Stimulasi Anak Berkebutuhan Khusus di Masa Pandemi

 

foto: freepik

Anggi (bukan nama sebenarnya) memamerkan hasil karyanya yang ikut dipamerkan di sekolahnya, sekolah anak berkebutuhan khusus. Hasil karyanya yang berupa pouch batik sangat luar biasa. Dijahit rapi dan layak dijual. Anggi – penyandang sindroma down ini merasa bangga karena pengunjung pameran memuji hasil karyanya.
 
Di sudut lain, Ray – juga ABK penyandang autism, sedang menjaga stand-nya. Di atas meja panjang dipajang sederet pohon cabai aneka jenis. Pohon cabai di dalam pot ukuran sedang tampak kokoh dan berbuah lebat. Sebagian cabai rawit berwarna merah dan hijau tampak menggiurkan. Ada cabai merah besar dan cabai merah keriting. Pengunjung pameran tak kuasa menahan diri untuk tidak membeli pohon itu. Banyak yang sudah ‘sold out.’
 
Itu dulu sebelum pandemi melanda seluruh dunia. Apa kabar sekolah ABK?
Sama seperti sekolah pada umumnya, sekolah khusus ABK juga dirumahkan. Semua anak belajar dari rumah. Lalu bagaimana orang tua memberinya kegiatan yang sama seperti di sekolah?
 
Apa tantangan orang tua dengan ABK selama masa pandemic?
 
Anak dengan cerebral palsy
Mereka memerlukan terapis untuk membantu melatih koordinasi dan perkembangan fisiknya. Ketika pusat-pusat terapi ditutup dan terapi dilakukan secara online, orang tua dapat membantu memaksimalkannya dengan latihan sendiri di rumah. Latihan otot tangan penting karena kesulitan anak dengan CP adalah memegang dan menggerakkan jari.

- Gunakan benda-benda seperti coklat warna warni, paper clip warna warni yang mudah dipegang. Minta anak memisahkan benda berdasarkan warnanya.
- Menempelkan stiker di buku untuk melatih otot jari telunjuk dan ibu jari menjumput.
- Sediakan lilin, minta anak mencabik-cabik lilin dengan jarinya.
- Bermain puzzle untuk mengembangkan otot halusnya.
- Olahraga atau peregangan untuk membantu anak menstimulasi otot kasarnya, yang akan mempermudah anak bergerak. Menari bersama, tangkap bola yang digelindingkan, dan yoga bersama.

 
Anak dengan sindroma down
“Selama pandemi ini Veda (3) nggak pernah libur. Fokus di terapi, Veda tetap menjalani terapi selama 7 jam seminggu. Terapi wicara 3 jam, fisio terapi 2 jam, sensori integrasi 2 jam. Kadang-kadang sampai 8 jam seminggu,” ujar Prima, ibu 2 anak.
 
Dengan tetap menjalani protokol kesehatan, para terapis yang memberikan terapi untuk Veda setuju memberikan terapi tatap muka. “Karena kalau sampai berhenti, efeknya bisa memundurkan kemampuan yang sudah dikuasainya,” ujar Prima.
 
Ibu lain, Yeni, melakukan apa yang sudah diajarkan di sekolah. “Anak saya suka memasak, ya saya siapkan bahan dan peralatan memasak.” Tetap melatih bicara dan mengajak anaknya berolah raga ringan dilakukan Yeni agar anak tidak mengalami kenaikan berat badan berlebih, dan tetap dapat berkomunikasi.
 
Menjaga kesehatan anak, kedua ibu sepakat tidak mengajak anak jalan-jalan ke tempat ramai. “Pergi hanya untuk terapi,” kata Prima. Sementara, Yeni berusaha memberi pemahaman pada anaknya bahwa jalan-jalan ke mal atau berenang di kolam renang umum sebaiknya tidak dilakukan supaya sehat.
 
Anak dengan autism
Menjaga kebersihan dan protokol kesehatan ketat dilakukan oleh para orang tua dengan anak menyandang autism. Tantangan orang tua dan guru sekolah sama beratnya. Mengajar anak penyandang autism dengan sekolah daring awalnya mungkin sulit. Tapi setelah berjalan bebarapa lama, guru merasakan hal positif dari metode pembelajaran ini. Seorang guru di Solo (dikutip dari republika.co.id) mengatakan bahwa orang tua jadi lebih perhatian pada anak, dan lebih proaktif.
 
Dari sisi orang tua, mereka menemukan cara efektif untuk berkomunikasi dengan anak mereka. Inilah tips yang disampaikan oleh Nani – ibu dari anak penyandang autism:

- Berkomunikasi dengan bahasa verbal dan visual secara rutin dan berulang-ulang.
- Terapkan kebiasaan baru dengan jadwal baru. Anak tetap harus mengikuti jadwal sekolah.
- Memantau terus kesehatan mental dan fisik anak.
- Berkolaborasi dan berkomunikasi rutin dengan guru atau sekolah.
- Memanfaatkan sumber daya yang ada di rumah.
- Libatkan anak dalam pekerjaan rumah seperti memberesi kamar, memasak, dan mencuci piring.

 
 

 



Artikel Rekomendasi