Ini Beda Mimpi Buruk Vs Teror Malam yang Dialami Balita

 


Foto: Unsplash/Caleb Woods
 

Sama seperti orang dewasa, balita pun dapat mengalami mimpi buruk pada malam hari. Tiba-tiba si kecil terbangun sambil berteriak keras lalu menangis di tengah malam atau justru berlari ke kamar orangtuanya untuk mencari ‘perlindungan’. Menghadapi hal ini Bunda dan Ayah tidak perlu khawatir karena balita sedang belajar memproses emosi dan informasi. Namun, Anda harus bisa membedakan antara mimpi buruk dan teror malam agar penanganannya tepat sasaran.
 
Apa itu mimpi buruk balita?
Pada balita mimpi buruk juga tidak menyenangkan dan terasa nyata sehingga membuatnya terbangun. Si kecil akan mengingat mimpi tersebut dan ketika sudah bisa bicara biasanya ia ingin berbagi atau mendiskusikan mimpinya kepada Anda. Mimpi buruk kadang membuat anak-anak sulit untuk kembali tidur lelap.
 
Tidak ada jam pasti kapan mimpi buruk muncul di malam hari, tetapi umumnya terjadi ketika balita dalam tahap tidur ringan atau tidur REM (rapid eye movement) yaitu menjelang dini hari. Ciri tidur pada tahap ini bola mata bergerak cepat dan acak di bawak kelopak mata, napas tidak teratur, serta tubuh cenderung tegang. Menurut National Sleep Foundation yang dilansir oleh www.whattoexpect.com, mimpi buruk adalah hal yang normal karena 25% anak usia 5-12 tahun mengalami mimpi buruk.
 
Apa itu teror malam balita?
Berbeda dari mimpi dan mimpi buruk, teror malam tidak ada hubungannya dengan citra visual yang dilihat si kecil saat tidur. Saat mengalami teror ini mata si kecil bisa saja terbuka lebar, berteriak-teriak, gelisah, berkeringat, bahkan berjalan dalam tidur padahal ia masih dalam kondisi tidur. Si kecil mungkin mencari orangtuanya, tetapi tidak bisa merasakan kehadiran Anda dan sulit untuk ditenangkan. Tidak seperti mimpi buruk, si kecil tidak menyadari teror yang dialaminya sewaktu bangun.
 
Teror malam umumnya terjadi beberapa jam pertama setelah balita memasuki tahap tidur lelap atau tidur non-REM yang ditandai oleh tubuh berbaring tenang, tarikan napas teratur, dan sulit dibangunkan. Teror berlangsung selama 45 menit—meski umumnya lebih singkat—dan dapat terjadi lebih dari satu kali dalam semalam.  
 
Bagaimana membedakan mimpi buruk vs teror malam?
Mimpi buruk dan teror malam terjadi pada anak-anak untuk pertama kalinya di usia 2 tahun. Frekuensinya akan semakin sering ketika ia berusia antara 3 – 6 tahun. Seorang anak yang mengalami mimpi buruk biasanya terlihat gelisah dalam tidurnya. Namun kondisi panik, jeritan, dan tangisannya baru muncul ketika si kecil sudah terbangun dan benar-benar sadar. Ketika didekati, si kecil cenderung mendekap erat tubuh orangtuanya karena masih bisa mengingat mimpi itu dengan jelas. Ia akan berusaha menceritakan mimpinya supaya Anda dapat meyakinkannya bahwa kejadian dalam mimpi tadi tidak nyata.
 
Jika melihat si kecil mengalami teror malam, ia tidak akan menanggapi kehadiran Anda karena sebenarnya masih tidur nyenyak. Begitu terbangun ia pun tidak akan dapat mengingat kejadian apa yang mengganggu tidurnya di malam hari.
 
Apa penyebab mimpi buruk dan teror malam?
Sangat dimaklumi bila anak-anak kesulitan untuk memisahkan antara kenyataan dan khayalan. Hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, terutama perubahan rutinitas, dapat membuat stres dan cemas hingga memunculkan mimpi buruk maupun teror di malam hari. Misalnya melihat laba-laba yang besar, mendapat guru baru, bertengkar dengan teman sebayanya, kurang tidur, sakit demam, hingga pengaruh obat.
 
Mimpi buruk terjadi karena si kecil berusaha memproses informasi baru yang dia dapat setiap harinya. Aneka gambar dan suara terus direkam dalam memori otak saat beraktivitas di siang hari, sementara tanpa sadar mereka memanggil memori tersebut di dalam malam hari. Siklus tidur yang lebih panjang dibanding saat bayi ternyata memberi kesempatan mimpi buruk muncul di malam hari. Sementara pada teror malam kadang dipengaruhi oleh sejarah keluarga.
 
Apa yang bisa dilakukan?
Bunda dan Ayah harus sabar dan tenang dalam menghadapi anak yang mimpi buruk atau mengalami teror malam. Dengarkan ceritanya dan temani hingga ia kembali tertidur lelap. Menurut Kim West, LSCW, terapis anak dan keluarga sekaligus pengarang buku “Good Night, Sleep Tight”, orangtua tidak boleh mempermalukan, menggoda, atau mengancam anak terkait mimpi buruk atau teror malam yang dialaminya karena justru akan memperburuk kondisi si kecil.


PRIMA SOERATNO

Baca juga:
Mengganti Tempat Tidur Balita
Agar Bayi Tidur Lelap
Begini Caranya Menghadapi Mimpi Buruk Anak



 

 

Artikel Rekomendasi