Orang Tua Kuat Menghasilkan Anak Tangguh

 

Foto: shutterstock


Katanya anak sekarang kurang tangguh. Mudah menyerah sebelum maksimal berjuang.
 
Kalau aku dewasa, dan punya anak, aku nggak mau anakku mengalami kesusahan kaya aku. Minta apa-apa ke orang tua, jawabnya ‘ntar bulan depan’. Atau, ‘gantian sama adikmu ya. Dia juga harus beli sepatu baru.’ Padahal kami 4 bersaudara. Kapan giliran saya kalau gitu?
 
Janji itu kerap terwujud ketika kita sudah menjadi orang tua. Kalau bisa, kebutuhan anak  jangan pernah ditunda. Orang tua kadang-kadang lupa, mana kebutuhan anak, mana keinginannya. Karena tak ingin anak hidup ‘kaya orang susah’, apapun permintaan dituruti.
 
Kita kerap lupa, bahwa cara orang tua kita menunda kebutuhan kita – apalagi keinginan – adalah cara mereka membuat kita tangguh. Membuat kita membangun daya juang – sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi berbagai rintangan dalam hidup.
 
Persoalan klasik
Mendidik anak menjadi tangguh adalah masalah klasik dari setiap generasi. Jerome Bruner, Psikolog asal Amerika, sejak tahun 1976 mengemukakan istilah scaffolding parenting. Mengasuh anak model scaffold. Kombinasi antara memberikan rasa aman sekaligus memberi tantangan untuk membuat anak menjadi tangguh. Jerome mendefinisikan tangguh sebagai kemampuan anak untuk beradaptasi dengan kondisi sulit. Anak memiliki ‘daya lenting’.
 
Anak ibarat sebuah bangunan yang belum jadi. Scaffold – orang tua - membuat struktur dan dukungan. Kalau ada salah satu bagian dari bangunan yang runtuh, scaffold segera menangkap dan membuat perbaikannya segera.
 
Irma Gustiana Andriani, psikolog dalam acara Instagram Live yang diadakan oleh Parenting Indonesia 10 Juni, menyebutkan ciri-ciri anak tangguh, yaitu:


- Memiliki kompetensi sosial yang baik.
- Ia memiliki regulasi emosi atau kemampuan mengendalikan emosi yang baik. Dapat menunda kepuasan. Ia mampu mengendalikan dorongan impulsive, dan dapat menganalisa masalahnya dengan baik.
- Memiliki kompetensi akademik dan non akademik yang baik.

 
Menurut Irma, ketangguhan anak dibentuk melalui personal journey masing-masing anak. “Daya juang atau daya lentingnya dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungan yang kondusif, membuat anak aktif, berani dan mencontohkan,” kata Irma.
 
Orang tua harus tangguh lebih dulu
Orang tua tangguh itu seperti apa? Dalam sebuah artikel yang dimuat di Greater Good Magazine, menyebut, orang tua yang tangguh adalah orang tua yang mampu mengatasi stress mengasuh anak dengan cara sehat, dan tetap bahagia dalam segala kondisi.
 
Orang tua yang tangguh adalah orang tua yang bisa mengendalikan emosinya, dan mampu memetakan masalah:

- Apakah ini macan betulan atau macan kertas? Masalah besar atau masalah sepele?
- Bagaimana harus merasakan masalah ini sekarang, besok dan minggu depan?
- Apakah kesulitan ini akan menetap atau hanya sementara.

 
Orang tua yang tangguh akan memberikan contoh ketangguhan itu pada anak, demikian pendapat Irma. Orang tua yang tangguh akan menjadi ‘raja tega’ untuk tidak selalu membantu anak saat menghadapi kesulitan.
 
Dalam bahasa Jerome, orang tua tangguh berperan menjadi scaffold dengan memberikan struktur, dukungan, dan dorongan. Ini semua akan memberikan landasan yang kuat bagi anak untuk berjuang, yaitu; rasa percaya diri, harga diri dan memiliki skill menyelesaikan masalah sendiri. Inilah peran Anda:
 

Memberikan struktur berupa rutinitas, gaya komunikasi, aturan rumah, cara berpikir – segala sesuatu yang bisa disebut sebagai ‘infrastruktur.’ Anak-anak yang memiliki rutinitas akan lebih merasa aman dan tahu apa yang akan terjadi. Infrastruktur itu juga berupa batasan dan konsekuensi bila batasan dilanggar. Struktur yang Anda bangun sejak anak masih kecil akan memberikan contoh tentang stabilitas, komponen penting menjadi orang dewasa.

 
Memberikan dukungan empati dan kesungguhan. “Buat apa sih nangis?” Meremehkan perasaan anak  bukan cara membuatnya tangguh. Memahami perasaannya dan memberi semangat bahwa ia dapat melalui kesulitan, itulah yang membuat anak akan kembali bangkit dari kegagalannya. Memberikan dukungan juga berarti ikut campur hanya saat dibutuhkan.
 
Memberi dorongan artinya memberikan dorongan dengan lembut pada anak untuk mau mencoba hal-hal baru dan berani menanggung risikonya. Ketika anak gagal, tanyakan ‘mengapa’ dan apa yang terjadi. Misalnya ketika anak jatuh dari sepeda, jangan langsung ditolong. Minta dia bangun, lalu tanya mengapa sampai jatuh. Membuat anak berdaya berarti memberinya pengetahuan yang benar dan salah, apa yang dapat dilakukan setelahnya. Kalau Anda tidak mendorong anak mengambil risiko, Anda mengajarnya takut dan bergantung. 

Imma Rachmani

 



Artikel Rekomendasi