Sukses Hamil Dengan Diabetes

 

Saat ini saya (25) sedang hamil 30 minggu bulan, anak pertama. Sejak usia kehamilan 5 bulan, saya didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Normalnya, kadar gula darah saat puasa adalah 100, sedangkan kadar gula darah saya 135, dan setelah selang 2 jam kemudian, gula darah saya 242! Padahal seharusnya angka normal adalah 140. Dokter kemudian memberikan saya terapi dengan suntikan insulin setiap hari sebanyak 3 kali sampai saat persalinan tiba. Untuk menjaga kadar gula darah, saya mengurangi konsumsi semua makanan yang mengandung karbohidrat, terutama nasi, mi dan roti, serta minuman yang manis –termasuk makanan yang digoreng. Sayuran dan buah yang saya konsumsi juga terbatas, yaitu yang tidak mengandung kadar gula tinggi, seperti apel, tomat, advokad dan timun.

Kata Dokter:
Diabetes mellitus tipe 2 atau diabetes gestasional yang muncul ketika terjadi proses kehamilan cukup banyak dialami oleh ibu hamil. Di Indonesia, kasusnya lebih dari 3%, karena masyarakat kita termasuk konsumen karbohidrat tinggi dalam bentuk nasi –yang menjadi makanan pokok. Diabetes jenis ini dipicu oleh perubahan metabolisme tubuh dan kadar hormon di dalam tubuh ibu yang terjadi karena ada proses kehamilan. Ibu hamil dengan diabetes bayinya cenderung berukuran besar  walaupun usia kehamilan belum cukup, sehingga berisiko harus dilahirkan lebih awal padahal organ-organ tubuhnya belum cukup matang.

Untuk memantau kadar gula darah selama masa kehamilan, ibu hamil harus melakukan pemeriksaan screening secara rutin. Yang perlu dilakukan agar kadar gula darah tetap normal adalah dengan terapi insulin suntikan, menjaga pola makan rendah gula, dan berolahraga ringan secara teratur sesuai anjuran dokter. Selama masa kehamilan, dokter akan terus memantau perkembangan janin secara rutin. Setelah bayi lahir, kadar gula darahnya akan dievaluasi untuk melihat kemampuan tubuh bayi dalam mengatur kadar gula darahnya sendiri tanpa bantuan insulin dari ibunya. Begitu juga sang ibu akan dipantau terus sampai 3 bulan setelah persalinan.

Dr. dr. Ali Sungkar, SpOGK

 

Artikel Rekomendasi