Begini Caranya Menghadapi Mimpi Buruk Anak

 

Fotosearch

Beberapa orang tua merasa was-was ketika si 2-3 tahun terbangun dan menangis ketika mengalami mimpi buruk. Karena mimpi buruk, kadang-kadang anak tak mau tidur lagi,  atau sulit  tidur lagi, atau bahkan  jadi takut tidur sendirian dan rasa takutnya terbawa sampai esok hari.
Mimpi adalah bunga tidur, namun dari sudut pandang psikologis, disebut juga mimpi merefleksikan perasaan atau alam bawah sadar. Mimpi juga bisa “memutar ulang”  apa yang dialami anak sebelum tidur atau pada siang harinya.  Ada beberapa penyebab anak bermimpi buruk. Sebaiknya Anda mengenal beberapa penyebab mimpi buruk,  teknik-teknik menenangkan anak, dan cara membantunya menyikapi mimpi buruk dengan wajar.

1.    Ketika anak mengigau dan menangis
Ketika Anda mendapati anak mengigau gelisah dalam tidur, dan kadang-kadang sampai pecah tangisnya -baik sesenggukan atau jeritan- yang dapat Anda lakukan adalah mengelus kepala atau badannya dengan lembut sambil menenangkan dengan membisikkan di telinganya “semuanya baik-baik saja”. Misalnya begini, “Sssh, tenang, Nak. .Bunda (atau ayah) di sini. Tidak apa-apa, kamu hanya mimpi”,  bisa juga sambil  mencium pipinya.  Tunggui anak sampai tenang, berhenti mengigau dan kembali tidur. Setelah itu Anda bisa meninggalkannya. Pada kasus anak terbangun, menangis, dan ingin tidur ditemani Anda, maka Anda bisa menemaninya tidur sambil memeluknya hingga ia lelap kembali.

2.    Tanyakan mimpinya
Jangan memaksakan anak untuk segera menceritakan mimpi buruknya. Jika pada saat mengigau dia tidak terbangun, tunggu hingga besok untuk bertanya. Tunggu ketika anak sedang dalam keadaan yang baik untuk diajak bicara. Tanyakan seperti mengobrol, dengarkan baik-baik sampai ceritanya selesai.  lalu beri penjelasan bahwa apa yang dialaminya tidak nyata, hanya mimpi. Tapi jangan remehkan ketakutannya –jika ada. Setelah membahas mimpi buruknya, Anda bisa menghiburnya dengan mengajak bermain, membacakan buku cerita yang lucu, atau melakukan kegiatan yang membuatnya lupa pada mimpi buruknya.

3.    Perhatikan tontonan anak
Penyebab anak mengalami mimpi buruk salah satunya adalah karena anak menonton tayangan yang memiliki unsur kekerasan, horror, atau sesuatu yang membuatnya takut, sehingga terbawa ke dalam mimpi. Orang tua perlu memerhatikan bahwa tidak hanya film yang mengandung kekerasan, bahasa kasar, dan seks yang harus dihindari anak, tetapi juga film yang temanya tidak mudah dipahami anak secara logika. Adalah tugas  orang tua untuk bersikap peka dan hati-hati ketika menonton bersama keluarga. Orang tua harus mengalah untuk memilih program acara yang sesuai dengan kebutuhan usia anak balita.

4.    Jaga rutinitas sebelum tidur
Karena terlalu banyak aktifitas pada malam hari, akhirnya anak over stimulated dan lelah menjelang jam tidur. Selain itu, jam tidur tidak teratur pun dapat membuat anak mengalami stres dan cemas terhadap sesuatu. Kelelahan, stres, dan kecemasan,  ketiganya dapat memicu mimpi buruk. Untuk itu, perhatikan rutinitas anak sebelum tidur agar ia siap berangkat ke alam mimpi dalam kondisi bersih, tenang dan nyaman. Caranya,  ajarkan dan biasakan anak membersihkan diri sebelum tidur seperti cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi dan ganti baju tidur. Ciptakan waktu tenang, isi dengan relaksasi, membacakan dongeng yang menyenangkan. dan berdoa. Bantulah ia melakukan rutinitas ini bersama-sama sampai terbiasa.  

5.    Perhatikan kamarnya
Kamar mustinya tempat paling nyaman untuk tidur. Buatlah kamar anak menjadi tempat paling nyaman bagi dirinya. Jangan ragu untuk bertanya pada anak apa yang dia suka atau tidak suka di dalam kamarnya, biarkan dia ikut mendesain atau memilih barang-barang di kamar. Tetapi, pastikan barang-barang itu taman dan masih membuat kamarnya terlihat bersih dan rapi. Jangan lupa, lampu kamar musti redup utuk membantu tidur. Jaga ventilasi kamar dan suhu kamar tetap nyaman –sekitar 22?C - 24? C.  Sediakan selimut, pastikan kamar bebas nyamuk dan jauhkan suara atau nyala TV.

6.    Apakah anak memiliki trauma?
Kejadian traumatik seperti sakit atau tumbuh gigi, mengalami bencana, kehilangan seseorang, pindah ke tempat baru, juga merupakan faktor yang dapat mengundang mimpi buruk. Mungkin anak belum bisa menerima hal tersebut sehingga menjadi sebuah pikiran yang membuatnya stres. Menurut Jodi Mindell, PhD penasihat Parents USA dan penulis buku Sleeping Through The Night: How Infants, Toddlers, and Their Parents Can Get a Good Night’s Sleep, jika mimpi buruk anak sudah sangat parah, sering dan mengganggu kualitas jam tidur  bahkan kehidupannya, maka perlu ada penanganan khusus oleh dokter. Kemungkinan dokter akan mereferensikan anak untuk berkonsultasi dengan spesialis tidur atau psikolog yang bisa membantu mengatasi mimpi buruk kronis.

(RIS/ERN)

 



Artikel Rekomendasi