Salah Makan dan Perilaku Ibu Hamil, Bikin Anak Stunting

 

Foto ilustrasi (Freepik)



Beberapa tahun belakangan ini, pemerintah banyak menggaungkan isu pencegahan stunting agar menjadi perhatian masyarakat. Tak sedikit kampanye yang dilakukan agar masyarakat melek terhadap dampak buruk stunting dan bersama-sama melakukan perbaikan supaya tidak ada lagi anak Indonesia yang mengalami stunting. 

Stunting bukan hanya tentang tubuh anak yang pendek. Tetapi stunting adalah gagal tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis secara akumulatif. Anak pendek belum tentu mengalami stunting. Namun pendek merupakan salah satu indikator stunting. Karena kekurangan gizi yang kronis, stunting dapat memengaruhi kualitas hidup anak hingga ia dewasa. 

Seperti dikatakan pakar nutrisi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes., dalam acara E-Media Workshop yang digelar Tanoto Foundation Selasa, 29 Juli 2020 di Jakarta. "Stunting bukan melulu soal tinggi badan yang tidak tercapai. Lebih jauh lagi, kondisi ini akan menentukan kualitas-kualitas anak di kemudian hari."

Rita menjelaskan, stunting berkembang selama 1000 Hari Pertama Kehidupan atau HPK. Ini artinya dimulai sejak bayi masih dalam kandungan. Kondisi ibu saat hamil, memengaruhi kecukupan gizi bayi dalam rahimnya yang kemudian berlanjut hingga bayi lahir sampai usia 2 tahun atau 24 bulan. 

Rita menyayangkan, banyak perilaku selama 1000 HPK yang meningkatkan kerentanan terjadinya stunting. Misalnya, masih banyak ibu hamil yang tidak paham soal stunting. Tak sedikit pula, ibu hamil yang tidak meyakini bahwa stunting bisa terjadi akibat pola makan yang salah, sehingga ia tidak melakukan pencegahan sejak awal. 

Sebagian ibu merasa bahwa kehamilan adalah kondisi biasa saja, jadi tidak memperbaiki pola makannya. “Sebagian lain menganggap bahwa makan saat hamil diperuntukkan bagi dua orang. Akibatnya, hanya porsi nasi yang ditambah, agar kenyang. Belum lagi mitos untuk menghindari daging merah, makanan laut, dan kacang-kacangan, yang akhirnya membuat ibu hamil kekurangan protein,” kata Rita.

Selain itu, menurut Rita, masih banyak ibu yang tidak melakukan Inisiasi Menyusu Dini atau IMD. Ada pula yang melakukan tetapi caranya salah. Bayi hanya diletakkan di area puting susu ibu, dan dianggap selesai. “Padahal yang kita inginkan, bayi bergerak sendiri dari perut ibu untuk mencari puting susu ibu,” terang Rita. Hambatan lain, ada persepsi bahwa ibu melahirkan pasti capek, sehingga bayi pisah kamar dengan ibu agar ibu bisa beristirahat.

Saat bayi berusia 0-6 bulan, tantangannya berbeda lagi. Masih banyak ibu yang tidak memberikan kolostrum atau ASI pertama, “Karena berwarna kuning sehingg dianggap kotor, lalu dibuang.” Sebagian ibu masih menganggap bahwa ASI adalah minuman dan bukan makanan, sehingga bayi harus diberi makanan lain agar kenyang. Banyak pula ibu yang tidak mengerti arti tangisan bayinya sendiri. “Tiap kali bayi menangis dianggap kelaparan. Begitu bayi menangis tapi ASI sudah habis, dianggapnya bayi masih lapar sehingga diberi makanan/minuman lain,” sesal Rita. 

Kendala lain, ibu sering tidak memiliki praktik menyusui yang baik, sehingga puting menjadi luka. Sebagian ibu tidak memahami tahapan pengeluaran ASI. Alhasil bayi hanya mendapat karbohidrat dan protein dari ASI tapi tidak mendapat lemak. Belum lagi, suami dan anggota keluarga lain tidak ikut terlibat dalam mengurus bayi sehingga ibu kecapekan sendiri.

Angka Stunting di Indonesia
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia mulai turun; dari 37 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen. Ini sejalan dengan SSGBI (Survei Status Gizi Balita Indonesia) 2019, yang menemukan angka stunting sebesar 27,7 persen. Meski 
angka stunting mulai turun, tetap saja berarti 3 dari 10 balita Indonesia menderita stunting. 

Buku yang diterbitkan oleh World Bank, Aiming High: Indonesia’s Ambitions to Reduce Stunting memaparkan, bila kita tidak melakukan apa-apa, hingga tahun 2022, Indonesia masih akan berkutat dengan angka stunting di kisaran 28 persen. 

Namun dengan strategi yang baik, angka stunting bisa ditekan hingga kurang dari 22 persen pada 2022. Perlu upaya keras agar target pemerintah menurunkan angka stunting kurang dari 20 persen pada 2024 bisa tercapai.

Tanoto Foundation sebagai lembaga filantropi independen yang bergerak di bidang pendidikan, memiliki misi agar semua anak mampu mencapai potensi belajar yang maksimal, sesuai tahap perkembangannya, dan siap sekolah. 

Hal tersebut meliputi pengurangan stunting, peningkatan kualitas pengasuhan anak usia 0-3 tahun, serta peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini. Semua pelayanan ini disalurkan melalui lingkungan belajar di rumah, pusat layanan anak usia dini (misalnya Posyandu dan PAUD), serta komunitas desa dan pemerintah desa.

Sejauh ini, Tanoto Foundation memiliki program intervensi stunting di Riau (Rokan Hulu), Sumatera Barat (Pasaman dan Pasaman Barat), Banten (Pandeglang), Jawa Barat (Garut), Kalimantan Selatan (Hulu Sungai Utara), Kalimantan TImur (Kutai Kartanegara), NTB (Lompok Utara dan Lombok Barat), NTT (Alor, Simot Tengah Selatan), Sulawesi Barat (Majene), dan Maluku (Seram Barat).

ALI

 

 



Artikel Rekomendasi