Ajarkan Anak Menghargai Keberagaman

 

shutterstock

Warna kulit, suku, dan agama, bukan hal penting bagi balita karena mereka belum paham.  Biarkan mereka tetap demikian, dan tumbuh dalam kerukunan.
 
Kematian George Floyd di Minneapolis, AS diduga akibat rasisme, tentu membuat kita sedih. Di mana pun di bumi ini, prasangka terhadap ras tertentu masih saja terjadi. Di Indonesia tak terkecuali. Di negara yang menjunjung tinggi kebhinekaan, prasangka ras, agama. dan suku masih sangat sulit dihapus. Pertikaian antar suku karena adu domba, pertikaian antar agama, masih lazim terjadi.
 
Di Amerika, anak-anak usia 3 tahun sudah mengenal perbedaan warna kulit. “Mereka tidak segan bertanya, karena perbedaan bagi mereka sangat penting. Identitas ras mereka merupakan bagian dari identitas diri secara keseluruhan.” Demikian penjelasan Caryn Park, pengajar di Antioch University di Seattle.  
 
Riset oleh Bevery Daniel Tatum, peneliti dan Kepala Spelman College, AS menyatakan bahwa di masyarakat Amerika, hirarki ras sudah disosialisasikan pada anak-anak usia prasekolah. Sejak bayi mereka sudah diajarkan mengenal identitas diri mereka yang berbeda dengan anak lain.
 
Berbeda itu keren
 
“Bunda, aku sedih. Tadi di sekolah mamanya Della tanya, kenapa aku lebih hitam daripada Dinda, padahal, kan, kita kakak adik.”
 
Mungkin hati Anda jadi sedih mendengar keluhan si kecil. Mengapa ada saja orang tua yang mulutnya usil memperkarakan perbedaan warna kulit antara kakak dan adik? Apa salahnya berbeda? Kan secara genetis juga beda. Ayahnya berkulit terang, ibunya berkulit gelap. Salahkah kalau anaknya ‘belang’?
 
Lebih buruk lagi bila anak Anda kena bully orang tua murid lain. “Eh, kamu anak pungut, ya? Kok, kamu item, adik kamu putih? Kamu dipungut di mana?”
 
Duh, Bunda, keisengan macam ini bisa membekaskan luka mendalam di hati anak. Konsep diri bahwa anak berkulit gelap itu nggak keren, tentu membuat anak kehilangan rasa percaya diri. Membekas dalam pikirannya bahwa berbeda itu salah dan menakutkan. Berkulit gelap itu salah.
 
Bila sudah demikian kondisinya, betapa sulit kita memberi pemahaman pada si kecil bahwa ia sama dicintainya dengan saudaranya. Anda harus bisa meyakinkan pada anak, bahwa  berbeda itu keren.  
 
Di usia balita, anak-anak Indonesia belum sadar perbedaan warna kulit, agama, dan suku – karena mereka tidak punya konsep tentang itu semua.  Di day care, anak-anak umumnya sama, berambut hitam dan berkulit sawo matang atau kuning.  Juga di PAUD, di playgroup, anak-anak bermain bersama tanpa menyadari perbedaan mereka.
 
Di Indonesia, dengan keberagaman agama, suku dan budaya, ras, wilayah, dan jenis kelamin, tema keberagaman penting untuk diajarkan. Bunda dan ayah, ajarkan anak untuk menjadi agen-agen perdamaian, bukan pemecah persatuan.
 
Menghargai keberagaman
Tema keberagaman adalah hal penting diajarkan kepada anak-anak kita sejak dini. Anak belum paham memang, tapi hal ini bisa menjadi usaha preventif bila anak kita mendapati lingkungan rumah dan sekolah tidak mendukung keberagaman. Ini caranya:
 
Gunakan bola dunia
Tunjukkan pada anak, bahwa di muka bumi ini terdapat banyak wilayah, dengan penduduknya yang beragam. Berhentilah di India, tunjukkan penduduk India lewat internet. Bagaimana perempuan India menghias dirinya. Kemudian berhenti di Indonesia, di pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Tunjukkan penduduk asli pulau, yang adalah keluarga kita, Indonesia.
 
Bacakan buku
Buku cerita rakyat berisi dongeng-dongeng dari berbagai suku di Indonesia yang dilengkapi lagu, dapat Anda dapatkan di toko buku online. Setiap kali Anda selesai bercerita, bunyikan lagu daerah tersebut.
 
Perdengarkan lagu anak-anak
Unduh di YouTube lagu-lagu anak daerah; Tokecang, Sajojo, Ondel-ondel, Ampar-ampar Pisang, dan lain-lain. Perdengarkan setiap hari, anak Anda akan paham bahwa lagu-lagu itu merupakan bagian dari hidupnya di negara Indonesia.
 
Berikan contoh nyata
Bunda dan ayah, anak Anda meniru persis perilaku dan perkataan Anda. Bila setiap hari anak Anda menerima santapan sikap intoleran, dalam waktu singkat ia pun menginternalisasi sikap itu.
 
“Jangan main sama anak yang agamanya beda, nanti kamu jadi seperti mereka.” Seringkali orang tua secara sadar membuat kotak-kotak, dengan siapa anak boleh bergaul. “Jangan main sama yang matanya sipit ya nak…” Anda menyampaikan pesan bahwa yang berbeda itu menakutkan.
 
Ajak anak melihat kebun bunga dan kebun binatang
Tunjukkan pada anak bahwa segala hal bisa berbeda. Bunga-bunga dengan berbagai warna dan bentuk, berbagai jenis binatang juga berbeda. Semua ada, perlu disayang  agar   hidup kita jadi baik.
 
Imma Rachmani

 

 



Artikel Rekomendasi