Kecanduan Medsos Picu Depresi

 


Simon Sinek - seorang penulis, konsultan marketing, dan motivator - dalam sesi wawancara dengan Tom Bilyeu pada program Inside Quest (IQ) mengatakan, saat seseorang "bermain" media sosial (medsos) dan handphone, otaknya menghasilkan hormon dopamin yang berperan memengaruhi emosi, gerakan, sensasi kesenangan, dan rasa sakit.

Dijelaskan Simon, dopamin adalah kimiawi organik yang sama yang dihasilkan otak ketika seseorang merokok, minum alkohol, dan berjudi. Dengan kata lain, dopamin dapat membuat kecanduan. 

"Ketika kita mendapat pesan atau 'likes' di medsos kita pasti merasa senang atau ada perasaan enak. Atau saat kita merasa kesepian, kita mengirim pesan ke beberapa teman dan menyapa mereka, atau  membuat status lalu segera mengecek siapa saja yang memberi respon dan berapa 'likes' yang kita dapat. Ketika orang tidak merespon, kita berpikir apakah ada yang salah, apakah orang tidak lagi menyukai kita." Jika Anda mengalami hal ini, kata Simon, bisa jadi Anda sudah kecanduan.

Di manapun bisa ditemukan larangan untuk merokok, minum alkohol, dan berjudi. Tapi, tidak ada larangan untuk menggunakan medsos dan HP. Itulah yang terjadi, generasi saat ini memiliki akses tanpa batas terhadap sesuatu yang bisa membuat kecanduan, dalam hal ini medsos dan HP.

Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi ini tidak tahu bagaimana cara membangun sebuah hubungan yang 'dalam'. Kebanyakan mereka memiliki persahabatan yang 'dangkal'. Mereka mengaku, tidak bisa berharap kepada temannya. Mereka bersenang-senang bersama temannya, tapi mereka cenderung meninggalkan temannya itu setelah menemukan teman yang lebih baik. "Mereka tidak mengerti hubungan yang dalam karena mereka memang tidak dilatih untuk itu," terang Simon.

Pernahkah Anda melihat dua orang atau lebih makan bersama, namun perhatian mereka masing-masing justru tertuju pada handphone-nya? Itu merupaka tanda bahwa mereka sudah bermasalah. 

"Fakta bahwa kita tidak bisa melepaskan HP adalah sebuah kecanduan. Sama halnya dengan kecanduan lain, itu bisa berdampak pada rusaknya hubungan, waktu dan uang yang terbuang sia-sia, dan membuat hidup kita semakin buruk."

Lebih buruknya mereka tidak punya mekanisme untuk beradaptasi dengan tekanan. Ketika mereka mendapat tekanan secara signifikan, mereka tidak akan pergi kepada seseorang melainkan pergi kepada device (perangkat), medsos, di mana ini hanya memberikan kelegaan sementara.

Simon mengatakan, sudah banyak bukti ilmiah yang menjelaskan bahwa orang yang terlalu sering menggunakan Facebook sangat rentan terhadap depresi. Kemungkinan paling buruk, seperti yang sudah kita lihat bersama,  angka bunuh diri meningkat, korban karena overdosis narkoba meningkat, banyak anak keluar dari sekolah karena depresi, dll.

Satu hal yang juga harus dipelajari generasi sekarang adalah kesabaran. Bahwa segala hal yang sangat berarti seperti cinta, pencapaian kerja, kebahagiaan, kasih dalam hidup, kepercayaan diri, dan keterampilan, semuanya membutuhkan waktu dan usaha untuk bisa dikuasai. Dan satu hal yang paling penting, Anda butuh orang lain untuk mendapatkannya. Jika Anda tidak memiliki hubungan yang baik  dengan siapapun, bagaimana Anda mendapatkan impian Anda itu.   

Dalam hal ini, kesalahan tidak pada  medsos atau perangkatnya. Yang perlu diperbaiki adalah memperbaiki cara penggunaannya.

Misalnya saat sedang menunggu rapat dimulai atau antrian dokter. Alih-alih, letakkan HP dan ajak orang di sekitar Anda mengobrol. Percaya,  ketika Anda tidak memegang HP, Anda akan benar-benar bisa menikmati apa yang ada di sekitar Anda. 

Di akhir wawancara Simon mengatakan, sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab memperbaiki masalah ini. "Dan untuk menolong generasi yang luar biasa, idealistik, dan fantastik ini, adalah dengan membangun kepercayaan diri mereka, belajar untuk sabar, belajar keterampilan bersosialisasi, dan menemukan keseimbangan antara hidup dan teknologi."

(Ester Sondang)

 



Artikel Rekomendasi