10 Mitos Seputar Keguguran

 

Berikut ini mitos dan fakta mengenai keguguran.
 

MITOS: Ibu yang pernah keguguran, pasti akan keguguran lagi pada kehamilan berikutnya

FAKTA: Belum tentu. Menurut Dr Ida Syarifah Fitriyani, SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan di RSIA Hermina, Bogor, besarnya risiko keguguran tergantung penyebabnya. Sebetulnya, setiap kehamilan berisiko mengalami keguguran pada ibu yang belum pernah maupun sudah pernah mengalaminya. Risiko keguguran kedua kali sama besarnya dengan keguguran pertama kali. Namun, risiko keguguran ketiga akan lebih besar, karena mungkin ada kelainan pada rahim. Meskipun begitu, Anda yang pernah 5 kali keguguran pun tetap punya kesempatan melahirkan bayi sehat.
 


MITOS: Olahraga dapat menyebabkan keguguran

FAKTA: Bila dilakukan sesuai anjuran dokter, olahraga tidak akan menyebabkan keguguran, justru membantu menjaga tubuh ibu hamil tetap sehat dan bugar. Tetapi ini tidak berlaku bagi kehamilan berisiko. Jenis olahraga yang disarankan bagi ibu hamil yang sehat adalah jalan kaki, renang, yoga, dan pilates. Untuk ibu hamil yang tidak pernah berolahraga sebelumnya dapat memulainya dengan jenis olahraga ringan dan dilakukan secara perlahan. Mulailah secara rutin setiap minggu selama 5 menit, kemudian pada minggu berikutnya ditambah 5 menit. Olahraga akan lebih mudah, aman, dan nyaman dilakukan mulai usia kehamilan 24 minggu.
 


MITOS:  Perdarahan dan kram pada perut adalah tanda keguguran

FAKTA: Perdarahan ringan atau kram pada minggu-minggu pertama kehamilan dialami oleh 1 dari 5 ibu hamil. Ini tergolong normal. Penyebabnya antara lain terjadi pelekatan sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim, saat plasenta tertanam dalam lapisan rahim. Jika kram dirasakan di dasar rahim biasanya tidak membahayakan. Tapi bila kram terjadi di bagian samping perut, Anda harus lebih waspada karena bisa menjadi tanda terjadinya kehamilan di saluran indung telur atau hamil ektopik.
 


MITOS: Setiap penyakit yang diderita ibu hamil akan meningkatkan risiko keguguran

FAKTA: Infeksi ringan seperti pilek, tidak membahayakan kehamilan. Sebaliknya, infeksi berat pada beberapa kasus dapat menyebabkan keguguran, tapi tergantung pada usia kehamilan, jenis penyakit, dan tingkat keparahannya. Beberapa jenis infeksi dapat membahayakan janin yang masih berusia 1 minggu, tetapi untuk kehamilan berusia 28-32 minggu tidak akan berpengaruh, contohnya infeksi toksoplasma.
 


MITOS:  Ibu hamil yang ketakutan, akan ‘menyakiti’ janinnya dan meningkatkan risiko keguguran

FAKTA: Ketakutan berlebihan akan memicu stres dan menghambat perkembangan janin. Hindari kecemasan berlebihan dengan menambah informasi seputar kehamilan dari buku atau bertanya pada orang yang sudah berpengalaman dan dokter kandungan. Alihkan pikiran dan perhatian pada kehamilan saat ini, bukan kepada hal-hal yang ditakutkan kelak. Mulailah selalu berpikir positif sehingga yang terjadi adalah hal-hal baik dan positif. Sebab, apa yang Anda pikirkan, itulah yang akan terjadi.
 


MITOS: Bayi yang mengalami keguguran ‘tahu’ kalau dia tidak diinginkan

FAKTA Janin dapat merasakan dan mengetahui perasaan ibunya melalui hormon-hormon di dalam tubuh ibu, misalnya rasa marah memicu pelepasan hormon adrenalin. Hormon-hormon ini diteruskan plasenta ke janin dalam hitungan detik saat ibu merasakan emosi tertentu. Rasa marah ibu yang berkepanjangan tidak menyebabkan keguguran, tapi dapat mengakibatkan janin lahir dengan berat badan rendah, kolik pada bayi, atau sulit belajar di kemudian hari.
 


MITOS: Keguguran terjadi karena selama hamil ibu mengalami stres

FAKTA Ketika ibu hamil stres, tubuhnya menghasilkan hormon kortisol berlebihan sehingga menembus plasenta dan mengganggu perkembangan otak janin. Stres juga meningkatkan risiko preeclampsia. Gejala stres pada ibu hamil di antaranya mudah marah, mudah menangis, dan merasa tidak bisa mengatasi masalah. Atasi dengan mencari tahu sebabnya dan membicarakannya dengan orang yang tepat, istirahat, atau relaksasi.
 


MITOS: Setelah aborsi, maka keguguran akan terjadi lebih sering

FAKTA: Tindakan aborsi tidak akan memengaruhi kehamilan selanjutnya. Jangka waktu ibu dapat hamil kembali tergantung pada kesiapan dan kesehatannya.
 


MITOS: Aktivitas seksual selama hamil akan menyebabkan keguguran

FAKTA: Tidak, selama ibu dan janin tidak bermasalah. Jika ibu mengalami perdarahan atau flek di trimester pertama kehamilan, sebaiknya hubungan seksual dilakukan di trimester ke-2. Untuk lebih aman, lakukan konsultasi dengan dokter spesial obgin bila kehamilan ibu berisiko.
 


MITOS: Mengangkat benda yang berat dapat menyebabkan keguguran

FAKTA: Keguguran lebih banyak disebabkan oleh kelainan pada janin atau rahim, infeksi janin, serta penyakit berat yang diderita ibu. Benturan yang keras memang dapat menyebabkan keguguran, tapi menggendong atau mengangkat benda berat tidak menyebabkan benturan pada janin, melainkan janin akan tertekan dengan keras. Mengangkat beban berat di trimester ke-2 atau ke-3 dapat membuat ibu hamil mudah jatuh. Keadaan ini dapat menyebabkan risiko bayi lahir prematur atau plasenta terlepas dari tempat pelekatannya. (ES)
 

*KEGUGURAN adalah keluarnya janin sebelum usia kehamilan 20 minggu atau berat bayi kurang dari 500 gram dan dapat menyebabkan kematian. Lebih dari usia 20 minggu atau berat bayi lebih dari 500 gram disebut kematian janin.


Direvisi 05/5/22

Baca juga:
- Keguguran Akibatkan PTSD
- Mengatasi Rasa Sedih Pascakeguguran
- Risiko Keguguran Akibat Penipisan Mulut Rahim

 



Artikel Rekomendasi