum autis.
 

-
Pengalaman yang sangat sensoris. Beberapa aspek dalam pengasuhan anak sangat menuntut indra, termasuk mainan tertentu, makanan, bau, dan popok kotor. Apa yang "tidak menyenangkan" bagi orang yang tidak mengidap autisme bisa menjadi "tak tertahankan" atau bahkan menyakitkan secara fisik bagi orang yang mengidap autisme.
 
Terlepas dari tantangan itu, ada beberapa cara penting di mana spektrum autism dapat menjadi ‘aset’ untuk mengasuh anak.
 

- Terstruktur, rutinitas dan dapat diprediksi. Anak-anak harus diperlakukan dengan cara itu. Dan orang tua dengan spektrum autis dapat memberikan hal itu dengan baik.
- Paparan keanekaragaman saraf penginderaan dan penerimaan orang-orang. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa saudara kandung penyandang ASD mendapat manfaat dari hubungan unik ini, dan lebih banyak lagi yang diperlukan untuk mengetahui apakah hal ini juga berlaku untuk anak-anak dari penyandang ASD.
Ketika ayah masih hidup, ayah tidak pernah merasa perlu memeriksakan kesehatan mentalnya, untuk mencari tahu apakah ia menyandang autis. Atau, kalau pun pernah, ia mungkin tidak bercerita pada saya.
 
 
 Sebagai psikolog klinis, saya melihat pentingnya diagnosa yang tepat untuk memahami diri sendiri. Bagaimana juga, ayah saya lahir tahun 1930, ketika anak-anak dengan disabilitas dilembagakan. Ini akan memengaruhi pengambilan keputusannya.
 
Untungnya, pemahaman kita tentang spektrum autis terus berkembang pesat, tetapi kurangnya riset tentang autis pada orang dewasa, menunjukkan bahwa masih banyak hal yang harus kami lakukan sebagai psikolog.  
 
 
 Sebetulnya saya ragu menceritakan hal ini karena ayah sudah meninggal dan saya tidak dapat minta persetujuannya. Mungkin ada ahli yang bisa mengevaluasi dia dengan lebih obyektif dan tidak memutuskan dia dalam spektrum autis.
 
Ayah punya banyak kekuatan, dan kalau dia autis, My dad had many strengths, and if he were autistic,  maka pengalamannya tidak boleh dianggap khas atau mewakili orang tua dengan autis. Saya menceritakan ini karena ada orang tua autis dan kita perlu banyak belajar. 
 
 Beberapa orang tua dengan spektrum autis punya pasangan yang sama-sama ASD, tetapi ada juga yang tidak ASD. Ada yang membesarkan anak autis, ada yang tidak.
 
 Kadang-kadang diagnosis pada anak dengan ASD, merupakan awal untuk mengarahkan orang tua agar melakukan tes untuk dirinya. Cerita seperti ini harusnya diceritakan. Saya ingin menunjukkan bahwa betapa gembiranya orang tua dengan spektrum autis dalam mengasuh anak.
 

 

 



Artikel Rekomendasi