Top 3 Penyebab Anak Stres, di antaranya dari Orang Tua

 

Foto ilustrasi anak mengalami stres. (Freepik)


Selama kurang lebih tujuh bulan kita berjuang menghadapi pandemi Covid-19, jika ditanya kabar kesehatan mental, umumnya semua orang berada pada kondisi yang relatif sama. Kita semua sedang survive, sedang berusaha untuk bertahan hidup dan menjalani hari demi hari dengan pikiran dan perilaku yang positif. 

Namun tak dimungkiri bahwa pandemi Covid-19 menimbulkan berbagai isu yang mengakibatkan kesehatan mental menjadi cukup terganggu. Contoh yang paling mudah adalah isu terkait keuangan, pekerjaan, dan pendidikan anak. Masalah-masalah tersebut menyebabkan tak sedikit orang dewasa maupun anak-anak mengalami stres di masa pandemi ini. 

Ya, stres bukan hanya dialami oleh orang dewasa. Anak-anak pun bisa merasakan stres. Bedanya, jika orang dewasa merasakan stres, mereka mampu mengungkapkannya hingga mencari jalan keluar. Sedangkan anak-anak, mereka belum dapat mengomunikasikan perasaan-perasaan negatif yang menimpa kondisi kejiwaannya. Di sinilah diperlukan kepekaan dari orang tua untuk mendeteksi apakah anak sedang mengalami stres. 

Seperti dikatakan psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga, Roslina Verauli di acara Instagram Live Parenting Indonesia, Kamis 8 Oktober 2020: 

"Perwujudan stres pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Orang dewasa mampu mengungkapkan, mampu mengomunikasikan, anak-anak enggak. Anak-anak enggak ngeh saat mereka punya masalah, mereka enggak ngeh punya problem. Yang bisa mereka lakukan adalah hanya merespons apa yang mereka alami. Orang tualah yang harus peka, ada tidak, ya, perubahan perilaku yang terjadi pada anak?" ungkap ibu dua anak yang akrab disapa Mbak Vera itu.

Baca juga: 4 Tanda Anak Mengalami Stres Menurut Psikolog Roslina Verauli

Stres yang dirasakan anak, menurut Verauli, kebanyakan disebabkan oleh tiga hal. Ketiga hal ini merupakan pencetus stres tertinggi pada anak, meski bisa jadi ada juga isu-isu lainnya.

 


"Ternyata yang paling banyak bikin stres adalah harapan orang tua. Tolong dicamkan, ya. Ini top 3 yang paling banyak bikin anak tertekan. Yang pertama harapan atau ekspektasi dari orang tua, masalah-masalah yang terkait dengan sekolah. Itu yang paling bikin stres. Hati-hati, lho," kata Vera.

"Yang kedua terpapar oleh masalah-masalah keluarga atau orang tua. Jadi hati-hati kalau Mama Papa sedang bertengkar, boleh enggak tidak di depan anak?" ungkap Vera melanjutkan. 

Apabila orang tua punya masalah, Vera menyarankan, sebisa mungkin batasi paparan masalahnya kepada anak. Karena bagi anak, begitu dia tahu orang tuanya memiliki masalah, misalnya isu finansial, konflik dengan keluarga besar, dan sebagainya, dapat menyebabkan anak menjadi tertekan. Dengan tidak menunjukkan masalah orang tua kepada anak, sebenarnya itu secara tidak langsung adalah upaya untuk membuat anak tetap merasa aman dan terlindungi. 

"Karena sebenarnya anak-anak ini kan tidak punya daya, mereka tidak punya power untuk bisa memisahkan dirinya dengan masalah yang ada di keluarga, ini yang berat. Kalau orang dewasa kan bisa memisahkan diri kita, kalau anak tidak," ujar Vera.

Meski demikian, Vera tidak mengesampingkan tekanan-tekanan yang juga dirasakan oleh orang tua, yang bisa jadi berkontribusi terhadap munculnya perilaku negatif orang tua kepada anak. Orang tua pun mengalami stres, sehingga lepas kendali dalam mengelola emosi dan perilaku, sehingga anak terkena imbasnya. 

"Orang tuanya juga stres, enggak sengaja karena tekanan-tekanan dari luar sehingga mebuat orang tua menampilkan kekerasan pada anak. Ada juga masalah finansial yang membuat keluarga menjadi gonjang ganjing. Jadi bukan hanya orang dewasa yang kena, anak-anak juga. Anda sadari atau tidak?" kata Vera.

Adapun poin ketiga yang sering menyebabkan anak stres, yaitu perkembangan teknologi dan mengubah kehidupan menjadi sedemikian cepatnya. 

"Satu lagi kalau kita bisa lihat ada tekanan di kehidupan modern seperti sekarang, dengan hadirnya teknologi itu juga bisa bikin anak tertekan. Karena kehidupan ternyata berkembang begitu cepat untuk anak, jadi menyebabkan kehidupan anak juga penuh tekanan," kata Vera.

Saksikan video wawancara selengkapnya dengan Roslina Verauli di IGTV Parenting Indonesia atau klik link ini.

ALI

 



Artikel Rekomendasi