Fast Food Versus Slow Food

Fast Food Versus Slow Food Ayahbunda.co.id
Image by : Dokumentasi Ayahbunda
Bagi sebagian ibu bekerja, fast food terkadang jadi solusi bila tak sempat menyiapkan makan untuk keluarga. Hati-hati, terlalu sering memberikan hidangan cepat saji, tak baik untuk keluarga, terutama untuk anak. Sesekali, boleh saja. Untuk makanan rekreasi. Tapi bukan sebagai hidangan sehari-hari.

Beda waktu pengolahan. Fast food adalah istilah untuk makanan yang penyajiannya memakan waktu singkat, yang dikonsumsi secara instan. Cirinya, kandungan gizi fast food biasanya tidak seimbang. Kebanyakan mengandung kalori tinggi tetapi sangat rendah serat. Juga, tinggi kandungan lemak, gula, dan garam," demikian ungkap Prof. Dr. Ali Khomsan, Ketua Pasca Sarjana Ilmu Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor.

Sedangkan slow food adalah makananan yang butuh waktu lama untuk pengolahannya. Biasanya berupa makanan tradisional, seperti rendang, ayam ungkep, sop buntut, nasi uduk dan lain-lain. Untuk kandungan gizi, biasanya bisa lebih bervariasi, tergantung bahan pembuatan. Apabila ditambahkan dengan sayur-mayur kandungan serat akan cukup tinggi.

Menurut, Ali Khomsan, baik fast food maupun slow food sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, "Fast food unggul dalam kemudahan mengelola higiene atau kebersihan. Karena pengolahan dan penyajiannya yang cepat, fast food cukup higienis. Sebaliknya, slow food berisiko lebih besar terkontaminasi dibandingkan fast food, terutama pada proses pembuatannya".Tentu ini bisa diatasi dengan membuat slow food sendiri ketimbang membeli yang sudah matang.    

Risiko konsumsi fast food berlebihan.
Oleh karena fast food tidak memenuhi kriteria gizi seimbang: kandungan kalori sangat tinggi, terutama dalam bentuk karbohidrat, lemak dan
protein. Akibatnya, konsumsi yang tinggi akan menyebabkan risiko obesitas semakin tinggi. Dalam jangka panjang obesitas bisa memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti diabetes dan jantung koroner. Selain itu kadar garam yang tinggi bisa memicu hipertensi (darah tinggi).

Trik menyeimbangkan. Ada beberapa cara menyeimbangkan asupan gizi balita yang gemar makanan fast food. Apabila Anda dan balita sudah makan siang nasi plus nugget ayam, di rumah Anda bisa menyediakan sayur bayam atau sup sayuran, tahu-tempe dan jus buah. Usaha menyeimbangkan harus benar-benar dilakukan orang tua masa kini. Sebab, dengan cara inilah Anda bisa mencegah terjadinya risiko akibat terlalu banyak makan fast food atau gizi balita jadi tidak seimbang.

Amati juga selera balita Anda.
Jika ia kurang begitu suka makan buah potong berilah pilihan jus buah, yogurt dengan potongan buah atau puding buah. Sajikan makanan dalam bentuk yang menarik dan dengan komposisi warna yang juga menarik.   

Tak perlu dihindari, batasi saja.
Menurut para pakar, anak-anak masa kini memang tak bisa dihindarkan dari fast food. Anda tak perlu panik atau paranoid sampai menyingkirkan fast food sama sekali dari menu si balita. Paling tidak, balita masih boleh makan fast food satu-dua kali bulan.
 



Komentar

200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti kami telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
 
Kirim ke Teman
Nama
Email

Pesan
200 karakter tersedia
* Jika Anda telah login, maka email akan terkirim dengan nama Anda

>  5 Tanda Autistik   89497   
>  Dana Pribadi Ibu Bekerja   30418   
>  Mengasuh Anak Autis   21632   
>  Kriteria Pengasuh yang Baik   18308