7 Penyebab Balita Picky Eater

 

Dalam menghadapai balita picky eater, Orangtua juga perlu mengoreksi diri dengan memahami terlebih dahulu prinsip-prinsip dasar pemenuhan gizi, pola makan dan psikologi anak. Dan apakah pola dan suasana makan yang benar sudah dibangun dengan baik. Cermati 7 penyebab balita picky eater berikut ini.
  1. Mengidap penyakit organik. Balita mengalami gangguan di sejumlah organ tubuhnya. Seperti, gigi berlubang, sariawan, demam, sakit perut, dan yang lainnya. Cek kondisi fisik anak untuk mendeteksi sesuatu yang tidak beres.
  2. Ego Orangtua. Kasus picky eater juga dapat dicetus oleh cara pandang dan perilaku orangtua yang keliru soal makan.
    • Orangtua memaksa anaknya makan dalam jumlah banyak dan tidak boleh bersisa -tidak peduli anak sudah kenyang.
    • Orangtua terlalu dini memberlakukan aturan makan dengan rapi,tenang dan harus duduk manis. Itu membuat suasana makan menjadi tegangdan tidak nyaman bagi anak.
    • Orangtua marah dan memaksa anak untuk makan, akibatnya anak mengasosiasikan acara makan sebagai "hukuman.
    • Sikap yang keliru itu membuat suasana makan yang menyenangkan tidak terbangun, akibatnya sangat mengganggu kelancaran pemberian makan pada balita
  3. Anak Terlalu Aktif. Kasus ini juga banyak terjadi, yaitu anak "lupa" atau tidak tertarik makan karena ia lebih senang bermain dan aktif bergerak. Para ahli menyebut anak semacam itu sebagai infantile anorexia atau jenis anak yang tampaknya tidak pernah lapar. Kasus itu banyak terjadi selama masa transisi, dari masa disuapi ke masa anak makan sendiri, yakni di usia 6 bulan sampai 3 tahun.
  4. Mengalami masalah psikologis. Gangguan psikologis bisa mengganggu proses makan balita. Penyebab masalah psikologis di antaranya, suasana rumah yang tegang, pengasuhan orangtua yang keras, kurangnya perhatian dan kasih sayang orangtua baik kualitas maupun kuantitas, atau hubungan kedua orangtua tidak harmonis dan terasa oleh anak.
  5. Gangguan Sensori. Adanya gangguan sensori dapat membuat anak tidak mau makan dan secara konsisten menolak makan disebabkan oleh faktor-faktor rasa, tekstur, bau dan penampilan makanan. Anak pun menjadi cemas jika diminta untuk mengonsumsi makanan yang tidak disukainya. Ciri anak yang mengalami gangguan sensoris; tidak suka mendengar suara berisik, langsung bereaksi bila telapak kakinya menginjak rumput atau pasir, cemas jika diminta menyantap makanan yang tidak disukai.
  6. Sakit Kolik. Kolik sering terjadi pada bayi berusia 2-4 minggu dengan gejala menangis berkepanjangan, menekuk lutut ke arah perut, bayi terlihat kesal, rewel dan kesakitan. Penyebab kolik hingga kini belum diketahui dengan pasti, namun kolik dapat menjadi masalah bila membuat anak jadi sulit ditenangkan dan tidak mau menyusu atau makan.     
  7. Takut Makan. Cirinya, anak menolak sambil menangis keras saat diberi makan. Gangguan itu disebut post-traumatic feeding disorder, terjadi akibat pengalaman masa lalu yang membuat dia trauma  makan, misalnya pernah tersedak, pernah dicekoki, pernah muntah saat makan dan lainnya.
Baca juga:
10 Taktik Jitu Atasi Balita Picky Eater
Mengetahui dan Menghadapi Balita Picky Eater






 



Artikel Rekomendasi

post4

Makanan Tepat Untuk Anak Autisme

Banyak peneliti menyatakan makanan mengandung gluten dan kasein memicu sikap agresif, dan tidak baik untuk anak autis. Saatnya merevisi menu makan untuk anak autis?... read more